
sergap.id, MBAY – Sebanyak 1.500 guru dan tenaga kependidikan di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti Pelatihan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk memulihkan kondisi psikologis pascagempa Flores. Kegiatan yang diselenggarakan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi NTT, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, ini bertujuan membekali para pendidik dengan kemampuan mengelola stres, memulihkan trauma, menstabilkan emosi, serta memberikan dukungan psikologis awal kepada peserta didik.
Pelatihan tersebut dilaksanakan dalam dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung pada 29–31 Oktober 2026, sedangkan gelombang kedua pada 2–4 November 2026.
Koordinator Pelatihan LDP Provinsi NTT, Nofriadi Umbu Daniel, mengatakan sekitar 1.500 peserta yang terlibat berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA).
Hal itu disampaikannya saat ditemui di SMPN 1 Aesesa, Rabu (4/11/2026).
Menurut Nofriadi, pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dalam menghadapi dampak psikologis bencana, baik yang dialami oleh tenaga pendidik maupun peserta didik.
“Pelatihan ini bertujuan membekali guru dengan keterampilan penguatan mental, manajemen stres, pemulihan trauma, stabilisasi emosi, serta asesmen psikologis dan pemberian dukungan awal bagi peserta didik pascagempa,” jelas Nofriadi.
Dalam pelaksanaannya, BGTK Provinsi NTT menggandeng sejumlah mitra pembangunan dan lembaga profesional, antara lain Save the Children, akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Muhammadiyah, serta Himpunan Psikologi Indonesia.
Para mitra tersebut dilibatkan sebagai fasilitator untuk menyampaikan materi sekaligus mendampingi peserta selama pelatihan.
Materi yang diberikan meliputi pengelolaan emosi dan manajemen stres, penguatan resiliensi atau kemampuan bangkit menghadapi situasi sulit, membangun kemitraan di lingkungan sekolah, serta keterampilan memberikan layanan dukungan psikososial kepada peserta didik.
Nofriadi berharap, melalui pelatihan tersebut, para guru dapat kembali menjalankan aktivitas belajar mengajar secara normal setelah menghadapi situasi darurat akibat gempa.
“Harapannya, guru bisa kembali beraktivitas normal pascagempa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah,” ujarnya.

-
413 Satuan Pendidikan Terdampak Gempa
Dampak gempa Flores terhadap sektor pendidikan di Kabupaten Nagekeo tergolong besar. Berdasarkan Dashboard Satuan Pendidikan Terdampak Gempa Flores Kemendikdasmen per 3 September 2026, tercatat sebanyak 413 satuan pendidikan dengan 32.588 peserta didik serta 4.352 guru dan tenaga kependidikan terdampak.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.291 guru dan tenaga kependidikan sempat mengungsi, sementara 64 orang lainnya mengalami luka-luka.
Data tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan pascagempa tidak cukup hanya melalui pembangunan kembali gedung sekolah dan fasilitas pendidikan yang rusak. Pemulihan kondisi psikologis para pendidik juga menjadi kebutuhan penting.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagekeo, Tarsisius Djogo, mengatakan layanan dukungan psikososial sangat dibutuhkan oleh guru dan tenaga kependidikan setelah mengalami bencana.
Menurutnya, para guru menghadapi beban ganda. Selain harus memulihkan kondisi diri dan keluarga, mereka juga dituntut memastikan proses pendidikan tetap berjalan serta mendampingi anak-anak yang turut mengalami dampak psikologis gempa.
Karena itu, Tarsisius berharap pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan tiga hari tersebut tidak hanya diterapkan oleh peserta, tetapi juga ditularkan kepada seluruh warga sekolah, termasuk komite sekolah dan orang tua peserta didik.
“Selama tiga hari, guru dibekali berbagai materi yang nantinya akan diimbaskan lagi ke satuan pendidikan. Sehingga, manfaatnya tidak berhenti pada peserta yang mengikuti pelatihan,” katanya.
Ia berharap keterampilan tersebut dapat membangkitkan kembali semangat warga sekolah dalam menghadapi situasi pascabencana sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
“Harapannya, dengan apa yang mereka dapatkan, bisa membawa dampak positif bagi lingkungan dan warga sekolah,” ujarnya.
-
Guru Diharapkan Tularkan Pengetahuan kepada Siswa
Manfaat pelatihan juga dirasakan langsung oleh para peserta. Yohanes Rangu Reta, guru SDI Waemburung, Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, mengaku memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru, khususnya mengenai pengelolaan emosi dalam menghadapi situasi darurat pascabencana.
Menurutnya, materi yang diberikan sangat relevan dengan kondisi guru dan masyarakat setelah gempa Flores.
Ia menilai pengetahuan tersebut tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi bekal untuk mendampingi peserta didik dan berbagi pengalaman dengan sesama tenaga pendidik.
“Kegiatan ini sangat menarik. Setelah pulang nanti, saya bisa menularkan hal-hal baik kepada siswa dan sesama guru,” ungkapnya.
Melalui pelatihan LDP ini, pemulihan pendidikan pascagempa di Kabupaten Nagekeo diharapkan berjalan secara menyeluruh. Tidak hanya memperbaiki kerusakan fisik bangunan sekolah, tetapi juga memulihkan kondisi psikologis guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik agar proses belajar mengajar kembali berlangsung dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif. (sg/sg)
































