Tempat Kejadian Perkara tenggelamnya ibu Sumyati Ahmad (45), Jumat (16/6/17).

sergap.id, MBAY – Seorang ibu di Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo, meninggal dunia secara mengenaskan setelah berusaha menyelamatkan dua keponakannya yang nyaris tenggelam saat mandi di parit primer irigasi Mbay Kanan, Jumat (16/6/17).

Perempuan yang tengah hamil 3 bulan itu bernama lengkap Sumyati Ahmad (45 tahun) dan biasa disapa ibu Enga, warga RT005 Lingkungan Kolikapa, Kelurahan Mbay I, Kecamatan Aesesa, Nagekeo.

Informasi yang dihimpun SERGAP.ID, menyebutkan, sekitar 08:00 Wita, Enga bersama dua ponakannya, yakni Lisma (10 tahun) dan Izah (11 tahun) menuju parit untuk mencuci pakaian.

Jarak Tempat Kejadian Perkara (TKP) itu sekitar 200 meter dari rumah korban.

Ketika Enga sedang mencuci, kedua ponakannya melompat ke dalam parit untuk mandi. Namun keduanya tidak bisa berenang.

Benar saja, tak lama kemudian Sumyati mendengar ada teriakan minta tolong dari dua ponakannya itu.

Melihat ponakannya nyaris tenggelam, wanita yang telah dikarunia 4 anak itu pun spontan melompat ke dalam air untuk menolong. Berkat usahanya, nyawa kedua anak itu selamat. Namun ia sendiri justru terseret arus air.

Kasat Pol PP Kabupaten Nagekeo, Elias Tae, menjelaskan, sesaat setelah Enga menyelamatkan Lisma dan Izah, dirinya kebetulan lewat di TKP.

“Saya lihat, kok banyak orang. Saya turun dari kendaraan dan bertanya, ada apa ini? Kata warga, ada seorang ibu tenggelam. Mendengar itu, saya langsung menuju Bendungan Sutami dan menutup pintu air menuju parit primer tempat korban tenggelam,” kata Elias.

“Setelah itu, saya kembali ke TKP dan menelpon anggota saya. Saya juga menelpon anggota Polsek Aesesa dan Anggota Koramil Aesesa untuk mengevakuasi korban. Beberapa warga juga ikut menyelam. Akhirnya kita berhasil menemukan korban. Saat di evakuasi, korban masih bernafas. Tapi saat korban di antar ke rumah sakit, di tengah jalan korban meninggal,” papar Elias.

Mursalim Ahmad

Tempat Angker

Mursalim Ahmad (46), salah satu keluarga korban, mengatakan, setiap tahun di tempat tenggelamnya Enga selalu memakan korban.

“Di tempat itu sudah puluhan orang yang mati tenggelam, baik anak-anak, remaja atau orang dewasa. Tempat itu memang angker. Setiap tahun selalu ada korban. Anehnya lagi, setiap orang yang mati tenggelam, jasadnya selalu di temukan di bawah pohon beringin dekat jembatan, tempat orang biasa berjualan ikan. Kita mau tidak percaya (angker), tetapi faktanya demikian,” katanya.

Menurut Mursalim, warga setempat percaya bahwa pohon beringin tersebut merupakan tempat hunian mahluk halus, dan setiap tahun selalu memakan korban nyawa manusia.

Korban saat sudah disemayamkan di rumah duka, Jumat (16/6/17).

Enga Ditemukan 200 Meter dari TKP

Kapolsek Aesesa, Kompol Jamaludin, mengatakan, Enga ditemukan sekitar 200 meter dari TKP.

“Kurang lebih satu jam,  warga di bantu polisi, anggota TNI dan Pol PP mencari korban. Sekitar pukul 10.30 Wita korban ditemukan yang jarak kurang lebih 200 meter dari TKP. Korban kemudian diangkat ke darat lalu di bawa ke Puskeamas Aeramo dengan menggunakan mobil Ambulance. Tapi dalam perjalanan nyawa korban tidak bisa diselamatkan akibat kehabisan oksigen,” kata Jamaludin. (Sherif Goa)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.