
sergap.id, MBAY – Gempa mengguncang. Rumah-rumah rusak. Warga bertahan dalam ketidakpastian. Bantuan pun berdatangan. Namun di tengah situasi itu, muncul sebuah ironi. Ketika bantuan Rp1 miliar datang, warga terdampak justru masih menunggu kehadiran pemerintah. Koq bisa?
Minggu (23/8/2026), Aula Kevikepan Mbay menjadi tempat penyerahan bantuan kemanusiaan senilai Rp1 miliar dari Andi Gani Nena Wea, putra almarhum mantan Menteri Tenaga Kerja era Presiden Megawati Soekarnoputri.
Bantuan diserahkan oleh William Yani Wea, kakak Andi Gani.
Sebanyak Rp500 juta disalurkan melalui Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo dan diterima Wakil Bupati Nagekeo, Gratianus Muga Sada alias Gonzalo, selaku Ketua Satgas Tanggap Bencana Daerah.
Sedangkan Rp500 juta lainnya disalurkan melalui Kevikepan Mbay dan diterima Wakil Vikep Mbay sekaligus Ketua Tim Tanggap Darurat Kevikepan Mbay, RD. Basilius Lewa.
Tapi di balik penyerahan bantuan tersebut, ada suara berbeda dari warga terdampak yang berada di wilayah Paroki Santo Yakobus Rasul Kotakeo, Kecamatan Nangaroro.
RD Oncy Deru yang adalah Pastor Paroki Santo Yakobus Rasul, mengatakan, hingga Minggu (23/8/2026), bantuan dari Pemkab Nagekeo kepada warga di wilayah parokinya baru diterima satu kali.
Itu pun hanya sebagian warga yang menerima. Sebab di wilayah ini sangat banyak korban.
Menurut RD. Oncy, pascagempa 15 Agustus 2026, sedikitnya tiga wilayah dalam pelayanan parokinya mengalami kerusakan serius.
Di Stasi Santo Benediktus Ikiseo, wilayah transmigrasi, sekitar 50 rumah sudah tidak layak dihuni.
Rumah-rumah itu memang tidak seluruhnya roboh. Tetapi kondisinya mengkhawatirkan. Tembok mengalami keretakan dan bergoyang sehingga warga tidak lagi berani menempatinya.
“Dari kondisi ini, umat sangat membutuhkan perhatian yang serius,” ujar RD. Oncy kepada SERGAP, Minggu (23/8/2026).
Kerusakan juga terjadi di Stasi Lea, Desa Degalea. Enam rumah roboh rata dengan tanah, sementara sejumlah rumah lainnya mengalami kerusakan berat.
Di Stasi Santo Martinus Watuwoso, dua rumah roboh dan puluhan rumah lainnya mengalami kerusakan berat.
Namun di tengah kondisi tersebut, menurut RD. Oncy, Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo Donatus Simplisus dan Gonzalo atau pejabat lain belum pernah turun langsung melihat keadaan warga terdampak.
“Sejauh ini pihak Pemda belum turun langsung,” tegasnya.
50 Rumah Transmigras
Yang lebih mengkhawatirkan, kata RD. Oncy, kondisi 50 rumah di wilayah transmigrasi Ikiseo menunjukkan persoalan konstruksi.
Rumah-rumah tersebut merupakan bangunan transmigrasi yang dibangun melalui proyek pemerintah.
Setelah gempa, kondisi konstruksi bangunan mulai terlihat. Sebagian besar, bahkan hampir seluruh rumah tersebut, sangat minim penggunaan besi.
“Memang rumah-rumah itu tidak semuanya roboh, tetapi kondisinya sudah sangat tidak aman. Kita sentuh temboknya saja bisa bergoyang. Karena itu, masyarakat tidak berani lagi menempatinya,” ungkap RD Oncy.
Dari pernyataan RD Oncy itu, proyek tersebut patut diselidiki aparat penegak hukum.
-
Jalan Rusak
Tak hanya rumah roboh, menurut RD. Oncy, sejumlah ruas jalan di wilayah Kotakeo dalam kondisi rusak berat. Warga harus berhati-hati ketika melintas.
Jarak wilayah Kotakeo yang cukup jauh dari pusat pemerintahan kabupaten juga dinilai membuat masyarakat merasa kurang mendapat perhatian.
Karena itu, RD. Oncy berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat turun melihat langsung kondisi warga.
Jumlah umat di Paroki Santo Yakobus Rasul Kotakeo mencapai sekitar 3.765 jiwa.
“Kami sangat berharap pemerintah memberikan perhatian serius kepada masyarakat kami,” katanya.
Oncy juga berharap pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat di wilayah yang menurutnya cukup terpencil itu.
-
Bukan Sekadar Bantuan
Dan di sinilah persoalan menjadi lebih tajam.
Menurut RD. Oncy, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus maupun Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo belum pernah datang menemui warga terdampak di wilayah pelayanannya sejak gempa terjadi.
“Perhatian Pemda Nagekeo masih sangat minim. Bantuan baru satu kali dibagikan kepada warga di paroki kami,” ungkap RD. Oncy.
Ia menegaskan, warga tidak hanya perlu bantuan. Mereka juga membutuhkan pemerintah datang melihat langsung keadaan mereka.
“Pemda belum pernah datang bertemu warga. Hanya bantuan yang datang, itu pun baru satu kali,” tegasnya. (sg/sg)
































