Pendiri INF berharap INF mendapat perhatian dari pemerintah daerah maupun pusat, karena kehadiran INF dapat mendukung Program Pemerintah, khususnya di sektor Pertanian, Peternakan dan sektor Perikanan.
Pendiri INF berharap INF mendapat perhatian dari pemerintah daerah maupun pusat, karena kehadiran INF dapat mendukung Program Pemerintah, khususnya di sektor Pertanian, Peternakan dan sektor Perikanan.

sergap.id, MBAY – Gagasan berawal dari suatu prespektif saat diskusi bersama antara Benisius Pao, SS., M.Pd, Yoseph Fernandes Amekae, SE, Yohanes Freadyanus Kasi, S.Si., M.Pd, , Melchior Tibo, S.Sos, Kristoforus Meo, SS, Valentinus Ngara, dan Engelbertus Ngalu Bali, M.Pd yang bersepakat bahwa penting hadirnya sebuah lembaga pendidikan di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diarahkan pada Teknologi Rekayasa Pangan, dan berpegang pada tema besar, yakni “Pengarusutamaan Pertanian Terpadu dalam Kerangka Teknologi Rekayasa Pangan untuk Kedaulatan Pangan di NTT”.

Berdasarkan kenyataan bahwa Indonesia saat ini masih berada dalam situasi pembangunan yang tidak merata yang mana kegiatan perekonomian terfokus di Jawa, sehingga sebagian besar SDM yang profesional dan terampil hanya tertarik di wilayah tersebut.

Karena itu perlu adanya pertumbuhan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki keunggulan strategis-politis, seperti daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), sesuai Peraturan Presiden Nomor 131 tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019, dan provinsi NTT masuk di dalamnya.

Para pendiri Institut Nasional Flores (INF) yaitu Benisius Pao, SS., M.Pd, Yoseph Fernandes Amekae, SE, Yohanes Freadyanus Kasi, S.Si., M.Pd, , Melchior Tibo, S.Sos, Kristoforus Meo, SS, Valentinus Ngara, dan Engelbertus Ngalu Bali, M.Pd meyakini bahwa pengembangan sumberdaya manusia adalah kunci dari pembangunan suatu daerah.

Sebagai sektor yang memegang peranan sangat penting dalam pembangunan, pendidikan merupakan strategi yang paling ampuh dalam menunjang keberhasilan percepatan pembangunan.

Pendidikan mampu membawa suatu masyarakat untuk lebih menguasai pengetahuan & teknologi, membuka lebih banyak wawasan, meningkatkan kualitas hidup & peradaban, dan mendorong masyarakat untuk lebih maju & arif-bijaksana dalam mengelola kekayaan alam.

Sehingga aspek utama yang dibutuhkan dalam memajukan suatu daerah adalah penguatan dan pembangunan manusianya.

Upaya membangun manusia berkualitas dilakukan melalui penguatan aspek: (1) perbaikan gizi-kesehatan, (2) pemberdayaan ekonomi dan (3) pendidikan.

Pemerataan pendidikan yang dilaksanakan di seluruh Indonesia merupakan salah satu langkah yang dilakukan guna menyeimbangkan proporsi ketersediaan SDM berkualitas antara di perkotaan dengan di daerah dan diharapkan laju pembangunan nasional dapat lebih terarah, terencana, dan tumbuh secara merata.

Dasar pendirian status Institut berdasarkan analisis bahwa dari total jumlah 76 Perguruan Tinggi di NTT baru 2 yang berstatus Institut yaitu Institut Keguruan Dan Teknologi Larantuka yang berfokus pada pendidikan dan teknik informatika dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Maumere yang berfokus pada prodi pendidikan.

Dari data tersebut menunjukkan bahwa belum ada Institut di NTT yang semua prodi tujuan utamanya diarahkan pada Teknologi Rekayasa Pangan, hal tersebut yang menjadi dasar pemikiran akan hadirnya Institut Nasional Flores (INF) di NTT.

Spektrum manfaat pendidikan tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam meningkatkan kualitas kehidupan (ekonomi) suatu wilayah saja, melainkan dapat pula menjadi alat pemersatu dan menjaga stabilitas sosial suatu kawasan.

Keberadaan INF di Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT, diyakini mampu berkontribusi terhadap percepatan pembangunan bidang ekonomi di wilayah ini, selain memberikan sumbangsih terhadap peningkatan kualitas sumberdaya manusianya.

