Warga Desa Sisi dan Babulu Selatan saat mengikuti rapat di aula Kantor Camat Kobalima, Jumat (9/3/18).

sergap.id, KOBALIMA – Tokoh masyarakat Desa Sisi dan Desa Babulu Selatan dihadirkan dalam rapat penyelesaian sengketa batas Desa Sisi dan Babulu Selatan di aula Kantor Camat Kobalima, Kabupaten Malaka, Jumat (9/3/18).

Pertemuan tersebut dipandu oleh Camat Kobalima, Fransiskus Nahak Tety dan dikawal oleh Kapolsek Kobalima, AKP Marthen Pelokila bersama 5 anggotanya.

Sengketa berawal ketika Pemerintah Desa (Pemdes) Sisi membangun embung di wilayah Desa Babulu Selatan, tepat di bagian atas mata air keramat milik suku Loro Tuan Raimutik yang mendiami Desa Babulu Selatan.

Akibatnya, sumber air itu menjadi kering.

Kepala Desa (Kades) Babulu Selatan, Paulus Lau, mengatakan, pembangunan embung milik Desa Sisi itu tanpa seijin pemilik lahan, yakni warga Babulu Selatan.

“Saat embung mulai dikerjakan, Ketua Suku Loro Tuan pernah menegur agar pembangunan embung dihentikan. Namun teguran ketua suku tidak diindahkan. Pembangunan embung itu merusak ratusan pohon di sekitar mata air. Pengerjaannya tanpa ada pemberitahuan kepada kami, juga tidak ada biaya pembebasan lahan,” tegas Paulus.

Kades Sisi, Yakobus Mali, menjelaskan, dirinya tidak mengetahui persis batas desa antara desa yang ia pimpin dengan Desa Babulu Selatan.

“Soal batas wilayah ditanyakan saja kepada Desa Litamali (desa induk Sisi sebelum dimekarkan) yang memberi mekar dan penjabat desa (Sisi). Saya tidak tahu soal batas yang lama. Saya membangun desa sesuai dengan peta wilayah yang sekarang. Soal orang Babulu dan Litamali saya tidak punya hak bicara. Soal adat pun saya tidak punya hak bicara,” kata Mali.

“Soal pembangunan embung, saya tidak rampas tanah milik desa lain, bahkan tidak sama sekali merusak sumber air (keramat) milik suku Loro Tuan Raimutik,” tegasnya.

Kepala Desa Litamali, Vincen Manek, yang juga dihadirkan dalam rapat tersebut diberi kesempatan untuk memaparkan soal batas wilayah Desa Sisi dan Desa Babulu Selatan.

“Menurut cerita dongeng, masyarakat Litamali datang dari Babulu,” katanya.

Namun belum sempat ia melanjutkan penjelasan soal batas wilayah, sejumlah tokoh masyarakat Babulu Selatan menghardiknya, “Cerita  adat adalah sejarah yang fakta, bukan dongeng yang menggambarkan cerita fiktif”.

Karena tak tahan dengan emosi  warga Babulu Selatan, diam-diam Kades Litamali memilih kabur dari ruang pertemuan.

Ketika warga Babulu Selatan bersitegang dengan Kades Litamali, Vincen Manek.

Camat Kobalima, Fransiskus Nahak Tety, meminta masyarakat Babulu Selatan tidak mengganggu proses pengerjaan embung yang kini hampir rampung.

“Pemerintah akan atasi masalah batas wilayah, kita akan ditinjau kembali sesuai peta pemerintah yang suda ada,” ujarnya.

“Soal embung kita cari solusi bersama, ketika camat tidak bisa selesaikan, maka masalah ini diajukan ke kabupaten untuk mencari solusi. Sebagai camat saya punya kerinduan akan kedamaian di dalam wilayah yang saya pimpinan. Akan kita tempuhi ini dengan kesepakatan bersama di pertemuan yang akan datang,” ucapnya.

Di sesi terakhir pertemuan, Kapolesk Kobalima AKP Marthen Pelokila memberi arahan kepada warga dua desa agar selalu menjaga kekompakan. Sehingga masalah tapal batas dapat diselesaikan secara baik dan bijak.

“Semoga kedepan kita selesaikan ini dengan baik,” ucap Pelokila, berharap. (sel/sel)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.