Rumah warga yang roboh akibat terjangan gelombang tinggi di Desa Adonara, Kecamatan Adonata Barat, KAbupaten Flores Timur, Jumat (2/4/21) sore.
Rumah warga yang roboh akibat terjangan gelombang tinggi di Desa Adonara, Kecamatan Adonata Barat, KAbupaten Flores Timur, Jumat (2/4/21) sore.

sergap.id, KUPANG – Akibat hujan dan angin kencang yang melanda Provinsi Nusa Tenggara Timur selama tiga hari terakhir, terhitung sejak 1 April 2021, sejumlah daerah di negeri kepulauan ini dilanda banjir dan terjangan gelombang tinggi.

Akibatnya, rumah warga di beberapa daerah terendam banjir, dan sebagiannya rusak parah disapu gelombang laut dan abrasi.

Amatan SERGAP selama tiga hari terakhir, banjir hebat terjadi di Kabupaten Malaka akibat luapan Sungai Benanain. Sungai ini merupakan sungai terpanjang dan terbesar di kawasan Timor Barat dengan panjang sekitar 132 Km. Sungai ini melewati tiga kabupaten, yakni Timor Tengah Selatan atau TTS, Timor Tengah Utara atau TTU, dan Malaka.

Di kabupaten yang berbatasan dengan negara Timor Leste ini ada 23 desa yang terdampak banjir. Desa-desa tersebut tersebar di 5 kecamatan, yakni 12 desa di Kecamatan Malaka Barat, 5 desa di Kecamatan Malaka Tengah, 4 desa di Kecamatan Weliman, dan satu desa di Kecamatan Kobalima dan Wewiku.

Selain karena luapan Sungai Benenai, banjir yang melanda rumah warga juga disebabkan gelombang pasang.

Penjabat Bupati Malaka, Viktor Manek, mengatakan, ada lima tanggul yang jebol. Tanggul tersebut berada di Desa Naimana dan Desa Mota Ulun.

Selain di Malaka, banjir dan gelombang tinggi juga melanda Desa Kebirangga, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende, dan Desa Adonara, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur.

Kepada SERGAP, Sabtu (3/3/21) pagi, Kepala Desa Kebirangga, Yoseph Wawo, mengatakan, ratusan rumah di desanya rusak berat akibat banjir luapan Sungai Maukaro, gelombang tinggi, dan abrasi.

Menurut dia, selain rumah warga, tempat jemur ikan milik masyarakat yang berjejer di pantai Maukaro juga hancur.

“2 kamar WC milik warga juga jebol tergerus air. Rumah yang terkena dampak abrasi sebanyak 22,” kata Yos.

Yos menjelaskan, luapan Sungai Maukaro akibat alur sungai yang belum dinormalisasi. Sejumlah titik rawan juga belum dipasangi bronjong.

“Saya minta Pemerintah Kabupaten Ende datang dan lihat secara langsung kondisi kami,” pintanya.

Kecamatan Maukaro berbatasan langsung dengan Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo. Permukaan tanah di dua kecamatan hampir sama dengan permukaan air laut.

Karena itu, kata Yos, jika sungai tidak dinormalisasi, dan bibir pantai tidak dipasangi penahan gelombang, maka sangat besar kemungkinan, pemukiman di dua wilayah itu bisa hanyut terbawa banjir atau terseret arus gelombang.

“Saat ini kerugian mencapai ratusan juta rupiah,” kata Yos.

Banjir dan gelombang tinggi juga menerjang Desa Adonara. Warga terpaksa mengungsi ke dataran yang lebih tinggi untuk menghindari terjangan laut pasang dan gelombang.

BACA JUGA: Gelombang Tinggi Terjang Adonara, Rumah Rusak Berat, Warga Mengungsi

Selain di tiga kabupaten  itu, hujan deras dan angin kencang juga terjadi merata di hampir seluruh wilayah NTT. Sungai-sungai utama di setiap kabupaten tampak dipenuhi banjir, bahkan meluap.

NTT yang diketahui sangat sedikit curah hujan, kini menuai kelimpahan air hujan. Walau disaat yang sama beberapa daerah di kepung banjir.

“Alam lagi baik. Tapi kondisi banjir ini mengingatkan kita agar kita lebih akrab dengan alam. Hutan tidak boleh ditebang, agar bisa menyerap air hujan. Bayangkan kalau setiap kita bertanggungjawab atas kehidupan 50 pohon kayu, betapa lebatnya negeri ini. Tentu di 50 tahun berikut, anak cucu kita tidak lagi kesulitan air seperti yang selalu kita alami setiap musim kemarau. Atau di setiap rumah kita ada 5 pohon, dan jika ini dikalikan dengan setengah dari jumlah penduduk NTT yang hampir mencapai 6 juta, maka ada 15 juta pohon yang perpancang di rumah-rumah penduduk. Jika demikian kondisinya, maka betapa ademnya negeri kita,” tulis Edmon DJ, praktisi lingkungan hidup di beranda FBnya. (red/sg)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here