Ketua Penggerak PKK Lembata, Marian Natalia Sadipun sedang melepas Tukik di Pantai Bour, Jumat (22/4/22) sore.
Ketua Penggerak PKK Lembata, Marian Natalia Sadipun sedang melepas Tukik di Pantai Bour, Jumat (22/4/22) sore.

sergap.id, BOUR – Tujuh tahun sudah gerakan konservasi Penyu dilakukan oleh Kelompok Sahabat Penyu Loang (KSPL). Hasillnya sudah 30 ribuan tukik atau bayi Penyu yang dilepas ke laut. Terakhir, Jumat (22/4/22) sore, sekitar pukul 16.00 Wita, 157 tukik di lepas ke laut melalui Pantai Bour, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata.

157 Tukik yang dilepas di Pantai Bour Kecamatan Nubatukan ini berasal dari dua induk, yakni induk pertama 66 butir yang menetas 100 persen, dan induk kedua yang menetas 91 dari 99 butir.

Pelepasan tersebut dilakukan oleh KSPL bersama Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, yang didampingi Ketua Penggerak PKK Lembata, Maria Natalia Sadipun, serta sejumlah pimpinan OPD Lembata.

“JIka di Pulau Flores bagian Barat ada spesies langka bernama Komodo, maka di Pulau Lembata ada spesies langka juga, yakni Penyu. Ini spesis yang harus kita lindungi, tidak bisa tidak”, ujar Langoday sebelum melepas Tukik ke laut.

Sementara itu, Ketua KSPL, Ado Nunang, mengatakan, kelompoknya terbentuk sejak tahun 2015 dan mulai menangani Tukik sejak tahun 2016.

Menurut dia, dari 7 spesis yang ada di dunia, dan 6 spesis yang ada di Indonesia, ada 3 spesis di Lembata yang selama ini ditangani oleh KSPL, yakni Penyu Lekang (Lepidochelys Olivacea), Penyu Hijau (Chelonia Mydas), dan Penyu Sisik (Eretmochelys Imbricata).

“Kelompok kami memiliki 7 anggota. Karena musim Penyu bertelur mulai Maret sampai Juni, maka setiap malam kami selalu monitoring dengan cara membagi grup untuk menyisir sepanjang pantai yang menjadi habitat Penyu. Jika kita ketemu Penyu sedang bertelur, maka kita biarkan hingga dia selesai bertelur. Selepas itu kita pindahkan ke tempat penangkaran alami yang telah kita sediakan di pinggir pantai ini”, paparnya.

“Penetasan yang kami buat ini masih alami. Karena jika harus pakai penangkar, maka harus ada ijin dari Kementerian. Untuk itu kami sedang ajukan ke Kementerian. Tapi, walau saat ini masih alami, banyak mahasiswa yang sudah tamat setelah melakukan penelitian disini”, katanya.

Ado mengaku, tantangan yang sering mereka alami adalah masih ada oknum-oknum masyarakat yang membunuh dan mengkonsumsi Penyu.

“Ini butuh kesadaran kita bersama. Bagaimana jika Penyu punah? Yang rugi adalah kita sendiri”, pintanya.

Ado menambahkan, selain 157 tukik yang sudah dilepas, pihaknya masih memiliki ribuan telur yang berasal dari 14 induk dan kini sedang dieramkan.

“Terlur yang tersisa ini diperkirakan bisa melahirkan 1000 tukik dan nantinya akan kami lepas ke laut juga”, tutup Ado.

Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, foto bersama kelompok dan pemerhati Penyu usai melepas Tukik di Pantai Bour, Jumat (22/4/22) sore.
Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, foto bersama kelompok dan pemerhati Penyu usai melepas Tukik di Pantai Bour, Jumat (22/4/22) sore.
  • Kenapa Penyu Harus Dilindung?

Penyu mempunyai peran penting dalam menjaga ekosistem laut yang sehat. Laut yang sehat akan menjadi habitat berjuta-juta ikan sebagai sumber protein penting bagi manusia.

