Kegiatan belajar anak-anak Taman Daun.
Kegiatan belajar mengajar anak-anak Taman Daun.

sergap.id, FAKTA – Ini kisah inspiratif yang layak untuk disimak, termasuk oleh pemerintah daerah di Provinsi NTT. Jika anak yatim saja mampu berbuat sesuatu untuk kaum miskin, bagaimana dengan gubernur, bupati, dan walikota yang dibackup APBD miliaran rupiah?

Data Badan Pusat Statistik atau BPS NTT menyebutkan, persentase penduduk miskin di NTT pada Maret 2020 mencapai 20,90 persen atau terdapat 1,1 juta lebih orang miskin di NTT. Kondisi ini tidak hanya ada di desa-desa, tapi juga di kota.

Keadaan ini seringkali menuai kritik banyak pihak, namun hanya sedikit dari para pengkritik yang terjun langsung ke lapangan guna bahu membahu menyelesaikan masalah yang seolah terus beranak pinak dari tahun ke tahun, diantaranya John Batafor, si anak Yatim asal Kabupaten Lembata, Provinsi NTT.

Selain membangun rumah sehat untuk para janda miskin di Kabupaten Lembata, John juga membuka sekolah gratis untuk anak-anak yang berasal dari keluarga miskin.

Yang terbaru adalah John sedang merekrut seorang guru Bahasa Inggris dengan gaji yang ditawarkan sebesar Rp 1 juta per bulan. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak sekolah gratis di Taman Daun.

Berikut nukilan wawancara wartawan SERGAP, Chris Parera, dengan Jhon Batafor, Senin (23/8/21) siang:

  • Yang dicari itu Guru Perempuan atau Laki-Laki?

Sekarang kita sudah punya guru bahasa inggris dua orang. Semuanya laki-laki. Tapi masih kurang. Karena itu saya cari tambah guru perempuan. Saya prioritaskan bagi calon guru yang belum bekerja. Guru yang sedang kami cari ini akan digaji Rp 1 juta per bulan. Gaji ini murni dari uang pribadi saya.

Tenaga pengajar Bahasa Inggris ini kami rekrut setelah negeri kita dilanda Covid19. Kalau kemarin-kemarin saya pakai tenaga volunteer (sukarelawan) dari dalam maupun luar negeri.

Ya setelah Covid banyak volunteer sudah balik. Makanya saya langsung rekrut tenaga pengajar baru, sudah dari 2 tahun lalu. Jadi, saat ini, saya butuh 1 lagi, karena anak-anak makin banyak. Saya mau membangun SDM anak-anak saya, prioritas saya sebenarnya hanya di kompleks saya saja, di sekitar lingkungan saya saja, sehingga (Kelurahan Lewoleba Barat) bisa jadi desa model.

Tapi saya punya cita-cita dari dulu itu ya buat sekolah internasional dari SD sampai SMA. Sekolahnya gratis, dan tenaga pengajarnya dari dalam dan luar negri.

  • Modalnya darimana Anda bikin sekolah gratis?

Saya punya homestay. Hometasy saya ini saya gratiskan bagi volunteer. Semua akomodasi saya siapkan. Tapi mereka saya minta untuk mengajar anak-anak secara gratis.

Homestay ini juga bisa berbayar. Jika ada yang nginap, maka harus bayar. Nah dari bayaran itu, 80 persennya saya alihkan untuk kegiatan sosial Taman Ndaun, sehingga Taman Daun bisa lebih hidup. Anggap saja orang yang nginap disini turut membantu orang susah. Sementara 20 persennya saya alihkan untuk perawatan homestay. Jadi, sama sekali tidak ada tarif untuk keuntungan pribadi bagi saya.

  • Apa itu Taman Daun?

Taman Daun ini didirikan oleh Bapak Goris Batafor pada tahun 1987. Awalnya komunitas (kelompok sosial yang memiliki ketertarikan dan habitat yang sama) ini dibangun untuk menghimpun ibu-ibu penenun. Setelah itu melebar menjadi taman baca dan kegiatan sosial lainnya.

Karena itu, kedepan saya akan bangun lagi taman baca di setiap desa, dan jika saya punya rejeki lebih, saya akan tempatkan satu tenaga pengajar di setiap taman baca. Sehingga anak-anak bisa datang belajar secara gratis.

Kelas di sini bukan hanya Bahasa Inggris, tapi juga ada kelas Matematika, prakarya, dan lain sebagainya. Ini sebenarnya berangkat dari hobi saya saja. Saya berbagi dari kelebihan yang saya punya. Termasuk satu guru saya kasih satu juta per bulan.

