SDI Merdeka
SDI Merdeka

sergap.id, LAMAHORA – Mantan Plt Kepala Sekolah (Kepsek) SDI Merdeka, Agata Kewa, membantah tudingan sejumlah guru SDI Merdeka bahwa dirinya telah menyalahgunakan kewenangan selama menjadi Plt Kepsek.

Dia juga menepis isu yang mengatakan bahwa dirinya telah meneferima fee dari Kabid Pembinaan SD Dinas PKO Lembata, Karel Sakeng.

Kepada SERGAP, Selasa (2/11/21) siang, Agata menjelaskan, dasar sering terjadinya keributan di SDI Merdeka disebabkan oleh ketidaksukaan guru-guru terhadap dirinya yang ditunjuk menjadi Plt Kepsek.

“Karena ada salah satu guru disitu dianggap lebih pantas menjadi Kepsek. Makanya mereka tidak suka saya”, tegasnya.

Jadi, lanjut Agata, apa yang disampaikan guru-guru dalam pemberitaan SERGAP itu adalah fitnah.

Bahwa kehadiran saya di SDI Merdeka hanya bisa bikin kaco, dan tidak memiliki tanggungjawab sebagai kepala sekolah. Saya pernah bikin kaco, kaco dalam hal apa dulu? Kaco yang diinformasikan itu adalah fitnah. Bahwa kaco yang saya buat itu adalah negatif, dimana hal-hal yang saya buat itu buruk dan tidak memajukan SDI Merdeka.

Padahal kaco yang saya buat, dalam pandangan saya adalah baik. Pertama, kehadiran saya di SDI Merdeka mulai pertengahan Desember (2019), dan di dalam kantor sekolah ada ayunan, ada matras, karena ada beberapa ibu masih menyusui. Ya saya terganggu dengan kondisi itu. Saya kemudian tegur dan mereka merasa terganggu. Karena keadaan itu sudah terjadi sejak kepala sekolah sebelumnya.

Saya kemudian biarkan sampai satu minggu, terus saya panggil, saya tegur, ibu kalau bisa, bawa ini (ayunan dan matras bayi) ke kelas. Karena saya juga punya anak, jadi saya masih toleran. Kemudian saya bilang, kalau ada pembantu, sewakan saja. Kamu kan guru sertifikasi. Kalau setiap hari bawa anak, lalu mengajar sambil nenen (menyusui), kan kurang baik.

Nah bikin kaco yang dimaksud itu apa?

Pada Maret kita dilanda covid. Karena covid, maka guru-guru dibagi per kelompok mengajar dari rumah ke rumah. Saya monitoring, dan sesuai petunjuk dari dinas. Saat itu berjalan baik-baik saja.

Kaco yang kedua adalah saar pengadaan printer sekolah. Waktu saya datang ke sekolah, dalam memori kepala sekolah lama, tercatat laptop dan printer dalam keadaan baik. Ternyata tidak.

Printer tidak ada, dan laptop dalam keadaan buruk serta berada di rumah salah guru, yaitu di rumahnya ibu Ety. Operator waktu itu sudah tidak betah di sekolah. Dia merasa tertekan. Operator itu akhirnya keluar.

Karena tidak ada operator, maka saya cari Pak Hila. Dia operator di Dinas PKO. Saya cari dia untuk bisa kerja. Kirim data, berita, dan lain-lain, termasuk data dapodik. Karena saya belum bisa buat laporan sendiri. Itu yang membuat mereka (guru-guru) tidak tenang. Karena (saya) minta uang (untuk bayar operator) itu.

Kaco ketiga, saat ada kunjungan tujuh orang dari Dinas berkaitan dengan pemeriksaan sarana dan prasarana (sarpras) sekolah.

Pada waktu itu, salah satu petugas spontan berkata, ini gudang atau sekolah? Saat itu saya terganggu. Sehingga saya terinspirasi untuk menata sekolah. Nah waktu itu di depan sekolah ada pohon-pohon besar yang umurnya sudah tua dan terancam roboh. Pohon-pohon ini juga membuat anak-anak capek membersihkannya. Daun kering masuk sampai ke dalam ruang kelas. Saya prihatin!

Karena dana bos belum ada, saya panggil ponakan kandung saya untuk tebang. Saya bilang ke dia, mama belum ada uang, tapi mama beli bensi, dan no (kau) tolong sensor dulu. Ini dimaksudkan agar tampak sekolah bagian depan menjadi bagus. Tapi saya ditentang habis-habisan. Dimarah, dicibir, dikatai, tetapi saya tenang. Saya tidak bernah kaco atau berkelahi seperti orang kampung. Saya diam. Lalu waktu rapat saya bilang, kita ini tidak ada lapangan untuk anak-anak olahraga, karena pohon besar-besar. Tapi mereka marah, jo ambil dana darimana?  Kemudian mereka soroti kenapa tidak ambil sensor disini, kenapa mesti ambil dari Waienga? Karena sensor Waienga bisa kompromi. Belum ada uang, tapi dia bisa tolong kita dulu. Itu karena saya mau merubah wajah sekolah menjadi lebih baik.

