Jalan menuju Gereja Katolik St. Fransiskus Asisi, Lamahora, Lembata, saat ini. Gambar diambil Senin (6/12/21).
Jalan menuju Gereja Katolik St. Fransiskus Asisi, Lamahora, Lembata, saat ini. Gambar diambil Senin (6/12/21).

sergap.id, KISAH – Tahun 1561 misionaris Ordo Dominikan dari Malaka datang ke Flores dan Lembata untuk menyebarkan agama Katolik. Agar aman dari serangan musuh, Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah benteng kokoh di Lohayong, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur.

Awal kedatangan mereka di pulau yang bernama asli Nusa Nipa (Pulau Naga) sebelum diberi nama baru oleh para pedagang Portugis dengan nama Flores atau Pulau Bunga ini, mereka menghadapi tantangan yang luar biasa, baik dari suku-suku asli, maupun dari para perompak yang berasal dari luar Flores dan Lembata.

Karena ancaman itu, Pastor Antonio kemudian membangun sebuah benteng yang dikenal sebagai Port Henricus XVII. Kini bongkahan beton benteng itu tampak berserakan di tebing sampai bergelantungan di bibir pantai.

Benteng ini terletak sekitar 20 meter dari bibir pantai di ujung barat Desa Lohayong, dengan ketinggian sekitar 50 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dari bekas reruntuhan benteng dapat dipantau secara jelas kapal dan perahu layar yang melintas di Selat Solor, antara Pulau Solor dan Pulau Adonara, Flores Timur.

Sebuah meriam peninggalan Portugis yang tertutup semak belukar tergeletak persis di tepi tebing dengan moncong mengarah ke Selat Solor, yang biasa dilalui kapal-kapal asing zaman dulu.

Meriam yang lain mengarah ke timur dan barat. Di bagian barat benteng itu tumbuh sebuah pohon beringin dengan akar bergelantungan.

Dan, penyebaran agama Katolik di Solor sukses besar yang kemudian subur dan merambat sampai ke Lembata dan terus ke Manggarai, Flores bagian Barat. Namun kesuksesan ini meninggalkan pengorbanan yang tak ternilai. Banyak misonaris yang dibunuh.

Berdasarkan buku Hikayat Kerajaan Sikka (Editor dan Penerjemah: E.D. Lewis dan Oscar Pareira Mandalangi, 2007), yang kutip SERGAP dari Katolikku.Com, terdapat 21 misionaris yang dibunuh. Beriktu nama-nama mereka:

  1. Paderi Antonio Pestana, dibunuh pada tanggal 29 Januari 1565, oleh perompak Jawa. (Hal 140; 152)
  2. Paderi Simon das Montanyas dibunuh pada tahun 1581 oleh orang-orang Terong, Lamahala. (Hal 148; 152).

3-4. Dua pelajar (Seminari) yang sedang mengail di pantai pulau solor ditangkap, disiksa lalu dibunuh oleh orang para perompak dari Lamahala . (Hal.150)

5-7. Paderi Fransisco Calasa (bersama seorang rekan pastor dan seorang ajudan) dari Lewonamang dibunuh pada tahun 1598 oleh orang Tropobele. (Hal. 148; 152)

8-13. Paderi Alvaro (Alveres) dari Paga dan lima orang Paderi dari Nusa Endeh, dibunuh pada tahun 1601 oleh para perompak   dari Endeh, Ambugaga (Hal.148, 152).

14-15. Paderi Caspar/Gaspar de Sar dan Paderi Manuel Lambuano dibunuh oleh para perompak asal Aceh di perairan Solor. (ha1.150; 153)

16-17. Paderi Diego de Rezari dan Paderi Andero Reinol. (Hal.153)

18-19. Paderi Traveso yang berlayar dari Larantuka ke Lukuraja (Nusa Raja Palue) dibunuh di pantai pulau Palue oleh penduduk setempat setelah diprovokasi oleh  para pelaut dari Bugis. (Hal.153)

  1. Bruder Melgior, dibunuh di pintu gerbang benteng Solor oleh para perompak. (Hal. 149)
  2. Paderi Jeronimo Maskarinas bersama ajundannya dari Lena-Keo, dibunuh di perairan sekitar Ma’u Embo – Tonggo sekitar tahun 1602, oleh Don Joan alias Daeng Jea pemimpin  angkatan laut Raja Makasar yang ditugaskan  memungut bea di wilayah Flores dan sekitarnya. (Hal.155). (esp/kat)

1 COMMENT

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here