Langkah lain yang akan dilakukan dalam rangka merealisasikan pendirian INF di Nagekeo adalah dengan menjalin kerjasama dan membentuk jejaring dengan para stakeholders, pemerintahan daerah setempat, instansi/lembaga, perguruan tinggi eksisting maupun masyarakat.

Tujuan dibentuknya jejaring adalah untuk menghasilkan pendidikan berkualitas dengan kecukupan pendukung di dalamnya (SDM & Sarpras) guna menghasilkan output lulusan yang mandiri, mampu bersaing, adaptif terhadap perubahan, dan mampu menemukenali maupun peka dalam memanfaatkan potensi sumberdaya wilayah di Nagekeo-NTT untuk menjawab berbagai permasalahan daerah.

Dengan hadirnya INF diharapkan kualitas sumberdaya manusia di NTT dapat diperbaiki. Beberapa program studi yang akan dibuka INF difokuskan untuk turut membantu mempersiapkan kebutuhan saat ini (menjawab permasalahan saat ini) maupun untuk menyiapkan sumberdaya yang dibutuhkan dalam menjawab tantangan masa depan.

Selanjutnya, data lain yang menjadi dasar bagi para pendiri untuk menghadirkan INF adalah akses terhadap pendidikan tinggi di NTT yang masih belum merata karena belum seimbangnya antara jumlah dan distribusi perguruan tinggi yang dimiliki dengan jumlah dan domisili para lulusan sekolah menengah atas (SMA).

Perguruan tinggi, terutama yang diselenggarakan oleh pemerintah (PTN) jumlahnya terbatas dan umumnya hanya tersebar pada kota-kota besar atau ibukota provinsi seperti di NTT hanya berada di Kota Kupang (UNDANA) dan Kefamenanu (UNIMOR).

Sejalan dengan keinginan untuk turut membantu percepatan pembangunan di Indonesia melalui penyediaan SDM yang berkualitas, para pendiri yang bergabung dalam bingkai hukum Yayasan Flores Mentari berinisiatif untuk memberikan kontribusi nyata melalui partisipasi pendirian perguruan tinggi yang nantinya diharapkan selain meningkatkan tarap pendidikan putra daerah, juga berkontribusi dalam peningkatan penguasaan dan penerapan IPTEKS dalam menunjang pembangunan daerah melaui sentuhan SDM berkualitas.

Oleh karena itu para pendiri telah merumuskan model pendidikan yang paling sesuai dan dibutuhkan untuk Provinsi NTT.

INF merupakan perguruan tinggi yang diusulkan oleh badan penyelenggara Yayasan Flores Mentari dengan dukungan sepenuhnya dari Pemerintahan Daerah Nagekeo maupun Provinsi NTT.

Tujuan pendirian INF untuk:

  1. Mempersiapkan sumberdaya manusia berpendidikan tinggi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudipekerti luhur, cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif, serta mampu mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi;
  2. Menyiapkan sumberdaya manusia dengan kompetensi dasar sesuai dengan kebutuhan stakeholders dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan;
  3. Menyiapkan sumberdaya manusia yang terampil, berdedikasi, dan memiliki motivasi tinggi untuk mengembangkan Provinsi NTT;
  4. Menghasilkan tenaga profesional dibidangnya masing-masing guna memenuhi ketersediaan SDM berkualitas di Provinsi NTT;
  5. Membantu menyukseskan program otonomi daerah melalui implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi;
  6. Menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi guna mendorong pengembangan nilai-nilai peradaban manusia, dan
  7. Menjadi pusat pengembangan ilmu, teknologi, dan budaya yang mampu melestarikan, meneliti, membangun, dan memperkuat nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dengan membangun pola hubungan yang harmonis.

Konteks sistem penting hadirnya lembaga ini juga atas kepedulian terhadap kerawanan pangan yang dihadapi oleh masyarakat NTT umumnya. Sebagai bagian dari komitmet pendiri dan sesuai dengan standar pengusulan pendirian perguruan tinggi, para pendiri mempersiapkan seluruh dokumen yang terdiri dari tiga aspek yaitu;

  1. Aspek Hukum berupa legalitas Yayasan Flores Mentari berupa Akta Pendirian Yayasan Nomor 70 tanggal 10 November 2017 dengan pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM Nomor AHU-0016787.AH.01.04. Tahun 2017 tanggal 10 November 2017 dan kepemilikan lahan sebesar 19.130 M2 berlokasi di Desa Aeramo yang dihibahkan oleh Bapak Melchior Tibo kepada Yayasan Flores Mentari.
  2. Aspek keuangan berupa kepemilikan dana operasional pendirian INF, 3) Aspek umum berupa calon dosen (S2) INF (5 orang setiap prodi), calon tenaga kependidikan, sarana prasarana, dan dokumen lainya seperti SPMI, Studi Kelayakan, AIPS setiap prodi, AIPT, Renstra INF.

