Bandara Hasan Aroeboesman, Ende.
Bandara Hasan Aroeboesman, Ende.

sergap.id, ENDE – Proyek perbaikan permukaan runway taxiway apron, termasuk turning area senilai Rp 23.002.405.000 di Bandara Hasan Aroeboesman, Ende, mendapat perhatian serius dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia atau TPDI.

TPDI berharap, Kelompok Kerja (Pokja) pada Satuan Kerja (Satker) Bandara Hasan Aroeboesman dapat memenangkan tender proyek APBN tahun anggaran 2021 itu kepada kontraktor yang berkualitas dan kredibel.

“Bukan justru memenangkan kontraktor pelaksana yang selama ini selalu bermasalah dan menimbulkan kontroversi hukum,” ujar Koordinator TPDI wilayah NTT, Meridian Dewanta Dado, kepada SERGAP via WhatsApp, Kamis (4/2/21).

Menurut Dado, pihaknya telah mengamati tabel penawaran harga terkoreksi secara berurutan, yakni  PT Yetty Dharmawan dengan penawaran Rp 20.189.900.000, PTTelaga Pasir Kuta  dengan penawarannya Rp 21.817.284.715, CV Bintang Karunia dengan penawaran Rp 22.965.936.070, dan PT Prima Utama Lestari dengan penawaran Rp 23.003.182.329.

“Sebagai wujud partisipasi dan peran serta masyarakat mengawasi proses pengadaan barang dan jasa milik pemerintah, maka kami TPDI NTT  patut menyampaikan bahwa PT Telaga Pasir Kuta adalah kontraktor pelaksana yang selama ini selalu menimbulkan kontroversi hukum di masyarakat. Sehingga Pokja harus menjadi penentu untuk tidak meloloskan kontraktor yang memilki rekam jejak buruk, agar hasil proyek berbobot dan tercipta kenyamanan dan keselamatan penerbangan pada Bandara Hasan Aroeboesman Ende,” ujarnya.

Dado menjelaskan, proyek bermasalah yang selama ini dikerjakan PT Telaga Pasir Kuta antara lain proyek Rehabilitasi Saluran Induk Cidurian Tahun Anggaran 2016 di Kabupaten Tangerang berdasarkan kontrak nomor: HK.02.03/PPK-IR.RW-II/BWSC-3/08/2016 dengan nilai kontrak Rp 18.369.551.000 dari pagu Rp 21.619.900.000, dimana proyek dalam wilayah kerja Balai Besar Wilayah Sungai Cidanu Irigasi dan Rawa II (BWSS C3 IR-II ) Ditjen SDA Kementerian PUPR tersebut disorot publik karena pengerjaannya terindikasi asal jadi.

Selanjutnya proyek Gedung Dua Lantai RSUD Dompu, Provinsi NTB Tahun Anggaran 2016 dengan nilai kontrak Rp 9,46 miliar yang mendapat protes dari publik karena progres proyek itu berjalan lamban, sementara kontraknya berakhir 27 Desember 2016.

Lalu ada juga Rehabilitasi Tanggul Sungai Way Pisang yang dikelola Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWSMS) Lampung dengan Pagu Rp 3,1 miliar. Proyek APBN 2015 ini dikerjakan PT Telaga Pasir Kuta berdasarkan Nomor Kontrak HK.02.07/03.10/SNVT.PJPAMS /SP.I /X/2015 dengan nilai Rp2,3 miliar itu molor dan terlambat pengerjaannya sehingga disoroti masyarakat.

Keberadaan PT Telaga Pasir Kuta juga pernah ditolak oleh sejumlah kontaktor di Tanggerang Selatan lantaran kemenangan perusahaan tersebut pada Tender Pembangunan Gedung SDN Paku Jaya,Tangsel dengan Pagu Rp 10,2 miliar tahun anggaran 2017 diduga sarat KKN dan pengaturan tender.

Pada proyek Jalan Lingkar Pantai Kolonodale di Morut tahun Anggaran 2017 yang dikerjakan PT Telaga Pasir Kuta senilai Rp 7 miliar juga menuai banyak masalah, mulai dari progres pekerjaan yang lambat, hingga kualitas pekerjaan yang diragukan.

Kemudian pada tahun anggaran 2018 terkait proyek Penggantian Jembatan Ubeloler di Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, yang dikerjakan perusahaan asal Bandung, Jawa Barat itu, juga menuai persoalan pelik yaitu upah para pekerja yang belum dibayar dan ternyata perusahaan ini memiliki hutang yang cukup besar kepada pihak ketiga, yakni mencapai lebih dari Rp 1 miliar.

“Dengan adanya berbagai rekam jejak yang meresahkan itu, bila nantinya perusahaan ini tetap diloloskan untuk menjadi pemenang dalam tender proyek di Bandara Hasan Aroeboesman, Ende, maka publik patut menduga adanya dugaan KKN atau indikasi rekayasa tender dalam proyek itu. Hal itu tentu saja sangat berbahaya bagi terciptanya kenyamanan dan keselamatan sarana dan prasarana penerbangan pada Bandara Hasan Aroeboesman Ende,” kata Dado, mengingatkan. (sg/sg)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here