
sergap.id, ATAPUPU – Patung Bunda Maria Segala Bangsa atau PBM Teluk Gurita bukan sekadar bangunan religi. Berdiri megah di kawasan dermaga feri Teluk Gurita, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, destinasi ini perlahan menjelma menjadi salah satu magnet wisata di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor-Leste.
Namun di balik kemegahannya, pengembangan kawasan PBM masih menghadapi persoalan klasik, yakni keterbatasan anggaran.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belu, Januaria Nona Alo, mengatakan penataan kawasan PBM sempat terhenti sejak 2019 akibat pergantian pemerintahan, kemudian diperparah pandemi COVID-19 yang berdampak pada kemampuan anggaran daerah.
Penataan kembali mulai dilakukan pada 2023 dan 2024 melalui dukungan Kementerian Pariwisata. Pada 2025, pemerintah daerah kembali mengalokasikan APBD untuk sejumlah pekerjaan, di antaranya pembangunan pagar depan dan dapur.
Meski demikian, masih ada pekerjaan penting yang belum tuntas.
Pemerintah daerah masih membutuhkan penataan area parkir dan pembangunan pagar keliling. Pagar tersebut sangat penting untuk menjaga kawasan wisata dari gangguan hewan peliharaan masyarakat yang berkeliaran bebas dan kerap masuk ke area PBM.
“Usulan bantuan pembangunan pagar pengaman sebenarnya telah diajukan kepada pemerintah pusat sejak akhir 2024. Namun, perubahan nomenklatur dan restrukturisasi kementerian membuat dukungan tersebut belum terealisasi”, jelasnya.
Karena itu, menurut Januaria, Pemerintah Kabupaten Belu akhirnya memilih melanjutkan penataan PBM secara bertahap melalui APBD.
500 – 600 Orang Pengunjung
Di tengah keterbatasan infrastruktur, ternyata daya tarik PBM tidak kendor.
Petugas parkir PBM, Ida da Silva, mengatakan kunjungan wisatawan cukup ramai, terutama di akhir pekan.
Wisatawan nusantara masih mendominasi. Pada Sabtu, jumlah pengunjung rata-rata bisa menembus lebih dari 300 orang.
“Kalau hari Minggu bisa mencapai 500 sampai 600 orang,” terang Ida.
Wisatawan mancanegara juga tercatat datang ke PBM. Pada hari tertentu, jumlahnya dapat mencapai sekitar 30 orang, dan di akhir pekan meningkat menjadi 50 – 60 orang.
Momentum kunjungan juga biasanya meningkat pada Mei dan Oktober, saat Bulan Maria.
“Pada hari biasa, pengunjung memang lebih sedikit, berkisar 20 hingga 30 orang per hari”, ucap Ida.
Retribusi juga diberlakukan berdasarkan kendaraan yang masuk. Untuk wisatawan nusantara, tarifnya Rp20 ribu untuk mobil dan Rp8 ribu untuk sepeda motor. Sementara kendaraan wisatawan mancanegara Rp45 ribu.
-
Target 16 Juta Per Bulan
Januaria menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Belu menargetkan pendapatan Rp16 juta per bulan dari destinasi tersebut. Namun, angka kunjungan cenderung menurun saat musim hujan, terutama Januari hingga Februari.
PBM tidak berdiri sendiri. Belu masih memiliki beragam destinasi wisata, mulai dari alam pegunungan dan pantai, wisata budaya, religi hingga wisata buatan.
Destinasi yang juga terus didorong antara lain Kampung Adat Matabesi, Duarato, Nualain, kawasan Rai Manuk, Gereja Batu Laktutus, Rumah Doa Mgr. Gabriel Manek hingga taman doa A Jesus Por Maria Atapupu atau Gua Maria di Weain, Desa Kenebibi.
Dinas Pariwisata juga mulai menggenjot promosi melalui media sosial dan kegiatan berbasis komunitas.
Salah satunya Malam Ave Maria yang digelar setiap 31 Mei untuk menutup Bulan Maria. Kegiatan perdana tersebut mendapat respons positif masyarakat dan menjadi salah satu cara menghidupkan wisata religi di kawasan PBM.
Di pusat Kota Atambua, geliat ekonomi wisata juga didorong melalui Car Free Day dan Night Market yang digelar setiap Sabtu.
Kegiatan tersebut telah berjalan sekitar dua tahun dengan mengandalkan swadaya masyarakat serta kolaborasi berbagai pihak. UMKM, komunitas olahraga, lembaga swasta hingga instansi pemerintah ikut mengambil bagian.
-
Komitmen
Dengan panorama Teluk Gurita dan ikon Patung Bunda Maria Segala Bangsa, PBM memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu destinasi unggulan Belu.
Namun, peluang tersebut masih membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai. Parkir yang representatif, pagar keliling, kenyamanan pengunjung hingga promosi yang konsisten menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Pariwisata.
“Kita berkomitmen menyelesaikan pekerjaan yang tersisa”, tutup Januaria. (cis/cis)































