Gunung Ile Werung sendiri tercatat kembali meletus pada tahun 1870, 1910, 1928, 1948, 1949, 1950, 1951 dan 1999.
Gunung Ile Werung sendiri tercatat kembali meletus pada tahun 1870, 1910, 1928, 1948, 1949, 1950, 1951 dan 1999.

sergap.id, MAURAJA – Ratusan tahun silam, diperkirakan 900 tahun yang lalu, sekelompok orang berlayar menuju kepulauan Nusa Tenggara Timur atau kini disebut Provinsi NTT. Mereka berasal dari Pulau Romang, sebuah Pulau yang memiliki kandungan Emas di bagian Timur Pulau Kisar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

Pulau Romang sendiri memiliki nama lain, yakni Pulau Roma, Pulau Romonu atau Pulau Fataluku.

Kedatangan orang Roma ke NTT ini jauh sebelum bencana tsunami menerjang Pulau Lepan dan Pulau Batan, dua pulau yang berada di antara Pulau Lomblen atau sekarang dikenal sebagai Kabupaten Lembata dan Pulau Pantar di Kabupaten Alor.

Mulanya para leluhur Roma menetap di Pulau Lepan dan Pulau Batan. Namun pasca tsunami dan tengelamnya dua pulau itu, mereka mengungsi dan memilih tinggal di sebuah hamparan di bagian Timur Pulau Lembata yang saat ini dikenal dengan nama Rumang, yakni  sebuah desa di Kecamatan Buyasuri.

Setelah tinggal lama di Desa Rumang, sebagian orang Roma memilih hijrah ke ke Atanila, sebuah daerah di pantai Selatan Lembata.

Dari cerita turun temurun, di Atanila mereka meninggalkan jejak berupa tanaman pohon kelapa yang telah berumur ratusan tahun. Dari sini pula, tiga kepala keluarga Suku Roma memilih pergi untuk mencari tanah yang lebih subur. Mereka kemudian berlabuh di Watu Tena atau Watena, sebuah pantai di bagian Timur Desa Lewo Gromang, Kecamatan Atadei, Lembata.

Tiga kepala keluarga ini tinggal cukup lama di pantai Watena, hingga suatu ketika terjadi konflik di antara mereka gara-gara adanya kekuatan gaib yang berasal dari laut Pantai Selatan.   Ketiganya kemudian berpisah. Sang kakak mendaki gunung dan memilih tinggal di kampung yang kini dikenal dengan nama Lewo Groma. Sementara kedua adiknya memilih pergi ke arah selatan Pulau Lembata melalui kampung Onga, sebuah kampung yang berada persis di bawah Desa Lewo Groma.

Dari Onga mereka menuju puncak Gunung Keduka Kora, selanjutnya menuju Puncak Gunung Mauraja, dan dari puncak Mauraja mereka pindah menetap di Pedalewu.

Padalewu adalah sebuah kampung di puncak Gunung Ile Werung yang berbentuk kubah terbuka.  Di kampung ini, dua kakak beradik itu beranak pinak hingga menurunkan family name atau nama keluarga diantaranya Pelinong, Toal, Bura, Hatel, Gromang, Roma, Kaya, Laba, Hulut, Boli, dan lain sebagainya.

Namun ratusan tahun yang lalu di tahun yang tidak tercatat, Gunung Ile Werung meletus hingga membuat kampung Pedalewu hancur lebur. Morfologi gunung berubah total. Permukaan tanah di kampung itu terangkat dua kali lebih tinggi. Banyak korban meninggal dunia. Tapi beberapa diantaranya selamat, termasuk para leluhur suku Roma, yang salah satu keturunannya adalah Dai Bulu Ama.

Keluarga suku Roma yang selamat kemudian pindah dan menempati dataran rendah di balik Gunung Mauraja, yang sekarang disebut lembah Lerek dan Lamaheku. Disini Dai Bulu Ama beranak cucu hingga menjadi keluarga besar yang telah menyebar ke seluruh Lembata, bahkan ke sejumlah pelosok di Indonesia, hingga luar negeri.

Gunung Ile Werung sendiri tercatat kembali meletus pada tahun 1870, 1910, 1928, 1948, 1949, 1950, 1951 dan 1999. Dilihat dari sejarah letusannya, gunung ini mempunyai perioda letusan terpendek 1 tahun, dan perioda letusan terpanjang 40 tahun, antara tahun 1870-1910, dan rata-rata adalah 26 tahun.

Selain meninggalkan keturunan, para leluhur Roma juga meninggalkan beberapa benda bersejarah yang memiliki kekuatan magis, diantaranya, sang kakak meninggalkan Nogo Boleng di Lewo Groma, dan kedua adiknya meninggalkan batu ceper penarik hujan yang kini masih bisa dilihat di puncak Gunung Mauraja, serta kain panjang berukuran lebih dari lima meter yang kini disimpan di rumah Suku Roma di Lamaheku.

Blasius Roma, salah satu keturunan Dai Bulu Ama, mengatakan, dari tutur yang tercatat di Suku Roma, menyebutkan, satu dari kedua kakak beradik leluhur Suku Roma yang mendiami Pedalewu itu memiliki istri bernama Peni Sarabiti atau orang Lamaheku menyebutnya dengan nama Peni Harabiti.

Peni Harabiti sendiri diceritakan berasal dari sebuah kampung di kaki Gunung Uyelewun atau Ili Uyelewun, yakni sebuah gunung yang terletak di bagian Timur Pulau Lembata. Itu sebabnya hingga saat ini Suku Roma di Lamaheku disebut sebagai ana making dari orang Uyelewun Kedang.

Tidak diketahui yang mana yang melahirkan Dai Bulu Ama. Namun hubungan keluarga Sarabiti dan Roma hingga saat ini masih terpelihara dengan baik.

“Kami ini orang Kedang punya Ana Making”, tegas Blasius.

Dai Bulu Ama sendiri memiliki tiga anak laki-laki, pertama bernama Toal, kedua Hatel, dan ketiga Ado Bereket. Ketiganya memiliki peran masing-masing, yakni Toal berperan sebagai penjaga harta gono gini sekaligus menjabat sebagai Ketua Suku, Hatel sebagai Panglima Perang, dan Ado Bereket berperan sebagai pengurus ekonomi suku.

Toal kemudian menurunkan Megu Taklango, sedangkan Hatel menurunkan Bura dan Penawang, sementara Ado Bereket menurunkan Rotot dan Arkian.

Menurut Gaspar Roma, di zaman pendudukan Belanda, Bura adalah salah satu Kapitan Raja Labala, satu-satunya kerajaan di Pulau Lembata. Istrinya bernama Beto yang berasal dari keluarga Mayeli, Labala. (par/par)

KOMENTAR ANDA?

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini