Maria Woli Rudolfus Gala Kristo Tolar
Dari Kiri: Rudolfus Gala, Kristo Tolar, Maria Woli.

sergap.id, LEREK – Mantan Penjabat Kepala Desa (Kades) Lerek, Hendrikus Patal Watun, telah mengembalikan sebagian uang dugaan korupsi  yang terjadi sejak tahun 2019 hingga 2021.

Demikian disampaikan mantan Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Lerek, Maria Woli, Senin (6/6/22).

Walau begitu, menurut Maria, masih ada beberapa item anggaran yang belum dipertanggungjawabkan oleh Patal Watun, termasuk biaya pengadaan dinamo air plus pipa air senilai Rp 130 juta.

“Tadi pagi (Senin, 6/6/22) kami diundang rapat di Kantor Desa untuk membuat kesepakatan tentang masalah dinamo air itu. Tapi dalam pertemuan itu, Ketua BPD mengatakan bahwa ini adalah urusan lembaga pemerintah desa dengan BPD. Pernyataan ini yang membuat saya agak emosional, saya bilang, terus kehadiran kami disini dengan serta merta kah? Kami diundang Pak. Makanya kami hadir. Hadir disini untuk membicarakan hal ini. Karena ini kepentingan masyarakat. Terus Bapak sebagai Ketua BPD selama ini ada dimana? Tidak menjalankan tugas sebaik mungkin! Tugas dan fungsinya tidak jalan, sehingga (kondisi keuangan desa) seperti ini”, bebernya.

Maria mengaku, ia akhirnya meninggalkan ruang rapat karena tersinggung dengan pernyataan Ketua BPD.

“Saya minta maaf ke Bapak Desa, saya tinggalkan ruangan rapat. Karena tidak ada penyesalan dari apa yang telah mereka perbuat (korupsi dana desa). Karena sampai hari ini, sejak tanggal 10 Mei Inspektorat (Kabupaten Lembata) selesai audit dana desa,   bendahara desa (Helena Geu Watun) juga tidak masuk kantor. Kenapa? Ini uang rakyat, jadi harus dipertanggungjawabkan”, tegasnya.

Menurut Maria, uang yang telah dikembalikan oleh Patal dan Bendahara Desa antara lain uang pembelian sepeda motor senilai Rp 36 juta dan dana reboisasi hutan sebesar Rp 21 juta lebih.

“Sementara Rp 87 juta uang harian orang kerja (HOK), menurut  mereka (Patal cs), sudah dipakai  untuk penambahan material untuk pekerjaan jalan. Yang menjadi pertanyaan saya, kenapa saat saya pertanyakan di rapat LKPD, tidak ada penjelasan seperti ini?”, katanya.

Maria mengatakan, berdasarkan penjelasan inspektorat, kesalahan Patal dalam melakukan pengadaan dinamo air adalah tidak melibatkan pihak ketiga.

“Karena nilai uangnya sebesar Rp 100 juta lebih. Ini aturan pak”, ucapnya.

Maria juga meragukan independensi petugas Inspektorat Lembata saat mengaudit pengelolaan dana desa di Desa Lerek.

“Menurut Rudolfus Gala (Anggota BPD Lerek), pemeriksaan (Inspektorat) selama 5 hari (terhadap keuangan desa Lerek) itu, banyak (masalah keuangan) yang dilindungi. Inspektorat banyak melindungi administrasi tidak jelas. Disuruh lengkapi ini, lengkapi itu. Tapi uangnya terbang tidak jelas kemana”, paparnya.

Maria mengaku, ada informasi juga bahwa mantan Sekcam Atadei telah meminjam dana desa sebesar Rp 15 juta yang hingga hari ini belum dikembalikan.

“Dipinjamkan oleh Sekcam waktu Pak Charles jadi Camat. Kok transaksinya suka-suka saja. Baru sudah kurang lebih satu bulan ini bendahara tidak masuk kantor”, ungkapnya.

Maria mengatakan, pihaknya sedang menunggu copyan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Inspektorat Lembata. Jika sudah ada, pihaknya akan segera meneruskan ke Kejaksaan Negeri Lembata.

BACA JUGA: Mantan Kades Lerek Diduga ‘Makan’ Uang Desa Rp 500 Juta Lebih

Soal bendahara desa tidak masuk kantor pasca diperiksa oleh Inspektorat Lembata dibenarkan oleh Kepala Desa Lerek, Stanis Plea.

“Iya dia tidak masuk kantor. Beberapa hari terakhir ini saya dapat info bilang dia sakit, makanya tadi saya pergi lihat dia, dan dia sakit betul. Tapi beberapa hari sebelumnya (setelah diperiksa Inspektorat) dia memang tidak masuk kantor (alpa)”, ujar Plea.

“Sebagian uang desa juga sudah dikembalikan”, pungkas Plea. (pes/red)

KOMENTAR ANDA?

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini