sergap.id, ENDE – Gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 meninggalkan korban jiwa, kerusakan bangunan dan kerugian material. Di tengah situasi darurat tersebut, Keuskupan Agung Ende membentuk Tim Tanggap Darurat Bencana Gempa Flores untuk memperkuat penanganan korban sekaligus memastikan bantuan kemanusiaan tepat sasaran.

Langkah tersebut tertuang dalam surat Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Nomor 149/UAE/17082026 tertanggal 17 Agustus 2026 tentang Langkah Tanggap Darurat Keuskupan Agung Ende atas Bencana Gempa Bumi Flores.

Keuskupan Agung Ende menyampaikan keprihatinan dan dukacita mendalam atas bencana tersebut. Umat diajak tidak larut dalam kepanikan, tetapi saling menguatkan dan menjaga harapan.

Tim tanggap darurat dipimpin RD Reginald Pipperno Bego sebagai ketua, RD Klarita Julian Rembo One sebagai sekretaris, serta Sr. Kristina Ngura, CSV, Maria Petrosia Tawa Uma dan Christina Rosalia Ema Tukan sebagai bendahara.

Koordinasi lapangan dibagi ke tiga wilayah kevikepan.

Kevikepan Ende dikoordinasikan RD Giovani Don Bosco Seso, Kevikepan Mbay oleh RP Charles L. U. S. Ame Talu, OFM, sedangkan Kevikepan Bajawa dikoordinasikan RD Florianus Ifan Dhendi.

Sejumlah divisi juga dibentuk untuk memastikan respons berjalan terarah, yakni Divisi Data dan Assessment, Logistik dan Distribusi, Pendampingan Pastoral dan Pemulihan, Media Center serta Kesehatan.

  • Posko di Paroki

Posko utama ditempatkan di Rumah Bina PSE Keuskupan Agung Ende, Jalan Durian Nomor 12, Kelurahan Mautapaga, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende.

Jaringan bantuan diperluas ke sejumlah paroki.

Di Kevikepan Ende, posko berada di Paroki St. Yosef Freinademetz Mautapaga dan Paroki St. Yohanes Paulus II Ropa.

Di Kevikepan Mbay, bantuan dipusatkan di Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo dan Paroki St. Fransiskus Xaverius Boawae.

Sementara di Kevikepan Bajawa, posko berada di Paroki MBC Bajawa serta Paroki St. Petrus dan Paulus Bekek.

Penyaluran bantuan akan dikoordinasikan dengan koordinator lapangan masing-masing kevikepan. Tujuannya jelas, jangan sampai bantuan menumpuk di satu tempat sementara korban di tempat lain justru menunggu.

  • Beras, Air Minum hingga Obat-obatan Mendesak

Kebutuhan yang dinilai mendesak meliputi beras, telur, mi instan, minyak goreng, susu bayi dan anak-anak, popok bayi, obat-obatan serta air minum kemasan.

Bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan dalam bentuk uang, Keuskupan Agung Ende menyediakan rekening BRI atas nama KKP-PMP SATU UNTUK KEMANUSIAAN, nomor rekening 7530-01-030525-53-7.

Namun respons kemanusiaan tidak hanya berbicara tentang makanan dan obat-obatan.

Keuskupan juga menyiapkan pendampingan pastoral dan pemulihan bagi masyarakat yang terdampak.

Dalam masa tanggap darurat, pelaksanaan kegiatan keagamaan diminta menyesuaikan kondisi di lapangan.

Mengacu pada SK Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 305/KEP/HK/2026, status tanggap darurat gempa bumi berlaku 15–28 Agustus 2026.

Selama masa tersebut, perayaan Ekaristi di paroki diimbau sedapat mungkin dilaksanakan di tempat terbuka.

Pelayanan Baptis, Komuni Pertama dan pernikahan juga dianjurkan ditunda. Umat diminta menghindari pertemuan besar di dalam gedung sampai ada penyampaian lebih lanjut.

  • Jangan Panik dengan Informasi Palsu

Di tengah kondisi darurat, Keuskupan Agung Ende juga mengingatkan umat agar tidak sembarangan menerima dan menyebarkan informasi.

Informasi yang belum terverifikasi diminta tidak disebarluaskan karena berpotensi memicu kepanikan baru.

Himbauan tersebut disampaikan melalui surat yang ditandatangani Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, di Ndona pada 17 Agustus 2026.

  • Dua Posko di Boawae

Pastor Paroki St. Fransiskus Xaverius Boawae, RD Kletus Djo, mengatakan, ada dua posko bantuan yang ditempatkan Boawae.

“Iya. Disini ada dua posko”, ujar Romo Kletus kepada SERGAP via Phone, Kamis (20/8/26) pagi. (sg/re)