Peran serta pendiri yang tergabung dalam Yayasan Flores Mentari dalam mendukung Visi dan Pemerintahan Provinsi NTT, salah satunya adalah menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang dapat mendukung perkembangan pembangunan ekonomi provinsi NTT.

Partisipasi tersebut dibuktikan dengan usulan pendirian INF dengan program studi:

  1. Teknologi Rekayasa Pangan (D4)
  2. Pengelolaan Pertanian Lahan Kering (D4)
  3. Peternakan (S1)
  4. Teknologi Hasil Peternakan (S1)
  5. Ilmu Perikanan (S1)
  6. Rekayasa Perangkat Lunak (S1)
  7. Agribisnis (S1)

Setiap tahapan telah dilalui mulai dari tahapan permohonan Rekomendasi dari Bupati Nagekeo saat itu Drs. Elias Djo dengan nomor surat 400/Kesra.NGK/03/01/2018 tanggal 16 Januari 2018, DPRD Kabupaten Nagekeo saat itu Marselinus Ajo Bupu dengan Nomor surat 171/DPRD-NGK/135/11/2017 tanggal 13 November 2017, dan yang menjadi syarat penting sebagai dasar pengajuan ke Dikti adalah Rekomendasi dari Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah 8.

Untuk rekomendasi dari LLDikti sendiri Yayasan Flores Mentari mendapatkan 2 (dua) rekomendasi. Pertama, dengan Nomor surat 1875/K8/KL/2018 tanggal 24 April 2018 perihal Rekomendasi Pendirian PTS Baru, dan Kedua, dengan nomor surat 1515/L8/KL/2019 tanggal 18 Maret 2019 perihal Pembaharuan Rekomendasi Pendirian PTS.

Setelah seluruh dokumen tersedia para pendiri melalui Yayasan Flores Mentari mengajukan pengusulan pendirian INF ke Bagian Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) di Jakarta melalui sistem online yaitu Sistem Informasi Layanan Perizinan Kelembagaan Perguruan Tinggi (SILEMKERMA).

Seluruh dokumen dalam 3 (tiga) aspek yang diminta dan telah disediakan diupload dalam sistem tersebut. Pengusulan pertama dilakukan pada tanggal 04 Januari 2018 dengan Nomor surat pengusulan 005/YFM/Eks/XI/2017, dikarenakan ada dokumen yang belum lengkap pengusulan tahap pertama ini dilengkapi lagi pada tanggal 13 Agustus 2018 dengan nomor surat pengusulan 005/YFM/Eks/II/2018.

Hasil evaluasi usulan periode ini statusnya Belum disetujui, sehingga Yayasan wajib melakukan perbaikan sesuai saran dari reviewer. Setelah melakukan perbaikan pengusulan selanjutnya dilakukan pada tanggal 05 April 2019 dengan nomor surat pengusulan 02/YFM/EKS/IV/2019 dan awalnya 7 (tujuh) program studi saat ini menjadi 5 (lima) program studi.

Setelah proses upload periode ini, Dikti melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah 8 melakukan visitasi lapangan kepada Yayasan Flores Mentari dalam hal Penilaian Usul Pendirian, Perubahan dan Penutupan PTS serta Pembukaan dan Perubahan Program Studi PTS.

Hasil dari visitasi lapangan ini yang termuat dalam berita acara menjelaskan secara umum bahwa Yayasan Flores Mentari dapat melanjutkan pengusulan pendirian INF dengan sedikit perbaikan.

Selanjutnya pada tanggal 15 Desember 2019 Yayasan Flores Mentari kembali melakukan pengusulan dengan nomor surat 19/YFM/XII/2019 untuk 3 (tiga) program studi yaitu 1) Ilmu Pertanian (S1), 2) Ilmu Perikanan (S1), dan 3) Peternakan (S1).

