Oktavianus Seldi Ulu Bere alias Seldy Berek, wartawan SERGAP yang bertugas di Kabupaten Malaka sejak tahun 2017.
Oktavianus Seldi Ulu Bere alias Seldy Berek, wartawan SERGAP yang bertugas di Kabupaten Malaka sejak tahun 2017.

sergap.id, KUPANG – Wartawan Sergap yang bertugas di Kabupaten Malaka, Oktavianus Seldi Ulu Bere alias Seldy Berek, Senin (18/520), memenuhi panggilan penyidik Satreskrim Polres Malaka. Ia diperiksa sebagai tersangka dalam kasus pencemaran nama baik yang dilaporkan oleh Kepala Bina Marga, Dinas PUPR Kabupaten Malaka, Loresnz Lodiwyk Haba.

Ia diperiksa oleh Bripka Fransiskus Tnesi dan diberi 31 pertanyaan. Selain diperiksa, sebuah handhone milik Seldy ikut disita polisi sebagai barang bukti.

Usai diperiksa, Seldy mengaku, ia baru mengerti duduk persoalan hingga ia ditersangkakan, yakni kasus ini berawal dari sebuah diskusi di grup WhatsApp Pers Mitra Polres Malaka.

Saat itu, Seldy memposting dua berita Sergap di grup itu, yakni berita berjudul Kapolres Belu diduga Terima Hadiah Mobil dari Bupati, KPK Diminta Ke Malaka dan Proyek Jalan Segmen 1 Weliman – Biudukfoho Mangkrak, Warga Mengeluh.

Kemudian terjadi diskusi antara wartawan di grup itu. Seldy pun memberi komentar ikutan yang kemudian komentarnya tersebut di screenshot oleh salah seorang anggota grup.

Screenshot itu lantas diberikan kepada Lorensz (Lodiwyk) Haba, dan tak lama kemudian Lores Haba membuat Laporan Polisi di Polsek Malaka Tengah, Polres Malaka.

Berikut jejak masalah hingga komentar di WhatsApp:

Tanggal 08 Oktober 2018, Seldy  merilis berita dengan judul “Proyek Jalan Segmen 1 Weliman – Biudukfoho Mangkrak, Warga Mengeluh”. Dalam berita tersebut pada pokoknya menyebutkan “PPK yang juga Kabid Bina Marga Dinas PUPR Malaka disebut-sebut sedang menjalani skorsing akibat kedapatan Miras di kantornya”. Atas pemberitaan tersebut, pada tanggal 08 Oktober 2018 (malam) Lorens Haba yang menjabat sebagai Kabid Bina Marga Dinas PUPR Malaka melaporkan Seldy dengan tuduhan pencemaran nama baik ke Polsek Malaka Tengah.

Tanggal 06 November 2018, Redaksi Sergap menerima surat klarifikasi dari Lorens Haba dengan nomor : PU.600/311/X/2018, tertanggal 18 Oktober 2018 yang isinya melakukan koreksi terhadap berita yang dimuat Sergap dengan judul “Proyek Jalan Segmen 1 Weliman – Biudukfoho Mangkrak, Warga Mengeluh”. Surat klarifikasinya itu kemudian dipublish dalam berita berjudul: Kabid Bina Marga Malaka Bantah Proyek Weliman – Biudukfoho Mangkrak.

Tanggal 25 Oktober 2018, Seldy didampingi dua Pengacara yaitu Wilfridus Son Lau dan Priskus Klau memenuhi panggilan Polsek Malaka Tengah untuk memberikan klarifikasi terkait Laporan pencemaran nama baik itu. Saat itu, Penyidik yang meminta klarifikasi adalah Bripka Fransiskus Tnesi sebagai Kanit Reskrim Polsek Malaka Tengah.

