
sergap.id, LAMBO – Setelah melalui proses panjang sejak tahun 1999, akhirnya kontrak pembangunan waduk di Sungai Lambo, Desa Rendubutowe, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, ditandatangani pada Rabu (1/9/21) kemarin di Aula VIP Kantor Bupati Nagekeo.
Proyek prioritas Presiden Jokowi ini akan dikerjakan oleh PT Waskita Karya dan Bumi Indah KSO untuk paket 1 dengan pekerjaan persiapan jalan, bendungan utama, fserta asilitas penunjang berdasarkan kontrak HK. 02.03/SNVT/PB.II/BWS NTT II/KB/117/VIII/2021 senilai Rp 700.693.821.000.
Sedangkan paket 2 dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya dengan pekerjaan pengelak, pelimpah, bangunan pengambilan, hidromekanikal, elektrikal, dan penyelenggaraan Sistim Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) berdasarkan kontrak HK. 02.03/SNVT/PB.II/BWS/NTT.II/KB/117.1/VIII/2021 senilai Rp 775.138.405.000.
Sementara Konsultan Supervisi adalah PT. Indra Karya, PT. Rancang Semesta, dan PT. Sabana (KSO) berdasarkan Kontrak HK. 02.01/SNVT/PB.II.BWS NTT II/ PR. BENDA/98/VI/2021 senilai Rp 64.395.133.000.
Mulainya pekerjaan dengan total dana sebesar Rp 1.540.227.359.000 ini setelah ada kesepakatan antara pemerintah dengan pemilik lahan yang ditandai dengan penandatangan kerjasama antara tim sosialisasi yang terdiri dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) dan Balai Wilayah Sungai NTT II (BWS NTT II) dengan tim appraisal atau penentu nilai aset tanah serta setiap apa yang ada di atas lahan tersebut sehingga masyarakat terdampak bisa segera menerima pembayaran setelah 30 hari kedepan, terhitung sejak Rabu 1 September 2021.
Penandatangan kontrak itu juga sebagai bentuk sosialisasi dimulainya pekerjaan waduk.
Sebelumnya, pengukuran luas lahan warga yang terkena dampak dilakukan oleh Tim Satgas Kanwil Pertanahan dan Balai Wilayah Sungai NTT II (BWS NTT II) untuk mendapatkan data pasti, sehingga hak masyarakat penerima ganti rugi lahan sudah bisa dibayarkan berdasarkan data tersebut.
Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, mengatakan, seluruh kewajiban pemerintah, seperti sosialisasi dan dialog persuasif sudah dilakukan.
“Sekarang ini persiapan fisik menuju lokasi berjalan bersama dengan Appraisal. Appraisal diharapkan dalam satu bulan ini, 30 hari, bulan September ini bisa selesai dan selanjutnya dilakukan pembayaran bagi yang berhak. Pro dan kontra selalu ada dalam setiap pembangunan,” kata Don.
Menurut Don, tujuan pembangunan Waduk Lambo adalah sebagai tempat penyediaan air baku, serta untuk pemenuhan kebutuhan air di daerah irigasi Mbay Kiri seluas 932,6 hektar dan Mbay Kanan seluas 4.966 hektar.
“Peletakan batu pertama dilakukan pada bulan Nopember 2021,” kata Don.
Sementara itu, Kepala BWS NTT II, Agus setiawan, menjelaskan, paket pekerjaan tersebut dibagi menjadi 2 paket agar pelaksanaannya bisa lebih efektif dan efisien.
“Manfaat pembanguan waduk ini sebenarnya untuk penyediaan air baku dengan debit 205 liter per detik, dan suplai air untuk irigasi Mbay Kiri dan Mbay Kanan, serta sebagai pengendalian banjir sebesar 283,33 meter kubik per detik,” katanya. (ip/sg)




























