Dialog Meja Bundar di Hotel Ima Kupang, Senin (23/10/17) siang.

sergap.id, KUPANG – Bupati Kabupaten Ngada Marianus Sae, mantan Kapolda NTT Jacki Uly dan mantan Bupati Kabupaten Kupang I. A. Medah membeberkan alasan mereka menjadi Calon Gubernur NTT 2018-2023.

“Saya melihat NTT perlu dilakukan perubahan atau langkah yang kongkrit untuk mengatasi masalah serius, yakni masalah kemiskinan. Ini yang mendorong saya untuk maju menjadi calon gubernur,” kata Medah menjawab pertanyaan Ina Djara, presenter TVRI, saat membuka dialog Meja Bundar yang diselenggarakan oleh Forum pemuda Kupang Jakarta (FKJ) di Hotel Ima Kupang, Senin (23/10/17) siang.

Menurut Medah, kalau tidak segera diatasi, maka sampai kapan pun, kemiskinan tidak akan terselesaikan dari bumi NTT.

“80 persen masyarakat NTT hidup dari sektor pertanian. Mereka menjadi penyumbang terbesar kemiskinan di NTT. Karena itu akar masalah kemiskinan harus segera diselesaikan,” tegas Medah.

Sementara itu, Jacki Uly mengatakan, penegakan masalah hukum di NTT yang kurang prima membuatnya tertarik menjadi calon gubernur.

“Bidang yang satu ini akan membantu sekali dalam urusan politik, ekonomi dan lain-lain,” katanya.

Lalu apa alasan Marianus Sae?

“Berangkat dari keterpanggilan untuk mengatasi akar kemiskinan, maka saya mau maju menjadi calon gubernur. Karena menurut saya masalah infrastruktur adalah masalah utama kenapa NTT masih miskin. Masalah ini adalah masalah yang juga terjadi di Ngada pada tahun 2010. Tapi setelah saya menjadi bupati, dan saya selesaikan masalah infrastruktur jalan dari efisiensi anggaran yang diambil dari biaya operasional dinas, badan, maka di tahun ke 4, Ngada keluar dari status daerah tertinggal (status ini diberikan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasisetjen tahun 2014),” kata Marianus.

Ketua FKJ Eduardus Lemanto sedang memberikan keterangan pers kepada wartawan.

Ketua FKJ Eduardus Lemanto, menjelaskan, dialog meja Bundar Menuju Pilgub NTT adalah wadah untuk menggali pandangan atau program dari para bakal calon gubernur dan wakil gubernur.

“Karena merupakan forum anak-anak muda, makanya kita namakan Dialog Meja Bundar, menandai satu tujuan, yakni lingkaran atau bundaran,” kata Lemanto.

Menurut dia, kegiatan tersebut sesungguhnya adalah misi anak-anak muda dalam mengundang bakal calon gubernur dan wakil gubernur untuk berdialog, bukan berdebat.

“Di  sini, kami ingin mengajak semua balon untuk menyampaikan semua hal dan berdiskusi di meja bundar,” ucapnya. (BB)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.