Hasil evaluasi usulan pada periode ini mengalami peningkatan yang mana hanya 1 program studi yaitu Ilmu Pertanian yang statusnya belum disetujui, sedangkan dua program studi lainnya Ilmu Perikanan dan Peternakan statusnya Direkomendasi. Selanjutnya, Yayasan Flores Mentari fokus pada perbaikan 1 program studi yang belum disetujui tersebut dan pada tanggal 14 Maret 2020 dengan nomor surat pengusulan 20/YFM/III/2020 Yayasan kembali melakukan pengusulan.

Hasilnya, pada tanggal 28 Agustus 2020 dengan Nomor Surat : 4176/E3/2020 tentang Evaluasi Lapangan Virtual Usul Pendirian INF yang dilakukan pada tanggal 08 September 2020, artinya bahwa pengusulan Yayasan Flores Mentari telah disetujui dan akan dilakukan visitasi secara daring karena keadaan pandemik.

Kegiatan visitasi lapangan virtual tersebut berjalan dengan baik karena dari ketiga aspek yang diusulkan oleh para asesor dinyatakan secara standar TELAH memenuhi dengan sedikit perbaikan isi dokumen. Selanjutnya, dokumen direvisi oleh Yayasan dan Tim pendirian sesuai permintaan asesor.

Akhirnya, menjadi kado Natal tersendiri bagi Yayasan Flores Mentari yang mana INF hadir di Nagekeo berdasarkan Surat Keputusan (SK) MENDIKBUD Nomor 1074/M/2020 tanggal 08 Desember 2020.

Penyerahan Surat Keputusan (SK) secara resmi dilakukan bersamaan dengan kegiatan LLDIKTI Wilayah VIII yaitu “lldikti Award tahun 2020”.

Kegiatan ini di ikuti oleh Perguruan Tinggi di lingkungan Lldikti Wilayah VIII di Bali, NTB, dan NTT yang dilaksanakan di Ruang Aula Bima Kantor Lldikti Wilayah VIII, pada Kamis 17 Desember 2020. Proses penyerahan SK dilakukan langsung oleh Kepala LLDikti Wilayah 8 Bapak Prof Dr I Nengah Dasi Astawa, M.Si kepada Ketua Yayasan Flores Mentari, Benisius Pao, SS., M.Pd disaksikan oleh Pembina Yayasan Flores Mentari Melchior Tibo, S.Sos, Kristoforus Meo, SS, Tim Pendirian INF: Yohanes Freadyanus Kasi, S.Si., M.Pd, Kasubbag Kelembagaan LLDikti Wilayah 8 Drs. I Gede Githa Dharma Husada, M.Si, dan Kepala Bagian Kelembagaan, Informasi dan Kerjasama LLDikti Wilayah 8 Drs.I Made Gunawan Swarnaya serta wartawan Media Indonesia, Arnoldus Dhae, S.Fil.

Saat proses penyerahan Kepala LLDikti Wilayah 8 berpesan agar segenap jajaran Pengurus Yayasan dan Pembina Yayasan Flores Mentari agar tetap menjaga amanat yang dipercayakan oleh Pemerintah kepada Yayasan agar tetap eksis ke depannya dan berguna bagi bangsa dan negara dan anak NTT pada khususnya.

INF akan menyelengarakan 3 (tiga) Program Studi yaitu ; a) Ilmu Perikanan Program Sarjana, b) Ilmu Pertanian Program Sarjana, dan c) Peternakan Program Sarjana.

Analisis dari pendirian ketiga program studi tersebut adalah:

  1. Ilmu Pertanian

Untuk provinsi NTT, potensi dan unggulan yang diharapkan menjadi andalan adalah pengembangan pertanian lahan kering dalam arti luas. Fakta-fakta lapangan dan sejarah telah membuktikan ketika krisis ekonomi berkepanjangan yang terjadi pertengahan tahun 1997, petani lahan kering merupakan kelompok tani yang paling tangguh dan justru meraup dolar yang sangat menguntungkan serta mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap gejola sosial dan politik dunia.

Saat ini kondisi lahan kering di Indonesia secara total ada 191,09 juta hektar, terdapat 144,47 juta hektar (67,2%) lahan kering, lahan rawa 34,13 juta hektar, lahan basah non rawa 9,44 juta hektar, dan lainnya 3,05 juta hektar.

Di NTT, luas lahan kering seluar 1.528.308 hektar.

Dalam lima tahun terakhir, kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional semakin nyata. Selama periode 2010-2014, rata-rata kontribusi sektor pertanian terhadap PDB mencapai 10,26 % dengan pertumbuhan sekitar 3,90%. Sub-sektor perkebunan merupakan kontributor terbesar terhadap PDB sektor pertanian. Pada periode yang sama, sektor pertanian menyerap angkatan kerja terbesar walaupun ada kecenderungan menurun.

Pada tahun 2014 sektor pertanian menyerap sekitar 35,76 juta atau sekitar 30,2 % dari total tenaga kerja. Investasi di sektor pertanian primer baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 4,2 % dan 18,6 % per tahun. Rasio ekspor-impor pertanian Indonesia sekitar 10 berbanding 4, dengan laju pertumbuhan ekspor mencapai 7,4 % dan pertumbuhan impor 13,1 % per tahun.

Proyeksi kebutuhan tenaga ahli bidang pertanian tahun 2016 – 2025 sangat besar yaitu sebanyak 74.728 tenaga ahli bidang pertanian, diantaranya kebutuhan akan tenaga ahli di teknik pertanian. Artinya rata-rata kebutuhan tenaga pertanian per tahun selama 10 tahun ke depan adalah 7.473 orang. Sedangkan saat ini Perguruan Tinggi (PT) berstatus aktif yang menyelenggarakan Program Studi Teknik Pertanian di seluruh Indonesia mencapai 26 PT, 17 diantaranya diselenggarakan oleh perguruan tinggi negeri sedangkan 9 lainnya diampu oleh PTS. Jumlah mahasiswa aktif dari 26 PT di atas sebanyak 6.616 mahasiswa. Jika diasumsikan masa kuliah S1 selama 4,5 tahun, maka rata-rata lulusan teknik pertanian per tahun di Indonesia adalah 1.470 orang. Tingginya kebutuhan tenaga ahli pertanian, khususnya Pengolahan Pertanian Lahan Kering tidak sebanding dengan lulusan yang diciptakan oleh perguruan tinggi.

Dalam skala NTT menunjukkan bahwa dari 420 program studi yang ada hanya 26 % yang menyelenggarakan prodi pertanian.

Menurut data BPS, Kabupaten Nagekeo memiliki luas wilayah sebesar 1.416.960 m2 dan tergolong daerah yang beriklim tropis serta terbentang hamper sebagian besar padang rumput (lahan kering), juga ditumbuhi pepohonan seperti kemiri, asam, kayu manis, lontar dan sebagainya. Data luas wilayah tersebut berbanding terbalik dengan produksi tanaman sayur kabupaten Nagekeo pada tahun 2019 yaitu bawang merah (545 kuintal), cabai (1315 kuintal), kentang, kubis dan bawang putih sama sekali tidak ada. Hadirnya, program studi pertanian INF nanti diyakini mampu mengatasi persoalan pengelolaan pertanian lahan kering di Kabupaten Nagekeo.

  1. Peternakan

Berdasarkan data statistik peternakan dan Kesehatan Hewan 2017, bahwa pada tahun 2016 tenaga kerja peternakan berpendidikan SD cukup dominan. Berdasarkan data Sakernas Agustus 2016, tenaga kerja subsektor peternakan berpendidikan SD sebanyak 1.384.690 orang (33,95 persen dari total tenaga kerja subsektor peternakan). Jumlah ini merupakan jumlah terbanyak jika dibandingkan dengan jenjang pendidikan yang ditempuh. Sedangkan pada jumlah lulusan sarjana atau Universitas memiliki jumlah yang paling sedikit yaitu sebesar 50.652 orang.

Hadirnya prodi Peternakan ini harapannya mampu memanfaatkan sumberdaya lokal. Karena NTT merupakan salah satu produsen sapi Potong terbesar di Indonesia. Secara topografi cocok untuk pengembangan ternak sapi. Secara geografis, NTT merupakan wilayah kepulauan dibelahan selatan Indonesia dengan luas daratan 47.349,90 km yang mencakup tiga pulau besar (Flores, Sumba dan Timor) serta banyak pulau kecil lainnya yakni Komodo, Rinca, Adonara, Solor, Lembata, Alor, Pantar, Rote dan Sabu yang secara keseluruhannya berjumlah 1.192 buah pulau.