Saat ini anak-anak (belajar gratis) disini ada 32 orang yang terdiri dari anak SD sampai anak SMA. Konsepnya berangkat dari rasa bosan anak-anak di sekolah formal yang setiap hari dihimpit dinding dan tembok.  Karena itu, kami menggunakan konsep alam. Jadi anak-anak tetap menyatu dengan alam. Contoh pelajaran Matematika, 5 tambah 5 berapa tu? Anak-anak lalu diarahkan mengambil 5 daun kering ditambah 5 (sampah) plastik, maka totalnya 10. Tanpa disadari, mereka sudah turut menjaga lingkungan agar tetap bersih.

Selain belajar gratis, kita juga punya program pemberdayaan untuk anak-anak. Salah satunya adalah kita buat bedeng sayur, lalu anak-anak menanam sendiri, menyiram sendiri, dan setelah panen jual sendiri. Hasilnya ditabung untuk biaya kuliah nanti. Kita bukakan buku tabungan untuk anak-anak ini.

  • Darimana Anda mendapatkan dana untuk membiayai kegiatan Taman Daun?

Tahun 2011 saya mulai aktif di komunitas ini. Saya genjot habis-habisan. Saya mulai buat pengembangan. Awalnya saya fokus ke pendidikan, kita mulai bangun taman baca di beberapa desa, sumbang buku bacaaan segala macam.

Dalam perjalanan ide mulai banyak, termasuk buka lowongan volunteerism. Program ini juga mendukung dunia pariwisata Lembata. Bule kemudian mulai banyak datang ke Taman Daun. Nah… pikiran masyarakat umum ketika melihat bule-bule itu, otak mereka pasti pikir dolar, dolar, dan dolar. Padahal tidak semua bule itu kaya. Tapi di otak masyarakat beranggapan bahwa pasti John Batafor dapat uang banyak. Taman Daun dapat duit banyak. Tapi saya sudah bilang tadi, saya tidak punya waktu untuk menjelaskan. Karena saya masih fokus mengurusi hal-hal yang berguna.

Jadi, saya bilang mereka, saya persilahkan bule datang ke sini, saya siapkan makan minum dan tempat tinggal. Lalu ada yang tanya, lah terus John Batafor dapat apa? Saya bilang, saya dapat ilmu yang diberikan untuk anak-anak kita. Loh kok bisa urusin 2,3,4,5 bule yang datang kesini, urusin mereka makan minum? Saya kemudian balik bertanya, kira-kira keluarga kalian yang dari kampung datang di kalian punya rumah, kalian siap makan buat mereka tidak? Mereka jawab, iya siap! Makanya saya terangkan, sama, sederhana itu jawabannya! Hal yang sederhana jangan dibuat ribet.

Suatu waktu ada bule kaya raya dari sebuah negara, dia ingin bantu Taman Daun. Tapi dia minta saya untuk urus legalitas Taman Daun, ya bisa LSM atau berbadan hukum lainnya. Dengar tawaran itu, saya tertawa-tertawa saja. Lalu dia sambung, kalau kamu tidak punya duit untuk urus Taman Daun jadi LSM, saya kasih kamu duit! Tapi saya tolak tawaran itu. Lalu ada beberapa teman tanya, kenapa kamu tolak? Saya jawab, saya memahami sosial itu beda!

Saya memahami sosial itu total dalam artian gini, contoh Anda kasih saya uang 10 juta untuk kasi ke masyarakat susah. Tapi uang yang diterima masyaarakat hanya 8 atau 5 juta. Karena sisanya terpotong untuk biaya operasional dan tenaga lapangan segala macam. Itu yang saya tidak mau! Saya lebih suka 10 juta itu saya tambah menjadi 11 atau 12 juta lalu kasi ke masyarakat. Kalau pun saya tidak punya uang untuk kontribusi, maka kontribusi saya apa? Ya tenaga dan pikiran. Ya konteks sosial ala komunitas Taman Daun memang beda jika kita bandingkan dengan LSM atau lain sebagainya.

Dan, setidaknya sudah ada 3 orang dari negara berbeda yang tawarin ulang-ulang untuk mendanai Taman Daun, tapi saya tolak! Banyak orang berpikir kita ini NGO, LSM, Yayasan, tapi saya pastikan tidak. Taman Daun ini hanyalah Komunitas.

Untuk membiayai Taman Daun lebih banyak dari hasil usaha saya sendiri. Saya punya bisnis, tapi bisnis saya tidak ditonjolkan. Yang saya tonjolkan adalah aksi sosial. Kenapa saya tonjolkan? Tahulah kenapa kita (Komunitas Taman Daun) harus sharing-sharing ke media sosial tentang apa yang kita buat segala macam. Banyak yang bilang begini, John, kok kalian sombong sekali? Kan mestinya ‘tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu’!

Tapi saya pikir itu ocehan-ocehan dangkal yang saya tidak perlu ladeni. Tapi ketika mereka mengajak saya bicara dari aspek Agama, ya sudah saya bilang, kalian lihat tidak Yesus dulu itu buat baik, tetapi dipublikasikan. Tetapi bedanya publikasi dulu dalam bentuk Alkitab. Buktinya Yesus beri makan untuk 5000 orang kita tahu sampai hari ini! Kalau yesus beri tangan kanan dia tidak mau tangan kiri tahu, ya kenapa kita tahu juga sampai hari ini? Tapi saya pikir ocehan itu adalah hal dangkal yang tidak perlu diperdebatkan.

Jadi sesungguhnya begini, Taman Daun ini  adalah komunitas peduli yang berasal dari berbagai latar belakang profesi. Ada tukang ojek, ada petani, ada pemilik salon, seniman, dan segalam macam. Contoh saya punya rejeki, katakanlah Rp 1 juta, lalu saya ajak teman-teman komunitas, yuk kita patungan bikin aksi sosial. Responnya adalah mereka memberi dari kelebihan yang mereka punya, ada yang beri 50 ribu, ada 100 ribu. Setelah terkumpul kita buat sesuatu mengatasi masalah sosial yang ada di tengah masyarakat.

Kita ini lebih banyak berbuat tanpa pikir berapa duit, jadi kita jalanin saja. Lalu pertanyaan tentang sumbangsi dari orang lain di luar Taman Daun, ya itu ada, tapi cuma sesekali. Contoh seperti kemarin persoalan bencana di Ile Ape. Awalnya kita bangun satu dua rumah, lalu kita posting di media sosial. Lalu ada teman-teman di Lembata, Kupang, atau di daerah perantauan lain, mereka telepon lalu bilang, eh… John, saya ini punya rejeki seribu dua ribu, saya mau titip lewat kamu buat tambah-tambah bangun rumah lagi (untuk korban bencana). Ya seperti itu, dan kita syukuri! Tetapi pada dasarnya, tanpa keterlibatan orang lain pun kita tetap jalan. Saya itu sudah totalkan saya punya hidup untuk hal-hal seperti ini.

  • Sudah berapa rumah untuk para Janda yang dibangun?

Belum banyak! Pastinya di atas 100 unit. Jumlah persisnya saya tidak ingat. Karena kami tidak pusing soal (data) itu. Karena kami bukan LSM yang wajib memiliki data untuk lapor ke donatur.

Yang pasti adalah kami terus berusaha berbuat baik untuk orang-orang yang memang benar-benar layak dibantu. Itu sebabnya saya bilang ke teman-teman, buat baik itu sederhana! Asal ada niat dan komitmen.

Satu ketika beberapa komunitas saya minta saya untuk pimpin doa makan. Lalu saya pimpin doa, “Ya Tuhan berkatilah orang lapar di mana pun berada. Amin”. Dengar saya berdoa begitu, ada teman-teman ketawa, koq doanya singkat sekali?  Saya jelaskan, kita meyakini bahwa makanan itu adalah berkat Tuhan, tetapi saat berdoa, kita masih meminta Tuhan untuk berkati lagi makanan itu, berarti kita minta berkat dobel dari Tuhan. Itu yang saya tidak mau. Mestinya doa yang kisampaikan adalah doa yang bisa membantu orang lain.

  • Dibalik kerja-kerja Anda ini, apakah ada kepentingan politik?

Banyak orang yang bilang saya menjembatani hal ini (Taman Daun) untuk terjun ke dunia politik, itu manusiawi, normal-normal saja orang berpikiran seperti itu. Tetapi cobalah jangan terlalu berpikir negatif. Kita harus ambil hal positif. Kita tidak bisa maju kalau otak kita isinya negatif saja.

Saya ini berbuat seperti ini, saya punya keluarga juga tidak tahu. Bahkan saya punya Mama saja tidak tahu. Setiap kali saya turun ke desa, Mama saya tidak pernah tanya saya buat apa disana? Sampai detik ini dia tidak tanya itu.

