dr. Olivia Des Vinca A. Napitupulu, SP. An. M.Ked (an).
dr. Olivia Des Vinca A. Napitupulu, SP. An. M.Ked (an).

sergap.id, KUPANG – Ketua Komite Medik Rumah Sakit Tentara (RST) Tk III Wirasakti Kupang, dr. Olivia Des Vinca A. Napitupulu, SP. An. M.Ked (an), mengatakan, saat dirujuk dari Puskesmas Bakunase ke RST Wirasakti, almarhum FK atau pasien positif corona asal Kota Raja, Kota Kupang, yang meninggal dunia pada Selasa (12/5/20) itu, mengalami demam tinggi selama tiga hari.

Berikut nukilan wawancara SERGAP dengan dr. Olivia di RST Wirasakti Kupang, Kamis (14/5/20):

  • Bagaimana riwayat medis almarhum?

Pasien Covid-19 itu pernah dirawat disini. Dia merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Bakunase pada tanggal 28 april 2020 dengan keluhan nyeri pada perut, nyeri pada uluh hati, suspect dispepsia,  dengan riwayat demam selama 3 hari. Ketika observasi vebris hari ketiga (suhu tubuh di atas 37 derajat celsius), dokter jaga Puskesmas Bakunase merujuk ke RS Wirasakti. Kebetulan dokter jaga di Puskesmas itu juga adalah dokter jaga di  RS Wirasakti, sehingga mereka merujuk ke RS Wirasakti.

Pasien dirawat sejak tanggal 28 April sampai 4 Mei oleh DPJP penyakit dalam, dokter Lili. Ternyata keluhan bertambah yaitu sesak nafas, batuk, dan syndrome pilek. Atas masukan perawat (Suster Yolga) kepada dokter Lili karena melihat perkembangan pasien yang memberat dengan sesak nafas, pasien dianjurkan ke dokter Lili untuk dilakukan foto dada sekaligus rapid test.

Pemeriksaan foto dada pada tanggal 5 Mei pagi, dijumpai adanya sedikit cairan di paru-paru. Karena itu pada tanggal 5 sore kita lakukan rapid test, ternyata rapid testnya positif.

Sesuai dengan alur perawatan Covid-19, apabila rapid test positif, maka harus dilakukan tindakan lebih lanjut, dengan melakukan PCR atau Swab. Karena itu pasien kita rujuk ke rumah RSUD WZ Yohanes Kupang.

  • Kenapa Dirujuk ke RSUD WZ Yohanes Kupang?

Karena hanya RSUD WZ Yohanes yang bisa melakukan tes swab. Puji Tuhan Gubernur NTT, Bapak Viktor laiskodat bisa memfasilitasi tersedianya lab yang mampu melakukan pemeriksaan Swab di RSUD WZ Yohanes. Sehingga pasien itu bisa kita rujuk ke sana.

Kalau tidak dirujuk, karena keterbatasan fasilitas di RS Wirasakti ini, kemungkinan pasien bisa jatuh ke ancaman gagal nafas, karena pneumonianya cukup  meluas dan ada  efusi plural. Kita belum tersedia fasilitas yang lebih lengkap seperti ICU dan perlunya pemeriksaan swab, maka dilakukan rujuk ke RSUD WZ Yohanes.

  • Apakah Saat Dirujuk Itu Pasien Dalam Keadaan Sadar?

Ya, pasien masih dalam keadaan sadar penuh dan masih dalam terapi. Kita lakukan rujuk dengan APD lengkap, bahkan sebelum mengantar pasien, Mobil Ambulance kita lakukan desinfeksi. Saat dirujuk Ke RSUD WZ Yohanes, pasien tidak langsung ke ICU, dia sempat dirawat di ruangan (sal perawatan).

  • Apa Hasil Swabnya?

Setelah VCR Swab, ternyata hasilnya positif Covid-19. Dia dirawat sejak tanggal 6 Mei sampai 12 Mei. Kondisinya memburuk pada tanggal 12 Mei, sehingga dia dimasukan ke ruang ICU. Karena kecukupan oksigennya kurang,  pasien akhirnya meninggal di ICU (pada tanggal 12 Mei 2020).

  • Apakah penanganan pasien disini sudah sesuai prosedur?

Kita di rumah sakit ini sudah melakukan sesuai alur. Karena pasien ini tidak memiliki riwayat kontak dengan orang yang berpergian ke daerah (zona merah) Covid-19. Pasien ini pun bukanlah orang yang berpergian ke luar kota atau kontak dengan yang berpergian ke luar kota. Setahu kami, dia hanya seorang pedagang. Tetapi dia memiliki rapid tes yang positif, dan ketika dilanjutkan dengan tes swab ternyata positif.

Gejala awalnya bukan batuk atau pilek, tetapi demam dan nyeri ulu hati.  Diagnosa awal hanya demam tifoid.

  • Apakah saat merawat, para perawat dan dokter di sini pakai Alat Pelindung Diri atau APD?

Ya, kita pakai sesuai panduan pelayanan pasien tersuspect covid. Ada 3 level APD. Level satu adalah kita memakai masker bedah, handspoonn, tutup kepala, alas kaki yang nyaman dan baju yang nyaman. Ini untuk pasien yang suspect atau belum terkonfirmasi rapid atau vcr.

BACA JUGA: Riwayat Medis Pasien Positif Corona Yang Meninggal

Ketika sudah terkonfirmasi rapid positif, maka penanganannya kita naikan ke level dua, yakni dengan gaun operasi, tutup kepala, handspoon ditambah dengan apron atau gaun operasi, ditambah dengan kaca mata google.

Apabila pasien terkonfirmsi positif, maka harus menggunakan APD level 3, yaitu seperti astronot.

  • Apakah dokter dan perawat disini sudah rapid test dan tes swab?

Kami sudah lakukan rapid test dan tes swab, hasilnya beberapa sudah dinyatakan negatif, sementara yang lain masih menunggu hasil. Walau negatif, yang negatif tetap menjalankan karantina.

Ada 11 perawat di ruangan Wijayakusuma, ruangan tempat bapak (almarhum) itu dirawat. Kita lakukan screaning terharap perawat dan dokter, hasil swabnya negatif. (cis/cis)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.