Yang berikut, sekolah kita menjadi cemohan gara-gara punya tiang bendera yang buruk. Pipanya kecil dan tangga di tugu tiang miring. Jadi anak-anak terkadang susah berdiri lurus karena posisinya miring. Karena prihatin, saya ajukan dalam RKS. Tapi saya ditentang. Uang darimana? Datang bikin diri seni-seni, mau buat ini itu. Padahal saya hanya mau tampilan sekolah berubah. Ada dana bos, kenapa tidak bisa?

Saya dikatakan otoriter karena saya paksakan kehendak tebang pohon, dan buat tiang bendera baru.

Kaco berikut soal pagar sekolah. Sekolah itu awalnya tidak ada jalan masuk. Saya kemudian dekati Pak Kepala Desa untuk buat jalan masuk keluar. Biar ribut-ribut, tapi akhirnya jadi.

Pokoknya berkaitan dengan dana bos pasti ribut, tapi kami tidak ribut yang sampai teriak-teriak seperti orang kampung.

Saya ini awalnya dari SDI Waienga dan kemudian ditunjuk menjadi Plt Kepsek di SDI Merdeka. Semua ide yang saya ajukan, diprotes oleh mereka (guru-guru). Karena apa? Karena uang!

Lalu yang berikut, di papan (informasi sekolah) pangkat saya sebenarnya III/c, tapi ditulis IV/a. Saya mau jelaskan begini, di kantor itu ada banyak papan data. Saya mulai buat perubahan waktu saya masuk. Itu saya akui bahwa saya tidak teliti. Dan itu hanya ada di satu papan yang tertulis pangkatnya IV/a. Itu data lama. Tapi dengan beredarnya berita ini, masyarakat akan menganggap saya memanipulasi pangkat saya, dan ini mencoreng nama baik saya.

Lalu soal sertifikasi yang selalu dipotong oleh Dinas Pendidikan. Guru-guru  mempermasalahkan dana sertifikasi yang dipotong hampir 1 juta per guru. Mereka takut bertanya kepada Pak Hengky. Takut mereka dipindahkan. Kenapa saya permasalahkan poin ini? Karena seolah-olah saya punya andil dalam pemotongan ini. Padahal itu urusan dinas.

Saya disebut hanya masuk sekolah selama satu jam dalam seminggu. Dengan alasan tugas koordinasi ke dinas. Itu fitnah! Kalau saya ke sekolah, kebiasaan guru disitu, mereka terganggu. Mereka selalu datang terlambat. Sudah di atas jam delapan, dan saya sendiri juga sering terlambat, karena motor satu saja, dan biasanya antar anak ke sekolah dulu, baru antar saya ke sekolah.

Tapi ketika saya datang, kadang ketemu hanya 1 guru yang mengukur suhu badan. Guru lain belum ada. Tapi itu juga terjadi belakangan ini, karena saya sedang kerja SKP. Saya pergi langsung pulang. Tapi saya disebut masuk sekolah hanya satu jam dalam seminggu. Ini fitnah keji.

Berikut saya disebut sering marah-marah dan mengancam akan memindahkan para guru yang tidak mengindahkan perintah saya. Itu fitnah. Ini mencemarkan nama baik saya. Karena saya tidak pernah ancam.

Di sekolah itu, ibu Erlin itu berlagak seperti kepala sekolah. Sejak saya masuk di sekolah itu, dia buat saya terhina sekali. Dia risih sekali dengan saya. Saya salah apa? Saya hanya datang menjalankan kepercayaan yang diberikan oleh Bapak Bupati. Tapi toh saya dihina. Walau begitu saya selalu rendah hati sapa mereka.

Lalu supaya adminstrasi beres, saya cari kepala sekolah, teman saya, namanya Kanis Tome, untuk bantu. Itu pun dia (Erlin) protes setengah mati. Kenapa mesti begini? Kenapa mesti begitu? Bakalai dengan saya, dia tunjuk saya, dia katai saya; guru kepala model apa kau?

Itu kaco-kaco yang terjadi.

Berikut soal perjalanan dinas. Sesuai RKS, sekali perjalanan dinas Rp 100 ribu. Tapi dalam catatan saya, dia (Erlin) coret biaya perjalanan dinas itu. Bukti ada. Dia kasi Rp 50 ribu, Rp 25 ribu. Saya terima. Dia tidak menghargai saya sama sekali. Dia lancang sekali. Omong tentang RKS juga dia tau semua. Dia bilang, sudah mama, nanti saya yang urus.