Dalam kondisi lingkungan alam, iklim dan sosio-ekonomi yang ada ternyata peternakan tumbuh dan berkembang secara nyata sehingga memberikan “trade mark” tersendiri bagi NTT dalam perekonomian nasional sebagai wilayah penghasil bibit ternak (sapi bali dan sapi ongole) dan daging bagi wilayah Indonesia lainnya. Berdasarkan catatan sejarah di era 1970- 1980-an NTT telah mengirim (ekspor) ternak sapi dan kerbau ke luar daerah, kemudian di ekspor ke Hongkong, selain untuk memenuhi stok daging nasional. Bahkan hingga era 1990-an, NTT merupakan salah satu gudang ternak nasional yang berada di urutan kedua setelah Jawa Timur. Kondisi geogragis, catatan sejarah dan data yang ada bahwa NTT telah ditetapkan masuk Koridor V dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011 – 2025. Pembangunan koridor ekonomi di Indonesia dilakukan berdasarkan potensi dan keunggulan masing- masing wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ketersediaan tenaga peternakan khususnya tenaga Peternakan menjadi sorotan dengan program MP3EI pemerintah. Secara nasional jumlah tenaga peternakan Jika dikelompokkan berdasarkan provinsi tabel 20, tenaga kerja subsektor peternakan terbesar pada tahun 2016 berada di Provinsi Jawa Timur yaitu 1.702.684 orang (Sakernas Agustus). Sementara tenaga kerja peternakan terkecil berada di Provinsi DKI Jakarta (Sakernas Agustus) dimana di provinsi tersebut tidak terdapat tenaga kerja di subsektor peternakan. Sedangkan untuk NTT jumlah tenaga kerja mencapai 89.101 orang (Sakernas Agustus).

Jika tenaga kerja subsektor peternakan dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan, pada tahun 2016 tenaga kerja peternakan berpendidikan SD masih cukup dominan. Berdasarkan data Sakernas Agustus 2016, tenaga kerja subsektor peternakan berpendidikan SD sebanyak 1.384.690 orang (33,95 persen dari total tenaga kerja subsektor peternakan). Dari data pada Tabel 19, terlihat bahwa tenaga kerja subsektor peternakan didominasi oleh golongan umur tua (berumur 60tahun ke atas). Data Sakernas Agustus 2016 menunjukkan bahwa tenaga kerja subsector peternakan yang berusia 60 tahunke atas sebanyak 939.271 orang (23,03 persen dari total tenaga kerja subsektor peternakan). Jika tenaga kerja subsektor peternakan dikelompokkan berdasarkan status pekerjaan utama (Tabel 18). Data Sakernas Agustus 2016 didominasi oleh status pekerjaan utama berusaha Dibantu Buruh Tidak Tetap/Buruh Tidak Dibayar sebanyak 1.418.043 orang (34,77 persen dari total tenaga kerja subsektor peternakan).

Proyeksi kebutuhan tenaga Peternakan sampai tahun 2025 terus mengalami peningkatan. Terlebih dengan adanya program pemerintah terkait peternakan khusus di kepulauan Flores. Jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan prodi Peternakan, sebanyak 10 PT, dengan daya tampung mencapai 52.928 mahasiswa dan tingkat kelulusan rataan per tahun mencapai 13.232 orang. Berdasarkan data-data di atas maka diputuskan daya tampung pertahun untuk prodi peternakan masih sangat minim. Hal ini berdasarkan pertimbangan kemampuan yayasan dalam mempersiapkan sarana dan prasarana dan sumber daya manusia pada tahun pertama sampai tahun ke – 5.

Data BPS Kabupaten Nagekeo juga menjelaskan bahwa luas padang pengembalaan ternak di Kabupaten Nagekeo mencapai 40.959 Ha dengan luas lahan hijauan makan ternak sebesar 115 Ha. Namun, data yang sama juga menunjukkan jumlah ternak yang diekspor pada tahun 2019 hanya mencapai : sapi (3.003 ekor), kerbau (325 ekor), kuda (273 ekor), dan kambing (3.827 ekor). Hadirnya, prodi peternakan di Institut Nasional Flores (INF) diyakini mampu meningkatkan jumlah ekspor ternak kabupaten Nagekeo.