Tanggal 28 Maret 2020, Cristian Davidson Seran, ST.,MM (ponakan kandung Bupati Kabupaten Malaka, Stefanus Bria Seran) meminta Seldy mendampingi dirinya melaporkan Lorens Haba dan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Malaka di Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Malaka sekitar pukul 12.00 WITA. Saat itu Cristian Davidson Seran, ST.,MM mengatakan, pada tanggal 08 Oktober 2018 itu dirinya turut mendampingi Lorens Haba melaporkan Seldy di Polsek Malaka Tengah. “Saat itu Lorens Haba meminjam uang sebesar Rp. 6.000.000 dari saya (Cristian Davidson Seran, ST.,MM), coba tanya digunakan untuk apa, karena hingga sekarang uang itu belum dikembalikan”.

Tanggal 30 Maret 2020, Seldy bertanya melalui WA group Pers Mitra Polres Malaka, “terkait kasus 08 Oktober 2018 itu, ada uang Rp. 6.000.000 yang dipinjam Lorens Haba untuk diberikan kepada Polsek Malaka Tengah sehingga Polisi panggil saya untuk diperiksa”.

Tanggal 15 Mei 2020, sekitar pukul 08.00 WITA, Seldy ditelpon oleh Bripka Fransiskus Tnesi menanyakan alamat kos dan meminta untuk bertemu pada Pukul 10.00 WITA. Namun, setelah dijanjikan untuk bertemu, Bripka Fransiskus Tnesi tidak menghubunginya kembali, sehingga pertemuan tersebut tidak terjadi.

Tanggal 16 Mei 2020 sekitar pukul 10.00 WITA, Seldy ditelpon Bripka Fransiskus Tnesi untuk bertemu. Sekitar 30 menit setelah itu, Bripka Fransiskus Tnesi mendatangi Seldy di halaman Kos dan menyerahkan 2 (dua) Amplop kemudian langsung diminta untuk tanda tangan.

Setelah tanda tangan, Seldy bertanya kepada Bripka Fransiskus Tnesi, “Ini Surat Soal apa”? sebab saya pernah dikirim surat klarfikasi berita oleh Lorens Haba melalui email. Lalu, Bripka Fransiskus Tnesi menjawab, “Kawan pernah membuat pernyataan di WA group Pers Mitra Polres Malaka tentang uang 6 jt”. Selanjutnya Bripka Fransiskus Tnesi meminta pamit pulang dengan mengendarai mobilnya.

Jarak Waktu Kejadian dan Laporan Polisi

Kasus awal terjadi pada tahun 2018 dan tanggal 08 Oktober 2018, Lores Haba membuat Laporan Polisi di Polsek Malaka Tengah. Namun kasus ini tidak diproses lanjut hingga ke Pengadilan sejak dilaporkan.

Tiba-tiba di tengah pandemik Covid-19, Mei 2020, muncul lagi laporan baru di Polres Malaka dengan nomor: LP/15/IV/2020/SPKT/Polres Malaka tanggal 25 April 2020, hingga Seldy ditetapkan sebagai tersangka.

Jarak waktu kejadian dan laporan polisi yang baru sangat jauh. Apalagi kasus yang dilaporkan ini berkaitan erat dengan produk jurnalistik. Seharusnya UU Pers yang dipakai untuk mengakhiri masalah ini.

Didampingi 30 Orang  

Saat diperiksa penyidik Satreskrim Polres Malaka, Seldy didampingi sejumlah pengacara, dan aktivis anti korupsi di Malaka. Bahkan lebih dari 7 pimpinan dan Anggota DPRD Malaka turut serta mendapingi Seldy di Polres Malaka.

BACA JUGA: Wartawan Sergap di Malaka, Diancam Akan Dibunuh Hingga Ditetapkan Sebagai Tersangka

Seldy mengaku kaget dan terharu melihat dukungan terhadap dirinya itu.

“Saya hanya bisa ucapkan terima kasih. Semoga upaya pemberantasan korupsi di Malaka tidak terhenti disini,” ujar Seldy kepada Pemimpin Redaksi (Pemred) Sergap, Chris Parera, via telepon usai dirinya diperiksa dan diberi penangguhan penahanan oleh Polres Malaka. (pc/pc)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.