sergap.id, SOE – Untuk menekan angka kemiskinan di NTT, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) melarang keluarga miskin memiliki banyak anak. Jika sudah punya anak satu atau dua, maka jaga dan urus anak tersebut agar bisa hidup sehat, bisa bersekolah dengan baik, dan dapat bersaing di dunia kerja nanti.

“Keluarga miskin tidak boleh ada anak lagi, dan jaga itu saja, maka angka kemiskinan akan turun, angka stunting juga demikian. Ini harus menjadi gerakan. Seluruh kepala desa harus bergerak dan melarang keluarga miskin tidak boleh ada anak atau hamil lagi, kalau ada anak (lagi) masuk (kan ke) penjara,” tegas VBL dalam sambutannya saat berkunjung ke Desa Fatukoto, Kecamatan Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kamis (13/2/20).

VBL mengaku banyak hal yang ia temukan selama melakukan kunjungan kerja 4 hari di daratan Timor, mulai dari Kabupaten Malaka, Belu, TTU dan TTS.

Khusus di TTS, VBL mengatakan, angka stunting di TTS masih berkutat di angka 48 persen dan angka kemiskinan sebesar 27 persen lebih.

“Dua anak yang lahir, satunya terkena stunting. Karena itu tahun 2021, stunting harus 0 persen, kalau tidak nol, stunting harus di angka 1 persen,” ujar VBL.

VBL mengatakan, dirinya akan fokus dan serius mengurus stunting dan kemiskinan di daratan Timor Barat, khususnya di tiga kabupaten, yakni TTU, TTS, dan Kabupaten Kupang.

“Uang kita punya, uang ada, bukan tidak ada. Uang ada, manusianya ada. Masa tidak jadi? Ini yang kerja bukan hanya bupati, tapi gubernur juga. Maka tahun 2021 untuk TTS angka stunting maksimal nihil, dan paling tinggi 1 persen, karena uangnya ada, masalahnya ada dimana? Masalahnya karena kita tidak mau kerja,” ucap VBL.

Menurut VBL, pengentasan stunting di NTT terbentur kebiasaan masyarakat, terutama ibu hamil. Sebab kebanyakan ibu hamil di kampung-kampung merasa lebih nyaman mengaku hamil ke dukun beranak atau tim doa, ketimbang ke orang tua atau bidan.

Akibatnya, janin di dalam perut tidak mendapat asupan gizi dengan baik. Karena pengetahuan tentang gizi yang dimiliki dukun beranak dan tim doa sangat terbatas.

“Jadi,,, pak bupati, yang dukun beranak dan tim doa itu perlu di rekrut untuk kita bisa tahu informasi siapa saja yang datang mengaku hamil”, ujar VBL sambil mengarahkan pandangannya ke arah Bupati TTS, Epy Tahun.

Lanjut VBL, kalau yang hamil itu hidupnya cukup (secara ekonomi) yah biarkan saja. Tapi (jika) yang hamil itu orang miskin, mestinya kita larang (dia untuk) bersetubuh atau berhubungan (intim) lagi. Hubungan (intim boleh) tapi (harus) pakai kondom terus. Karena dia miskin, dia hamil bikin tambah anak, berarti kita bukan hanya stunting yang meningkat, tetapi angka kemiskinan juga meningkat.

KK miskin tidak boleh ada anak lagi, dan jaga itu saja, maka angka kemiskinan akan turun dan stunting juga demikian. Ini harus menjadi gerakan, seluruh kepala desa larang kk miskin punya anak lagi, kalau ada anak (lagi) masuk (kan ke) penjara.

Jadi,,, kalau sudah punya satu anak, tunggu dulu, jangan tambah lagi. Kita harus mulai, suka tidak suka, ini gerakan.

Siapkan lapangan kerja, sudah bekerja, baru bisa ada anak. Kita kendalikan pertumbuhan untuk kalangan keluarga miskin ini.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat berada di Desa Fatukoto, Kecamatan Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kamis (13/2/20).

Pada tempat yang sama, Bupati TTS, Epy Tahun, mengatakan, pihaknya sedang terus berupaya menekan angka stunting lewat sejumlah program kerja, diantaranya program tanam air dan kebun 1 hektar yang kini sudah terlaksana di 266 Desa di TTS.

“Harapannya kedepan ada banyak air yang ditanam di bumi TTS. Jika setiap desa pada musim penghujan saat ini menanam, maka akan cukup pangan,” ucapnya.

Menurut Epy, sesuai data terakhir, angka stunting di TTS hanya berjumlah 8 persen, bukan 40 persen lebih seperti yang tersiar selama ini.

“Banyak yang ingin datang cek data stunting yang ada, kalau bisa datang dan bermalam di TTS,” pintanya.

Walau begitu, Epy mengaku, angka kemiskinan di daerahnya sangat tinggi. Karena itu, pihaknya terus berupaya menekan angka kemiskinan dengan cara mendorong keluarga miskin agar segera keluar dari keterpurukan ekonomi.

“Mulai bulan Februari (2020) ini, dana desa diperioritaskan untuk KK miskin,” tutupnya. (sel/sel)

4 COMMENTS

  1. Org miskin ttap dpat mkn n menghidupi keluarganya,,,,,
    Klo mau berhubungan sama istri harus memakai kon**m untuk pa punya istri???
    Lebih baik pergi perempuan malam,slesai bayar n pulang,beban tanggung jawab tidak da..

  2. Ah… Justru yang harus di lakukan adl mencari penyebab kenapa masih ada warganya yang miskin–ini malah mengurusi mau ada anak lagi/tidak..!!

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.