  1. Ilmu Perikanan

NTT memiliki potensi kelautan yang luar biasa. Akan tetapi segala potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal dan belum dikelola secara terencana demi pemerataan ekonomi, di mana sebagian besar masyarakat belum mampu memperoleh manfaatnya. Di wilayah Provinsi NTT terdapat 27 Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan luas keseluruhan 1.527.900 hektar. Sungai yang terpanjang di wilayah Provinsi NTT adalah Sungai Benanain dengan panjang 100 Km, yang terdapat di Kabupaten Belu. DAS terluas adalah DAS Benain, seluas 329.841 hektar (21,58%), dan DAS terkecil adalah DAS Oka, seluas 4.125,33 hektar (0,27%). Keberadaan das ini belum dimanfaatkan secara maksimal Pertumbuhan suatu sektor ekonomi di tinjau dari peningkatan produksi barang/jasa di sektor tersebut.

Dari Tabel 1 dapat ditunjukan bahwa saat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 6.17 persen pada tahun 2011, maka sektor Kelautan dan Perikanan juga mengalami pertumbuhan yang signifikan sebesar 7,32 persen pada tahun yang sama. Ketika perekonomian nasional tumbuh sebesar 6,03 persen pada tahun 2012, sektor kelautan dan perikanan mampu tumbuh sebesar 6,26 persen.

Pada saat perekonomian nasional mengalami perlambatan pada tahun 2013 hingga hanya mampu tumbuh sebesar 5,58 persen, sektor kelautan dan perikanan mengalami peningkatan pertumbuhan sebesar 7,14 persen dan saat perekonomian nasional tumbuh 5,02 persen pada tahun 2014, sektor Kelautan dan Perikanan terus mengalami peningkatan pertumbuhan yang mencapai 7,55 persen.

Potensi perikanan tangkap yang ada di wilayah perairan NTT, saat ini baru dikelola sekitar 38 persen atau 41.000 ton dari yang diperbolehkan, yaitu sebanyak 180.000 ton per tahun . Potensi perikanan tangkap memang luar biasa di provinsi NTT, akan tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Dari potensi yang diperbolehkan, pemanfaatannya belum mencapai 50 persen. Belum optimalnya pemanfaat ini terjadi karena sumberdaya manusia yang ada belum memiliki wawasan atau ilmu terkait penangkapan dan hal hal lainnya terkait dengan ilmu Perikanan. Pembukaan Program studi ilmu perikanan ini harapannya mampu memanfaatkan secara optimal potensi di Nusa Tenggara Timur yang kaya akan potensi perikanannnya. Sektor Kelautan dan Perikanan secara nasional diharapkan akan memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Tahun 2019 PDB perikanan diproyeksikan memberikan share sebesar 12% terhadap PDB Nasional.

Kabupaten Nagekeo menurut data BPS menunjukkan produksi perikanan laut mencapai 2.421.841 kg dan perikanan darat untuk kategori budidaya hanya mencapai 92.850 kg. Hadirnya, prodi perikanan di INF diyakini mampu meningkatkan jumlah hasil budidaya perikanan darat di Kabupaten Nagekeo.

Selanjutnya, Kurikulum dari ketiga program studi di INF berfokus pada penilaian produk yang mana setiap mahasiswa nantinya selain diberikan pengetahuan teori-teori sesuai bidang juga akan dibekali praktek lapangan langsung sehingga output nantinya akan memiliki keterampilan sesuai bidangnya. Mahasiswa akan dinilai sesuai produk yang mereka hasilkan apabila produknya tidak sesuai nilainya juga akan kurang disbandingkan dengan produk yang dihasilkan baik. Hal tersebut akan mampu memberikan stimulus bagi mahasiswa untuk dapat berkreatif dan berinovasi menghasilkan produk yang baik sesuai ilmu yang telah ia dapatkan. Selain itu, dari konsep ini akan muncul brand tersendiri dari INF sebagai contoh Beras dengan varietas baru berlabel INF, tomat dan lombok yang akan dipasarkan sampai ke Labuan Bajo, Pupuk Bokasi berlabel INF, Pakan hijauan berlabel INF, dan sebagainya.

BACA JUGA: INF Mulai Beroperasi, Perkulihan 1 September

Akhirnya, Sebagai mitra Pemerintah, dalam mencerdaskan Sumber Daya Manusia baik di sektor Pendidikan, harapan kami agar INF juga mendapat perhatian dari pemerintahan Daerah maupun Pemerintahan Pusat karena kehadiran Pendidikan Tinggi ini dipandang dapat mendukung Program Pemerintah, khususnya di sektor Pertanian, Peternakan dan sektor Perikanan. (Doc/INF)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here