Pater Tuan Kopong, MSF
Pater Tuan Kopong, MSF, foto bersama "si gadis kecil" (kiri) serta sepupunya yang lain yang beragama Islam. (foto: fb Tuan Kopong)

sergap,id, KISAH – Kamis 14 Juli 2022 kemarin, Pater Tuan Kopong, MSF, membuat catatan kritis di wall facebooknya dengan judul Tak Menodai Jilbabmu, Juga Tak Mengotori Jubahku .

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadinya setelah meneropong hiruk pikuk para pihak yang mempersoalkan perbedaan agama dan membanggakan agamanya dengan mengkofar-kafirkan yang lain, serta mengharamkan yang satu, dan menghalalkan yang oleh mereka benar walau buruk.

Pater teringat pada seorang wanita yang oleh masyarakat sekampungnya dikenal sebagai kakak sulung adik beradiknya.

Pater berkisah, ada seorang gadis kecil, puluhan tahun lalu, yang kala itu masih berusiah kurang lebih 4 tahun diambil dan dirawat oleh ayah dan ibunya yang adalah Katolik sejati.

Gadis itu dipelihara lantaran sang ibu dari gadis kecil itu meninggal dunia.

Pater Tuan Kopong mengatakan, ibu dan bapaknya tahu betul bahwa ayah dan ibu dari gadis itu beragama Islam sejati. Tapi ayah dan ibunya tidak mempersoalkan agama apa dari orang tua si gadis kecil itu. Karena hubungan kekeluargaan mempererat perbedaan sebagai satu keluarga.

Ketidakmauan bapak dan mamanya membaptis si gadis kecil menjadi Katolik, bukan karena takut pada ayah di gadis yang adalah om kandung dari mamanya, tapi lebih pada penghargaan bahwa apa pun agama yang dianutnya kelak, keputusan ada pada si gadis itu ketika dewasa nanti. Ayah dan ibunya hanya menjalankan kewajiban sebagai orang tua, yakni membesarkan, merawat, dan mendampinginya sebagai anak yang berbakti dan bermanfaat bagi keluarga.

Ketika si gadis kecil menjadi dewasa dan menikah serta memutuskan tetap menjadi seorang Muslimah, sedikitpun tidak ada pancaran kekecewaan dan kesedihan yang ditunjukan oleh kedua orang tuanya.

Bahkan setelah menikah, si gadis kecil itu tetap merawat Pater dan kakak-kakaknya ketika ayah dan ibu mereka pergi ke ladang.

“Kadang dia datang ke rumah kami untuk menjaga dan menyiapkan makanan bagi kami ketika bapak dan mama ke ladang atau menitipkan saya di rumahnya selama beberapa hari walau jarak yang cukup jauh kala itu. Masih jelas dalam ingatan saya ketika saya masih SD hingga SMP, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya. Tidur beberapa hari di rumahnya dan bermain dengan anak-anaknya yang adalah para sepupu saya. Sebuah kenangan indah yang menarasikan sebuah perjumpaan iman dalam perbedaan. Ia yang kala itu dirawat dan dididik dalam sebuah keluarga Katolik tidak harus menjadi Katolik. Ia dibina untuk semakin menghidupi imannya dalam agama yang dianutnya secara baik dan benar. Demikian juga saya yang kala itu mengalami pendampingan dan perawatan dari dia yang adalah seorang Muslimah tidak harus menjadi seorang Islam. Ia merawat dan mendidik saya untuk juga semakin kuat dan tegas menghidupi iman kekatolikan saya hingga menjadi seorang Imam bagi Tuhan dan Gereja. Dia yang berjilbab sebagai seorang Muslimah dan saya yang berjubah sebagai seorang imam Katolik pernah lahir dan besar dalam didikan yang berbeda. Ia mengalami masa-masa kecilnya dari sebuah keluarga Katolik sederhana namun tidak menodai jilbabnya. Demikian juga saya. Dirawat dan dibesarkan olehnya dan mengalami pendidikan darinya yang adalah seorang Muslimah tidak juga menodai iman kekatolikkan saya termasuk jubah saya. Sebaliknya Jilbabnya dan Jubah saya justru menjadi pujian pada Sang Kuasa”, Begitula cerita Pater Tuan Kopong yang patut dijadikan inspirasi agar kita bisa terus memupuk rasa persaudaraan dan toleransi beragama di nusantara.

Pingin Nonton Videonya? Klik DI SINI (bel/bel)

KOMENTAR ANDA?

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini