Patung Bunda Maria diarak dari pusat paroki menuju Stasi Santo Maria Fatima Noelsinas.
Patung Bunda Maria diarak dari pusat paroki menuju Stasi Santo Maria Fatima Noelsinas.

sergap.id, KUPANG – Pesta Pelindung Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang, tahun ini tampil beda. Jika sebelumnya perayaan banyak diisi pertandingan dan perlombaan untuk menghimpun umat dari wilayah dan stasi, tahun 2026 justru diarahkan pada misi pastoral, pendalaman spiritualitas, dan ziarah iman.

Perubahan ini bukan tanpa alasan, yakni Paroki ingin menjadikan momentum 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi, sebagai kesempatan untuk memperbarui iman dan memperkuat persaudaraan umat.

Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua, RD. Longginus Bone, yang akrab disapa Romo Dus, menegaskan bahwa pesta pelindung bukan sekadar perayaan ulang tahun paroki.

“Ini pesta keluarga dan pesta pemilik paroki yang setiap tahun kita rayakan,” ujar Romo Dus saat ditemui SERGAP di Pastoral Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua, Senin (29/9/2026).

Menurutnya, momentum 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus memberi makna khusus bagi perayaan tahun ini. Karena itu, pola perayaan pun diarahkan pada pengembangan iman umat.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya kita adakan pertandingan dan perlombaan untuk menghimpun umat dari wilayah dan stasi, tahun ini kita lebih fokus ke pengembangan iman umat,” katanya.

Di sinilah letak perubahan utama Pesta Pelindung tahun ini. Perayaan tidak hanya menjadi ruang berkumpul dan bersukacita, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat untuk mengenal lebih dalam sosok yang menjadi pelindung paroki sekaligus menggali kembali nilai-nilai spiritualitas yang diwariskannya.

Santo Fransiskus dari Assisi dikenal dengan kehidupan yang lekat dengan kesederhanaan, persaudaraan, pelayanan dan kecintaan terhadap ciptaan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan yang disiapkan Paroki Santo Fransiskus Kolhua.

Ada tiga agenda utama yang menjadi wajah perayaan tahun ini, yakni Misi Pastoral, Seminar tentang Santo Fransiskus dan Ziarah Iman.

Melalui Misi Pastoral, para pastor akan turun langsung ke wilayah dan stasi untuk menyapa serta melayani umat. Gereja tidak hanya menunggu umat datang ke pusat paroki, tetapi bergerak mendatangi umat di tengah kehidupan mereka.

Agenda kedua adalah seminar tentang Santo Fransiskus. Melalui kegiatan ini, umat diajak tidak hanya mengenal Santo Fransiskus sebagai nama pelindung paroki, tetapi juga memahami spiritualitas dan nilai-nilai kehidupannya.

Sementara itu, agenda ketiga adalah Ziarah Iman, yang menjadi salah satu rangkaian utama perayaan.

Dalam ziarah tersebut, tiga simbol iman akan diarak, yakni Patung Santo Fransiskus, Patung Bunda Maria dan Kitab Suci.

Ziarah itu bukan sekadar prosesi dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan tersebut menjadi simbol iman yang bergerak, menyapa dan hadir di tengah umat, dari pusat paroki menuju wilayah dan stasi.

Rangkaian ziarah dikemas dalam Triduum selama tiga hari.

Pada 29 September, Patung Bunda Maria diarak dari pusat paroki menuju Stasi Santo Maria Fatima Noelsinas. Setibanya di Noelsinas, rombongan akan diterima secara adat, dilanjutkan dengan Misa Triduum hari pertama dan adorasi bersama hingga malam.

Pada 30 September pukul 17.00 WITA, perjalanan dilanjutkan dari Noelsinas menuju Bello. Rombongan akan diterima secara adat Nagekeo di Terminal Bello sebelum Patung Bunda Maria ditahtakan di Kapela Bello. Selanjutnya digelar Triduum hari kedua.

Kemudian pada 1 Oktober, arak-arakan bergerak dari Bello kembali menuju pusat Paroki Santo Fransiskus dari Assisi. Rangkaian ditutup dengan Triduum hari ketiga sekaligus pembukaan Bulan Rosario.

Romo Dus berharap seluruh rangkaian Pesta Pelindung tahun ini bisa membuat umat semakin mengenal Santo Fransiskus sekaligus memperkuat iman dan kebersamaan. (neng/neng)