sergap.id, JAKARTA – Sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi anak. Lingkungan sekolah yang aman akan mendorong anak ikut berpartisipasi dalam proses belajar.

Rasa aman menjadi salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sehingga anak tidak merasa gelisah dalam melaksanakan aktivitasnya, termasuk belajar di sekolah.

Isu kekerasan pada anak ini menjadi kampanye bersama yang dilakukan Indonesia Joining Forces (IJF).

Enam NGO kemanusiaan yang fokus pada hak anak terdiri dari, ChildFund International di Indonesia, Yayasan Plan International Indonesia, SOS Children’s Villages Indonesia, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Yayasan PKPA bersama Federasi Internasional Terre des Hommes, dan Wahana Visi Indonesia, bergabung dalam IJF to End Violence Against Children (EVAC).

“IJF ingin mendorong berbagai pihak, termasuk media, untuk meningkatkan kesadaran terkait isu kekerasan pada anak, khususnya hukuman fisik di sekolah. Mari sama-sama ciptakan sekolah sebagai lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak-anak belajar dan beraktivitas,” ujar Laura Hukom, Project Manager IJF dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (25/11/19) lalu.

Baseline study tahun 2019 yang digagas oleh IJF menemukan fakta bahwa hanya 16,8 persen siswa yang menyatakan bahwa mereka merasa aman di sekolah.

Sisanya menyebutkan bahwa mereka tidak merasa aman bahkan merasa sangat tidak aman.

Toilet dan kantin merupakan area sekolah yang paling sering menjadi lokasi terjadinya kekerasan di sekolah.

Data International Centre for Reseach of Women dan Yayasan Plan International Indonesia juga mendukung temuan IJF, dimana 84 persen anak-anak mengalami berbagai bentuk kekerasan fisik, emosi dan seksual di sekolah

Pada fase pertama kegiatan ini, IJF bersepakat untuk fokus pada tema utama untuk mengakhiri semua bentuk kekerasan terhadap anak-anak di sekolah dengan mengedepankan partisipasi anak.

Salah satunya yaitu dengan memperluas masalah hukuman fisik (corporal punishment) sebagai salah satu bentuk kekerasan, dan fokus pada kekerasan di sekolah.

Mikiko Otani, Anggota UN Convention on the Rights of the Child (UNCRC), mengemukakan bahwa “Kami mendorong pemerintah Indonesia agar segera memastikan pengiriman laporan implementasi sesuai waktu yang sudah ditentukan. Dan mendorong hadirnya kebijakan dan program yang efektif mendukung sekolah menjadi tempat yang aman bagi anak”.

Laura mengatakan, IJF ingin mendorong adanya komitmen perlindungan anak dan pengembangan budaya tanpa kekerasan di lingkungan sekolah.

Setiap satuan pendidikan sudah seharusnya bisa menerapkan prosedur operasi standar pencegahan tindak kekerasan dengan mengacu pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82 tahun 2015.

Berbagai sumber data yang dihimpun oleh IJF menunjukkan bahwa aksi kekerasan di sekolah termasuk praktik hukuman fisik harus segera dihentikan. (ijf/ijf)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.