Saya cek buku-buku, dia tidak kasi tunjuk. Nanti sudah pertengahan, baru dia bilang sudah beres mama. Saya tinggal tandatangan. Itu kesalahan saya. Saya tidak punya koordinasi yang baik, yang sepatutnya saya kontrol.

Karena dia menganggap saya bodoh, waktu saya minta semua bukti belanja, dia tidak kasi. Ujung-ujung dana Silpa tahun lalu. Itu karena dia pergi ke Larantuka, kita telepon-telepon, dia tidak pulang. Itu trik dia untuk menjatuhkan saya.

Tahun lalu ada uang Rp 1,7 juta. Mereka baku bagi. Saya tidak setuju, tapi karena mereka sudah baku bagi, ya sudah. Saya tidak mau mereka begitu, karena saya fokus di penataan sekolah, ya perbaikan pintu, jendela, dan lain-lain.

Soal dana pelicin. Ini juga fitnah. Benar bahwa pernah ada 7 orang dinas ke sekolah untuk periksa kami. Saat itu kami tidak ada persiapan makan minum. Setelah periksa habis, mereka pulang. Saya kemudian bisik, aiii mereka tidak makan, biar kasi mereka uang sedikit untuk mereka minum di jalan. Itu pun hanya Rp 200 ribu.

Mereka (orang dinas) tolak. Mereka tidak mau mati-matian. Tapi saya bilang, ini budaya kita, biar kamu pakai untuk minum di Lewolein.

Pernah juga sekali saya ke dinas, kerja sarpas sampai jam 4 sore. Saya kasi mereka uang Rp 50 ribu untuk beli kopi. Pulang dari situ saya lapor ke sekolah. Tapi mereka (guru-guru SDI Merdeka) bilang, eh ko kepala sekolah berkorban sedikit kah!

Siapa yang tidak jengkel? Saya tidak tuntut ganti, tapi semua tau saya ini tidak punya apa-apa. Saya hanya bisa bantu hidupkan keluarga saya dengan gaji saya. Apalagi saya belum menjadi guru sertifikasi. Karena saya tahu sekolah ada biaya operasional, maka saya minta ganti. Bukan untuk pelicin. Ini budaya kita. Masa orang kerja setengah mati, hanya untuk minum the saja kita tidak bisa kasi?

Dan, selama saya menjadi Plt Kepsek, tidak pernah ada tekanan dari dinas. Dan saya tidak pernah minta uang untuk pelicin dari dana BOS.

Berikut menyangkut mebel. Kita pesan. Awalnya kita pesan di ibu Erna. Tapi musti bayar dulu, baru barangnya dikasi. Tapi karena dana Bos belum ada, saya ke dinas. Saya ketemu Kabid Karel Sakeng. Saya bilang ke dia, saya mau pesan mebel. Saya butuh meja biro dua, lemari dua. Dia bilang oh bisa ibu. Lalu bahannya saya tidak omong. Karena dalam RKS tidak ada tertulis mebel harus pakai bahan apa. Tapi saya ingatkan, bapa tolong jaga kualitasnya. Dia jawab, iya ibu.

Sesudah itu datanglah lemari dan meja biro (seharga Rp 9 juta). Reaksi guru, ada satu guru datang langsung tendang itu meja biro. Ibu Anas yang tendang. Ibu Erlin angkat-angkat dia punya laci. Sedangkan guru lain saya panggil baik-baik, saya bilang, tidak sopan. Kita ini guru. Kita penganjur nilai, tidak sopan seperti itu.

Saya omong sambil menangis. Saya bilang ke pengantar lemari dan meja biro, kalau barang ini tidak berkualitas dan dikembalikan, tolong diterima. Uang seribu pun saya tidak terima dari pembelian lemari dan meja biro itu. Tapi di rapat mereka bilang, mungkin ibu kepala sekolah tu sudah terima fee dari Pak Kabid.

Suatu hari saya pernah datangi rumah Pak Kabid. Saya minta dia datang ke sekolah untuk klarifikasi bahwa saya tidak terima fee. Tapi dia tidak ke sekolah.

Saya tidak pernah terima fee. Tapi dalam pikiran guru-guru, saya terima.

BACA JUGA: Bupati Diminta Copot Plt Kepsek SDI Merdeka

Terakhir, saya mau jelaskan bahwa saya dicopot bukan karena saya diduga korupsi dana Bos, tapi karena saya tidak memenuhi syarat. Saya ini belum memiliki sertifikasi Kepala Sekolah. Saya juga belum menjadi guru sertifikasi. (kf/kf)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here