Gereja Kasih Anugrah yang berada di dalam Lapas Permisan, Pulau Nusakambangan, Cilacap.

sergap.id, CILACAP – Siang kemarin, satu per satu narapidana masuk ke Gereja Kasih Anugrah yang berada di dalam Lapas Permisan, Pulau Nusakambangan, Cilacap.

Ruang gereja tampak penuh dengan narapidana yang melakukan ibadah perayaan Natal. Suasana tampak khidmat saat John Refra Kei (52) memberikan khotbahnya kepada jemaah gereja sambil membacakan beberapa bagian dari Alkitab.

Bagi John Refra Kei atau biasa dipanggil John Kei, suasana Natal kali ini sangat memberikan kedamaian bagi dirinya. Banyak yang sudah mengubahnya saat berada di dalam jeruji besi.

John Kei menjalani hukuman terkait kasus pembunuhan bos PT Sanex Steel, Tan Harry Tantono alias Ayung.

“Natal sangat berarti dalam kehidupan saya, karena Natal membawa damai dalam kehidupan saya. Jadi Natal itu mengajarkan saya bahwa saya harus bisa mengasihi antar sesama, bisa mengasihi antar semua komunitas. Jadi bukan hanya saya mengasihi satu komunitas, tapi semua komunitas saya harus saling mengasihi dan saling mencintai,” kata John Kei seperti dilansir detik.com, 24 Desember 2019.

Banyak perbedaan ketika John Kei harus merayakan Natal di penjara dan berkumpul bersama keluarga di rumah. Namun hal itu dia rasakan saat masih di dalam kehidupan yang lamanya, saat masih malang melintang di dunia hitam di Jakarta dan sekitarnya.

“Memang ada beda ya, bedanya kalau merayakan Natal di luar (penjara) bisa berkumpul dengan anak istri dan keluarga. Itu yang membahagiakan,” kata John Kei.

Saat ini, John Kei sudah merasakan tak ada bedanya antara Natal di rumah bersama keluarga atau Natal di penjara. Sebab dia menganggap bahwa semua narapidana yang ada di Nusakambangan adalah keluarganya.

“Setelah saya sudah dekat sama Tuhan, saya pikir Natal di dalam di penjara maupun Natal di rumah, sama saja. Karena saya anggap semua yang ada di lingkungan saya ini adalah pengganti keluarga saya, mereka adalah sahabat-sahabat saya yang mengganti anak istri saya dan itu saya merasa bahagia selalu,” ucapnya.

John Kei saat menjadi mentor pengganti khotbah di Gereja Kasih Anugrah di Lapas Permisan, Pulau Nusakambangan, Cilacap.

Bahkan kini, John Kei telah menjadi mentor pengganti khotbah jika pendeta berhalangan hadir di Lapas Permisan. Semua itu menjadi titik balik dirinya yang mengubahnya saat berada di Lapas Batu yang merupakan lapas High Risk atau lapas beresiko tinggi.

“Kalau pendeta dari luar tidak datang, saya jadi mentor pengganti khotbah, biasanya 2 bulan sekali, bisa 3 bulan sekali, kalau pas pendetanya berhalangan aja untuk ke sini, saya menjadi mentor, di situlah saya belajar khotbah,” ujarnya.

Saat di lapas high risk tersebut, John Kei harus berada di ruang isolasi dan hanya bisa melihat tembok sekeliling.

“Mungkin program revitalisasi ini yang bikin saya di LP High Risk (selama) 3 bulan itulah yang membentuk saya, dan saya di sini dibentuk oleh Tuhan juga. Ya mungkin Tuhan menaruh saya di high risk, dan saya diubahkan di high risk, maka hari ini saya sekarang seperti ini, karena anugerah Tuhan,” ungkapnya.

Selan menjadi mentor pengganti khotbah di gereja, John Kei juga aktif belajar tenun batik di penjara.

Menjelang Natal kali ini, John Kei mengungkapkan jika dirinya kembali mendapatkan remisi. Berarti ini adalah Natal terakhirnya di Nusakambangan. Setelah itu ia akan bebas.

“Kalau saya dapat remisi mungkin lebih awal (bebas). Saya sangat bahagia merayakan Natal yang terakhir di penjara. Makanya, jadi Natal sekarang ini bagi saya sangat berkesan karena tahun terakhir penjara,” ucapnya.

John Kei yang tersangkut kasus pembunuhan divonis selama 16 tahun penjara pada tahun 2012. Selama ini dia harus berpindah-pindah sel tahanan, mulai dari Lapas Salemba hingga lapas-lapas di Nusakambangan.

“Vonis 16 tahun ada potongan-potongan. Ya potongan remisi saya ada sekitar 3 tahun lebih lah. Tahun-tahun ini saya dapat remisi 10 bulan, remisi umum 6 bulan, remisi pemuka 2 bulan (sebagai mentor pendeta), remisi Natal 2 bulan,” urainya.

John Kei saat dilumpuhkan polisi dan di bawa ke Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (9/3/2012)

Perasaan bahagia dan senang sangat terlihat dalam diri John Kei, meskipun dirinya belum mendapatkan informasi akan remisi tersebut. Namun waktu untuk mendapatkan remisi itu selalu dinantinya, terlebih untuk bertemu keluarga.

“Wow perasaan kami sangat-sangat bahagia, sangat senang, sangat sukacita dalam segala hal. Mungkin waktu waktu dalam perjalanan saya mau 8 tahun, ini saat-saat yang sangat saya mau cepat-cepat. Padahal menghitung hari selama 6 tahun, 8 tahun biasa saja, tapi semakin dekat ini semakin rindu untuk ketemu sama keluarga,” ungkapnya.

Lalu, apa rencana John Kei setelah bebas dari Lapas Nusakambangan? John Kei telah berkomitmen jika bebas dari penjara, salah satunya dia akan memberikan pelayanan dari penjara ke penjara. Termasuk menjadi pribadi yang pemaaf.

“Iya paling saya pertama-tama mengucapkan puji syukur dulu kepada Tuhan, yang kedua mungkin saya melayani dari penjara ke penjara, itu sudah komitmen, memberikan pelayanan dari penjara ke penjara,” ujarnya.

“Saya suka dan tidak suka, mau dan tidak mau, setelah saya baca firman ternyata memang Tuhan saya mengajarkan bahwa kalau mau masuk Kerajaan Surga dan harus mau diampuni sama Tuhan, berati kan kamu harus mengampuni musuhmu. Harus bisa memaafkan musuhmu, kalau tidak bisa mengampuni musuhmu, maka Bapak di Surga tidak akan mengampuni saya,” tutupnya. (dtk/sgp)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.