Kalau saya sudah mandi dan rapih, apalagi kalau saya sudah star motor, Mama hanya tanya, ke desa mana? Dengan siapa? Setelah saya jawab, maka dia tidak tanya lagi. Mama juga tidak tanya saya kesana untuk apa? Makanya saya kemudian terjemahkan dua pertanyaan Mama itu artinya Mama hanya ingin memastikan ketika saya mati di tengah jalan atau tidak pulang rumah, maka Mama tahu siapa yang harus dia kontak.

Mama saya justru tahu apa yang saya lakukan dengan Taman Daun ini dari orang lain. Karena setiap kali saya pulang, mama tidak pernah tanya soal itu.

John Batafor
John Batafor dengan rumahnya yang sederahana.
  • Anda tinggal dimana sekarang?

Saya tinggal di Kelurahan Lewoleba Barat (Kecamatan Nubatukan, Lembata, NTT). Sampai detik ini saya punya rumah masih setengah tembok. Puji Tuhan baru-baru ini Mama dapat bantuan rumah dari Kementerian. Rumah baru dikerjakan tahun ini, ini juga belum atap! Tapi saya menjadi tambah yakin, kalau kita bantu orang dengan iklas, pasti kita juga akan dibantu. Setidaknya Mama saya sudah merasakan itu. Itu yang saya syukuri.

Karena dari dulu saya dengan Mama hidup susah. Bapa meninggal saat saya umur 8 bulan. Saya dibesarkan oleh Mama sendiri. Hidup kami susah. Utang sana utang sini. Pinjam sana-pinjam sini. Itu sebabnya, hati saya menjadi luluh kalau melihat para janda, apalagi yang sudah tua dan hidup susah. Saya tidak tega melihat mereka. Karena itu saya punya prinsip, sudalah, cukup saya dengan Mama yang pernah hidup susah, jangan ada lagi janda yang susah.

Karena persoalan ekonomi pula, sekolah saya dulu jatuh bangun. Makanya saya tidak mau anak-anak kedepan itu pendidikannya seperti saya. Itu sebabnya ketika saya ada duit, ketika saya ada rejeki, saya bayar guru untuk mengajar anak-anak di Taman Daun.

  • Katanya Komunitas Taman Daun juga menanam Terumbu Karang?

Iya benar! Kami tanam di teluk Lewoleba. Saya beberapa kali diskusi dengan pebisnis dan pegiat pariwisata. Saya bilang, kalian ini kan dapat duit miliyaran rupiah dari hanya bawa bule atau wisatawan datang liat terumbu karang. Pertanyaannya ketika kalian pulang dapat duit, sudah berapa rupiah yang kalian kasi ke terumbu karang? Berikut ke para nelayan, kalian ambil ikan disitu, tapi pernah tidak berterima kasih kepada terumbu karang?

Esensinya bagaimana kita berterima kasih kepada alam! Makanya saya buat transplantasi terumbu karang. Sekarang sudah tumbuh besar. Wilayahnya sudah sangat luas.

Jadi ini ada hubungannya dengan kasus Awololong. Banyak teman-teman aktivis awal-awal mau demo datang ke saya, diskusi dengan saya, lalu saya bilang, saya sepakat kalian demo, tetapi saya mau cara demonya berbeda.

Cara demonya adalah kita buat transplantasi terumbu karang di sekeliling Pulau Awololong. Kalau terumbu karang sudah hidup, maka tidak mungkin ada tiang pancang disitu. Karena tiang itu akan menghancurkan karang. Kalau demikian, maka kita tinggal pidanakan mereka.

Tapi faktanya, sekarang ini di sekitar Pulau Awololong, semua karang sudah hancur. Ketinggian pasir di Pulau Awololong juga sudah menurun. Kenapa? Karena abrasi! Ombak yang datang pukul seret pasir turun semua. Makanya kita tanam terumbu karang disitu, berharap bisa menjadi penahan ombak.

Tanam terumbu karang itu murah biaya. Dengan uang 1 atau 2 juta saja kita sudah bisa tanam. Saya libatkan nelayan pergi tanam. Tapi orang bilang pasti itu proyek besar. Makanya saya bilang, itu otak hanya isi proyek saja! Saya tidak punya waktu untuk meladeni orang macam itu. Seperti di awal tadi, kalau omong untuk motivasi orang, oke, saya mau, tetapi kalau ngomong hanya sekedar untuk dia bisa konsumsi informasi, maka saya tidak punya waktu. (*)

KOMENTAR ANDA?

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini