Monumen Pater Beeker
Monumen Pater Beeker di depan Gereja Watuwawer.

sergap.id, WATUWAWER – Kamis 19 April 1956 merupakan hari yang tak terlupakan bagi umat Paroki Hati Amat Kudus, sebuah Paroki yang terpusat di Desa Lerek, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT.

Hari itu, umat di Paroki ini sangat kehilangan orang yang dicintai. Dia yang dicintai itu adalah almarhum Pater Hendrikus Konradus Beeker, SVD, atau semasa hidup akrab disapa Pater Beeker.

Laki-laki buah kasih dari pasangan suami istri Matias Beeker dan Maria Van Wijick ini dibunuh oleh orang yang justru sebelumnya diselamatkan dari sakit menahun dan tak punya pekerjaan. Pelaku yang membunuh pastor kelahiran Velden, Limbur, Belanda, pada tanggal 9 September 1912 itu adalah Bernardus Baha La Luga, pria asal Kampung Watuwawer, Desa Atakore, Kabupaten Lembata..

Ceritanya, malam itu, sekitar pukul 22.00 Wita atau jam 8 malam, Pater yang tinggal di rumah berukuran kecil di depan Gereja Watuwawer, didatangi oleh pelaku.

Saat itu, pelaku mengetuk pintu rumah sebanyak tiga kali. Pater yang tak menaruh curiga lantas membuka pintu sambil menenteng sebuah lampu lentera di tangan kirinya.

Ketika pintu dibuka, nampak sosok pelaku yang kemudian menyapa Pater dengan kalimat ‘selamat malam’ dan dijawab Pater ‘selamat malam juga’. Pelaku lantas maju mendekat ke arah Pater seraya menjulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Pater. Saat berjabat tangan itu pula, pelaku sempat mencium tangan Pater.

Setelah itu, Pater mempersilahkan pelaku untuk masuk ke rumahnya. Namun pelaku tak langsung masuk. Ia justru berbalik dan berjalan ke arah samping rumah, menuju tempat ia menyembuyikan sebilah parang yang telah ia persiapkan untuk membunuh Pater. Sejurus ia mengambil parang dan kembali mengikuti pater ke dalam rumah. Tanpa babibu, pelaku langsung mengayunkan parang ke arah kepala pater. Tebasan pertama sempat ditangkis oleh pater hingga membuat ibu jari Pater putus dan ibu cari itu terperosok masuk ke dalam lengan jubah yang dikenakan Pater.

Pelaku kembali menebas pater sebanyak dua kali ke arah kepala. Seketika Pater pun terjatuh bersimbah darah dan meninggal dunia saat itu juga.

  • Alasan Pater Dibunuh

Pater Beeker ditabiskan menjadi Imam Katolik dalam tarekat Sosietas Verbi Divini atau SVD atau serikat Sabda Allah pada tanggal 22 Agustus 1937 di Belanda. Setelah itu, pada tanggal 20 Septerber 1938, ia ditugaskan ke Indonesia, dan pada tanggal 21 Oktober 1938 ia tiba di Pelabuhan Tanjung Periuk Jakarta, selanjutnya ke Ende dan menuju Seminari Mataloko di Kabupaten Ngada untuk belajar Bahasa Indonesia.

Setelah menguasai bahasa Indonesia dan bahasa beberapa daerah di Pulau Flores, Maret 1939 Pater Beeker ditugaskan sebagai Pastor Pembantu di Stasi Waiwerang, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.  Setahun kemudian, tepatnya Mei 1940, ia dipindahtugaskan ke Paroki Lerek.

Namun dua tahun kemudian atau pada tanggal 9 Juni 1942, Pater Beeker ditangkap oleh tentara Jepang. Ia lantas dibawa dan ditahan di Sulawesi hingga tahun 1945.

Setelah dibebaskan tentara Jepang, Pater yang memiliki suara emas dan akrab dengan alat musik terompet ini kembali ke Lerek melayani umat Paroki Lerek dan Lamalera.