Contohnya Penyu Hijau (Chelonia mydas) yang bertugas menjaga keberlangsungan hidup Lamun dan Rumput Laut. Ketika merumput, Penyu hijau telah membantu menambah nutrisi dan membantu produktifitas lamun. Tanpa proses merumput yang konstan, padang lamun akan terlalu rimbun dan menghalangi arus laut. Selain itu juga menghalangi sinar matahari menembus ke dasar laut sehingga pangkal lamun akan mengalami pembusukan dan menciptakan habitat sejenis jamur.

Perilaku Penyu Hijau dalam memakan lamun juga membantu penyebaran lamun. Kebanyakan penyu memakan lamun hingga beberapa centi meter dari pangkal daunnya yang menyebabkan bagian ujung dan yang lebih tua akan hilang.

Sebagai hasil dari seringnya penyu memakan daun lamun di bagian yang sama, maka lamun hidup menyebar, tidak terkumpul pada satu tempat. Artinya jika Penyu Hijau punah, maka padang lamun juga akan menghilang dan otomatis ikan juga tidak akan ada lagi di lautan.

Peran dalam menjaga ekosistem laut yang sehat juga dilakukan oleh Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate). Dibekali dengan mulut seperti paruh burung, Penyu Sisik memakan berbagai jenis spons, dengan demikian mereka dapat mengontrol komposisi spesies dan distribusi spons dari ekosistem terumbu karang.

Spons secara agresif bersaing merebut tempat dengan terumbu karang. Dengan memakan spons, Penyu Sisik memberikan kesempatan kepada terumbu karang untuk berkoloni dan bertumbuh. Tanpa keberadaan Penyu Sisik, spons sangat mendominasi terumbu karang yang bisa mengubah struktur ekosistem terumbu karang.

Pertahanan fisik dan kimia dari spons itu menghalangi ikan dan sebagian besar mamalia air memakan spons. Ketika Penyu Sisik merobek spons, nutrisi di dalam spons menjadi terbuka dan dapat dimakan oleh spesies laut yang biasanya tidak dapat membuka lapisan luar dari spons tersebut. Jadi secara tidak langsung Penyu Sisik memberi makanan kepada ikan-ikan.

Peran penyu dalam ekosistem laut sangat penting. Setiap spesies penyu memiliki fungsi pengayaan keanekaragaman hayati dalam lingkungan laut. Dalam cara apapun penyu mengambil peran penting dalam menjaga kesehatan laut antara lain merumput (lamun), mengontrol distribusi spons, memangsa ubur-ubur, mendistribusikan nutrisi, dan mendukung kehidupan mahluk air yang lain.

Penyu memiliki peran penting untuk menjaga kesehatan laut di seluruh dunia selama lebih dari 100 juta tahun. Peran ini antara lain menjaga fungsi terumbu karang supaya produktif hingga memindahkan nutrisi penting dari perairan ke daratan (di pantai).

Populasi penyu berbanding lurus dengan berkurangnya kemampuan penyu melakukan fungsi pentingnya di laut. Mengingat laut yang sudah tidak sehat lagi akibat overfishing, perubahan iklim, dan polusi, maka upaya melindungi penyu perlu ditingkatkan, termasuk dengan mendorong bertambahnya populasi penyu sehingga menjamin sehatnya laut.

Penyu adalah hewan air yang dilindungi. Secara hukum, baik daging, telur, karapas, dan semua produk turunannya tidak boleh juga dimanfaatkan dan diperjualbelikan. Akan tetapi, pemberian status perlindungan saja tidak cukup untuk memulihkan atau mempertahankan populasi penyu. Pengelolaan konservasi yang komprehensif, sistematis, dan terukur harus segera dilakukan seperti yang telah dilakukan oleh Kelompok Sahabat Penyu Loang. Mari Kita Lindungi Penyu dari Predator! (der/der)

KOMENTAR ANDA?

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini