Marianus Sae
Marianus Sae

sergap.id, NGADA – Bukan saya yang mengejar keributan. Saya yang lari. Saya yang takut. Saya yang tertekan. Begitulah bantahan keras mantan Bupati Ngada, Marianus Sae, saat membuka kembali konflik rumah tangga yang berujung tuduhan KDRT. Ia mengaku telah berulang kali meninggalkan lokasi setiap kali pertengkaran terjadi, bahkan tiga kali mengajukan gugatan cerai.

Kepada SERGAP, Senin (21/9/2026) malam, Marianus mengurai versi dirinya mengenai rangkaian konflik rumah tangga, gugatan perceraian hingga persoalan homestay yang menurutnya ikut menjadi sumber persoalan.

Marianus membantah dirinya sebagai pihak yang melakukan kekerasan. Ia mengaku memilih meninggalkan lokasi setiap kali pertengkaran terjadi karena tidak ingin konflik berkembang menjadi keributan terbuka.

“Kalau bertengkar, kita malu. Saya bahkan empat kali melarikan diri,” katanya.

Menurut Marianus, persoalan rumah tangganya bukan baru terjadi. Ia menyebut sejak 2023 telah beberapa kali mengajukan gugatan cerai terhadap istrinya, YP.

“Dari 2023 saya sudah dua kali gugat cerai,” ujarnya.

Ia kemudian menyebut dirinya kembali mengajukan gugatan untuk ketiga kalinya.

Menurut Marianus, dua gugatan cerai itu sempat berakhir dengan perdamaian dan permintaan maaf.

“Di pengadilan ada surat pernyataan minta maaf dari dia. Tapi setelah itu buat lagi,” katanya.

Marianus kemudian mengurai tiga peristiwa yang menurutnya menjadi bagian dari konflik tersebut.

Peristiwa pertama terjadi di rumahnya di Bosiko.

Menurut Marianus, saat itu sekitar delapan orang sedang makan bersama di rumahnya. Diantaranya ada pejabat aktif. Tiba-tiba saja YP teriak-teriak dan mengusir para tamu.

“Saya ini kan politisi. Teman banyak. Tiba-tiba saja dia teriak-teriak usir orang dari rumah. Saya malu sekali. Saksi-saksi yang diusir itu masih ada,” katanya.

Marianus memilih meninggalkan rumah dan pergi ke Marotauk, Riung.

“Saksi yang mengantar saya ke Marotauk masih ada. Semua saksi bahkan masih ada sekarang,” ujarnya.

Peristiwa kedua, menurut Marianus, terjadi ketika dirinya bersama sejumlah orang sedang menunggu seorang teman untuk makan. Saat itu kembali terjadi keributan dan teriakan.

“Saat itu kami lagi tunggu Pak … (sengaja tidak ditulis namanya). Tiba-tiba dia (YP) ngamok, ‘hanya gara-gara tunggu dia satu orang, bikin kita yang lain susah saja’. Saat itu saya malu sekali. Saya kemudian tidak ladeni dia. Saya memilih pergi saja, karena saya malu sekali,” katanya.

Peristiwa ketiga terjadi pada Sabtu ketika Marianus menerima tamu. Saat itu kembali terjadi pertengkaran.

“Saya langsung pergi. Saya tidak mau ribut,” ujarnya.

Marianus mengatakan dirinya memilih menghindar karena tidak ingin pertengkaran rumah tangga diketahui banyak orang.

“Daripada ribut, saya pilih pergi saja,” katanya.

Dari rangkaian kejadian tersebut, Marianus mengaku justru dirinya yang mengalami tekanan secara psikis.

“Yang tertekan itu saya, yang terkikis itu saya. Koq dibalik? Sekitar 70 kali selama 3 tahun lebih ini” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah saksi masih dapat dimintai keterangan apabila perkara berlanjut ke proses pemeriksaan.

“Kalau perlu dipanggilkan saksi. Saksi ada semua,” katanya.

Marianus menyatakan siap memberikan keterangan dan menunjukkan bukti apabila dipanggil.

“Nanti kita buktikan,” ujarnya.

  • Homestay

Selain konflik rumah tangga, Marianus mengaitkan persoalan tersebut dengan aset berupa homestay di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Menurut dia, homestay tersebut dibangun menggunakan dana yang berasal dari aset yang telah dimilikinya sebelum menikahi YP.

“Bahkan sertifikat tanah homestay itu masih atas nama Mia,” ujarnya, merujuk pada istri pertamanya.

Marianus mengatakan pembangunan homestay dilakukan setelah dirinya menjual aset yang dimilikinya sebelum menikahi YP.

“Saya bangun dari uang jual rumah di belakang Bosiko itu,” katanya.

Marianus mengklaim telah menyerahkan sebuah rumah di Surabaya yang dibelinya seharga Rp1,2 miliar kepada YP, ditambah sebuah mobil.

“Saya bilang ambil. Saya ikhlas,” ujarnya.

Namun, menurut Marianus, persoalan kemudian tetap mengarah kepada homestay.

“Target dia homestay itu,” tegasnya.

  • Bantah Tuduhan KDRT

Marianus membantah dirinya sebagai pelaku KDRT psikis. Ia mengaku selama ini justru berusaha menghindari pertengkaran.

“Justru saya yang tertekan. Saya yang ketakutan selama ini. Saya yang selalu diserang,” katanya.

Menurutnya, setiap kali pertengkaran terjadi, ia memilih pergi daripada melawan.

“Saya tidak mau ladeni dia,” ujarnya.

Marianus bahkan menggunakan istilah “play victim” untuk menggambarkan sikap dan prilaku istrinya.

Ia menilai dirinya justru berada dalam posisi tertekan, tetapi ditempatkan sebagai pelaku kekerasan psikis.

“Ini sebetulnya perilaku play victim,” katanya.

  • Lapor Polisi

Sebelumnya YP melaporkan Marianus Sae ke Polres Manggarai Barat atas dugaan kekerasan psikis pada Senin (21/9/2026) siang.

Laporan tersebut disampaikan melalui kuasa hukumnya dari LBH Nusa Komodo Manggarai, berdasarkan Surat Kuasa Nomor 02//SKK/PLBH/MGR/IX/2026. (es/es)