Disini ia kembali bertemu dengan Bernardus Baha La Luga, seorang pemuda dari Suku Wawin atau tuan tanah di Watuwawer. Saat itu La Luga sedang sakit keras. Pater lantas membawa La Luga ke Larantuka untuk berobat.

Setelah sembuh dari sakit, La Luga disekolahkan di sekolah pertukangan, dan setelah selesai mengenyam pendidikan tukang itu, La Luga bersama tukang yang lain diberi pekerjaan menyelesaikan proyek pembangunan gereja Katolik Riang Kemie di Flores Timur.

Usai mengerjakan proyek itu, La Luga kembali ke Lewoleba, selanjutnya bekerja di Perbengkelan Misi Lewoleba dibawa kepemimpinan Bruder Patricius. Tak lama kemudian, sekitar Januari 1956, secara diam-diam, La Luga pulang ke Watuwawer, sebuah kampung di Desa Atakore, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata.

Saat pulang kampung itu, La Luga membawa serta beberapa perkakas tukang, sepasang sepatu, dan satu buah kain serbet milik Perbengkelan Misi Lewoleba.

Merasa ada barang Misi yang hilang, Bruder Patrisius pun mengirim nota kepada Pater Bekker yang isi notanya mengatakan bahwa ada barang yang hilang, dan tolong cek di La Luga. Berdasarkan nota ini, Pater Bekker pun mendatangi rumah La Luga yang berada di belakang Gereja Watuwawer. Di rumah La Luga ini, Pater Beeker menemukan barang yang dilaporkan hilang oleh Bruder Patrisius, yakni beberapa perkakas tukang, sepasang sepatu, dan satu kain serbet. Spontan pater Beeker marah dan menasehati La Luga bahwa apa yang diperbuatnya adalah dosa.

Tak lama kemudian, cerita tentang apa yang dilakukan La Luga menyebar ke berbagai pelosok Paroki Lerek. La Luga lantas dicap oleh warga sebagai pencuri. Akibatnya La Luga merasa malu dan di hari-hari berikutnya ia lebih banyak berdiam diri di dalam rumahnya.

Teguran Pater inilah yang kemudian diduga sebagai pemicu pembunuhan. Apalagi selain La Luga, Pater Beeker juga pernah menegur tiga tokoh penting di Watuwawer yang memiliki istri lebih dari satu. Menurut Pater Beeker, memiliki istri lebih dari satu dalam ajaran Katolik adalah Dosa. Teguran ini juga yang diduga membuat tiga tokoh penting yang kini telah meninggal dunia itu tersinggung dan marah kepada Pater Beeker.

Ujungnya, suatu waktu di awal bulan April 1956, ketiganya mengundang La Luga ke salah satu rumah dari ketiga tokoh itu. Disitu, mereka memprovokasi La Luga agar segera membunuh Pater Beeker. La Luga pun setuju, dan hari yang ditentukan pun tiba. Dan, tanggal 19 malam itu, Pater Beeker yang tengah berdoa di dalam kamarnya, dikagetkan dengan tiga kali ketukan pintu. Setelah pintu dibuka, ternyata di depannya berdiri sosok orang yang sangat dikenalinya. Dia adalah La Luga, pria yang pernah dibawanya ke Larantuka untuk berobat dan belajar tukang.

Sejurus La Luga menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Pater. La Luga kemudian membungkukan bandannya, dan mencium tangan Pater. Perilaku La Luga ini digambarkan seperti Yudas Iskariot saat menyerahkan Yesus Kristus kepada imam-imam fasik.

Ya setelah berjabat tangan dan mencium tangan Pater Beeker, La Luga pun dipersilahkan masuk. Pada saat yang sama, Pater Beeker membalikan badannya ke arah kamar sambil menenteng lampu lentera. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh La Luga untuk mengambil parang yang sengaja dibawanya dan disembunyikan di samping pintu depan rumah Pater. La Luga kemudian mengikuti Pater ke dalam rumah, dan dengan wajah penuh marah, langsung membacok Pater hingga Pater meninggal dunia di tempat.

Posisi jasad Pater saat itu, kepalanya mengarah ke Barat dan kakinya berada di antara pintu depan rumahnya. Tangan kanannya di dada, sementara tangan kirinya terlentang di samping badannya.

Setelah membunuh Pater Beeker, La Luga ditangkap oleh Opas Boli Kolin. La Luga kemudian dibawa ke rumah tahanan Kerajaan Labala (Kerajaan Labala merupakan satu-satunya kerajaan di Pulau Lembata yang berada di Pantai Selatan Pulau Lembata saat itu).

Setelah diperiksa dan dibuatkan berita acara pembunuhan, La Luga dibawa oleh Opas Boli Kolin dan pasukannya dari Labala ke Larantuka menggunakan perahu. Sampai di Larantuka, La Luga diserahkan ke aparat kejaksaan, selanjutnya dibawa ke Ende dan seterusnya dibawa ke penjara di Pulau Nusa Kambangan.

Sementara Pater Beeker, setelah terbunub, jasadnya dibawa ke Labala, selanjutnya dijemput dengan peledang ke Lamalera dan terus menuju Larantuka. Dia kemudian dimakamkan pada tanggal 21 April 1956 di Larantuka. Misa pemakaman Pater Beeker saat itu dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Gabriel Manek, SVD.

Setelah 50 tahun berlalu, atau pada Jumat tanggal 14 Juli 2006, kerangka Pater Beeker dibawa pulang dari Larantuka ke Watuwawer. Kerangkanya kemudian dimakamkan pada tanggal 19 Juli 2006 di sebuah taman yang dibuat persis di tempat Pater Beeker dibunuh atau di sebelah kanan bagian depan Gereja Watuwawer.

Sedangkan La Luga, setelah bebas dari penjara Nusa kambangan, ia kembali ke Watuwawer. Ia kemudian menikah dan memiliki anak. Namun pada tanggal 18 Oktober 1996, La Luga meninggal dunia dan jasadnya dikuburkan di sebuah lahan di dekat rumahnya.

Pastor Paroki Lerek, Romo Pius Laba Buri
Pastor Paroki Lerek, RD. Pius Laba Buri, PR.
  • Peristiwa Iman

Tanggal 19 April 2022 kemarin, umat Katolik Paroki Lerek memperingati 66 tahun terbunuhnya Pater Beker. Misa peringatan ini dipimpin oleh Pastor Paroki Lerek, Romo Pius Laba Buri, di Gereja Katolik Watuwawer.

Romo Pius mengatakan, misa memperingati kematian Pater Beeker bukan untuk mengungkit siapa yang salah dan siapa yang benar di masa lampau. Namun peristiwa pembunuhan itu adalah rencana Tuhan untuk iman Gereja Katolik.

Saat ini hubungan umat gereja dengan keluarga La Luga yang juga penganut Katolik sudah sangat baik. Itu sebabnya, saat ini, makam La Luga menjadi titik star prosesi ziara memperingati kematian Pater Beeker, dan salah satu anak La Luga yang saat ini masih tinggal di Watuwawer selalu aktif mengikuti prosesi ini.

“Ini rencana Tuhan, dan sekarang ini peristiwa ini menjadi peristiwa Iman yang selalu diperingati setiap tahun disini”, ucap Romo Pius.

Menurut dia, tahun 1984, keluarga Pater Beeker pernah datang ke Watuwawer untuk melihat dari dekat monumen Pater Beeker. Saat itu, keluarga Pater Beker sempat mengunjungi La Luga di rumahnya di Watuwawer.

“Saat bertemu (La Luga), keluarga Pater Beker tidak marah, apalagi dendam. Mereka bahkan bersyukur bahwa anak mereka yang bekerja sebagai misionaris habis-habisan (menjadi martir Kristus). Bahkan menurut mereka, (kematian) itu sebagai mahkota pelayanan anak mereka”, kata Romo Pius.

“Dari cerita yang saya dengar dari Pater Ande, di pertemuan itu juga, keluarga Pater Beeker memberi banyak sekali oleh-oleh dari Belanda (untuk La Luga dan keluarganya). Mereka (keluarga Beeker) tidak marah. Mereka menganggap peristiwa yang dialami anak mereka itu adalah mahkota pelayanan”, tutup Romo Pius. (bes/cas)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here