Nilai-nilai luhur yang tertanam dalam adat istiadat di NTT yang menjunjung tinggi kehormatan perempuan dan melindungi anak-anak, secara perlahan tapi pasti, mulai terkikis.
Nilai-nilai luhur yang tertanam dalam adat istiadat di NTT yang menjunjung tinggi kehormatan perempuan dan melindungi anak-anak, secara perlahan tapi pasti, mulai terkikis.

sergap.id, JAKARTA – Guna mengembalikan nilai luhur budaya NTT yang menghormati martabat perempuan dan melindungi anak-anak, Jaringan Peduli Anak dan Perempuan NTT atau Debora, meminta aparat penegak hukum segera bersikap tegas dan adil menghapus praktek prostitusi di NTT.

Pernyataan sikap Debora ini merespon kasus prostitusi yang terjadi di Kabupaten Ende dan di beberapa wilayah lain di Provinsi NTT.

Bagi Debora, prostitusi yang melibatkan anak dan perempuan merupakan salah bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia, hak perempuan dan hak anak. Karena itu, penyelesaian masalah ini tidak terlepas dari proses penegakan hukum yang baik. Namun yang menjadi masalah saat ini adalah proses penegakan hukum yang tidak berjalan maksimal, serta apatisme masyarakat.

Masyarakat tahu bahwa hal ini adalah persoalan sosial, namun tidak tahu harus berbuat apa, serta tidak mau direpotkan untuk urusan orang lain.

Jika kondisi ini tidak segera ditanggulangi dan diantisipasi, maka akan membuat praktek prostitusi merebak subur di tengah kehidupan masyarakat NTT. Padahal saat ini NTT sedang dipromosikan sebagai salah satu destinasi pariwisata andalan di Indonesia.

Sebagaimana pada kasus prostitusi yang terjadi di Kabupaten Ende, seperti yang diberitakan Pos Kupang 06 Juni 2020 tentang “Prostitusi Online di Ende, Transaksi di Depan Pasar Potulando Modus Nongkrong”, seta kasus prostitusi online yang melibatkan anak dan perempuan yang juga  dimuat di beberapa media adalah kasus di Sumba Timur (10 Maret 2019) dan kejadian di Kupang menyusul tertangkapnya beberapa Mucikari prostitusi online yang melibatkan anak (Kompas.com, 14 Maret 2019), dan bukan tidak mungkin terjadi juga di wilayah lain di NTT.

Dalam beberapa kasus prostitusi terbukti telah melibatkan perempuan, anak perempuan, bahkan anak laki-laki . Kebanyakan korban adalah bagian dari  perdagangan manusia untuk dieskploitasi secara seksual dan kebanyakan korban tidak mengetahui risiko dari pekerjaan yang mereka lakukan.

Menyoroti masalah prostitusi di Ende, kami, beberapa pemerhati perempuan dan anak dari NTT yang tergabung dalam Jaringan Peduli Perempuan dan Anak NTT, baik yang berada di luar NTT, maupun yang tinggal dan bergerak di NTT, bersama-sama menyadari bahwa praktek prostitusi berhubungan erat dengan kemiskinan serta perubahan orientasi,  pola dan gaya hidup generasi muda, yang ingin tampil mewah secara instan, serta berpusat pada diri sendiri.

Nilai-nilai luhur yang tertanam dalam adat istiadat di NTT yang menjunjung tinggi kehormatan perempuan  dan melindungi anak-anak, secara perlahan tapi pasti, mulai terkikis.

Karena itu, kami menyerukan agar:

  1. Pemerintah Daerah, termasuk di dalamnya Aparat Penegak Hukum agar segera mengambil sikap tegas dan adil untuk menghapus praktek prostitusi di NTT. Perlindungan perempuan dan anak, harus menjadi prioritas dalam program pembangunan, dan masuk dalam pertimbangan dan perencanaan program pembangunan di segala bidang. Peningkatan program pariwisata daerah NTT harus selalu seiring dengan penguatan perlindungan perempuan dan anak.
  2. Segala bentuk pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya kekerasan dan eksploitasi seksual, diselesaikan dengan tuntas dalam keberpihakan terhadap korban. Prostitusi harus dihapuskan dan diwaspadai dalam praktek dan keseharian hidup masyarakat NTT.
  3. Masyarakat NTT kembali menghidupkan nilai luhur yang terkandung dalam adat dan budaya NTT yang peduli satu sama lain, menghormati martabat perempuan dan melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan, khususnya kekerasan dan eksploitasi seksual.
  4. Semua pihak yang terkait dengan persoalan perlindungan perempuan dan anak, agar bekerja sama untuk mendorong percepatan program Kabupaten/Kota Layak Anak sehingga kerja perlindungan anak dapat dilakukan secara sistematis, masive dan terstruktur, sampai ke tingkat desa/kelurahan. Pelibatan masyarakat melalui penguatan PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat) menjadi sangat krusial.

Demikian pernyataan kami:

  1. Yohana Afra Baboraki: Koordinator LPA( Lembaga Perlindungan Anak) Peduli Kasih Ende
  2. Richard Radja Ray: Jaringan Diaspora NTT
  3. Veronika Ata : Ketua LPA (Lembaga Perlindungan Anak)Propinsi NTT
  4. Maria Lenjte Pelapadi :Koordinator Proyek  Konsorsium Lembaga Pemberdayaan Anak dan Perempuan Flores
  5. Gabriel Sola :Lembaga Hukum dan Ham  PADMA INDONESIA (Pelayanan  Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia)
  6. Pater Sandro Bataona, SVD  : Koordinator Solidaritas Perempuan Flores Lembata dan Alor
  7. Laurentius D. Gadi Djou, Akt : Ketua YAPERTIF (Yayasan Perguruan Tinggi Flores)
  8. Chandra Dethan :  Manager Child Fund NTT
  9. Maria Yohanista Djou: Ketua Yayasan Jendela Orang Muda dan Disabilitas
  10. Ansy Damaris Rihi :Direktur LBH APIK NTT dan Koordinator Konsorsium Timor Adil dan Set
  11. Vinsen Bureni : Direktur Bengkel Apek NTT
  12. Andi Ardian : ECPAT Indonesia
  13. Haris Oematan : Direktur CIS Timor
  14. Redempta Bato: Ketua Yayasan Sumba Hospitality
  15. Elisabet Wismuditha:  Dike Nomia Institute                                   :
  16. Sovianto Kila : Ketua LPA Kabupaten Sumba Timur
  17. Stefanus Segu : Ketua Yayasan Harapan Sumba.
  18. Ermelina Singereta : Ketua Bidang Hukum dan Advokasi JarNas Anti TPPO
  19. Alfes Lopo : Koordinator Komunitas Laki-Laki Baru NTT
  20. Erles Ray Rego Raja Laka ,S.H,M.H : Direktur Eksekutif Kantor Hukum”PASOPATI & ASSOCIATES” Jakarta.
  21. Thobias Djadji : Pengusaha & Praktisi SDM di Jakarta.
  22. Ignasius Iryanto Djou : Aktivis Kemanusiaan.
  23. Hans Boleng Lamatokan : Musisi di Jakarta
  24. Joseph S Jatareda : Aktivis Kemanusiaan.
  25. Bernadus Raldy Doy, Msc.: Praktisi Media

Dengan dukungan penuh dari Uskup Keuskupan Agung Ende sebagai pengawal moral umat.

Nara Hubung: Richard Radja Ray: (0813.1549. 5758), Maria Yohanista Djou (0813.1543.2900), Redempta Bato: ( 081337414516). (sp/sg)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.