Pasangan gay asal Thailand, Bas dan Smile yang baru saja melangsungkan pernikahan sempat dihujat oleh sebagian netizen Indonesia, namun netizen Indonesia lainnya meminta maaf atas perlakuan tidak adil tersebut hingga trending di Twitter dengan hashtag #IndonesiaSaySorryforThailand.
Pasangan gay asal Thailand, Bas dan Smile yang baru saja melangsungkan pernikahan sempat dihujat oleh sebagian netizen Indonesia, namun netizen Indonesia lainnya meminta maaf atas perlakuan tidak adil tersebut hingga trending di Twitter dengan hashtag #IndonesiaSaySorryforThailand.

sergap.id, MOF –  Kekerasan terhadap komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau LGBT tak pernah berkesudahan. Tahun 2020 lalu, setidaknya ada 63 anggota komunitas LGBT dan interseks tewas di Kolumbia.

Sementara di Indonesia sudah tidak terhitung lagi berapa kasus persekusi dan kekerasan yang dialami kaum LGBT.

Kasus-kasus ini berulang kali diadukan ke kantor Komnas Perempuan di Jakarta. Namun ancaman dan teror terhadap LGBT belum juga berhenti.

Bahkan para psikiater menyatakan bahwa orientasi seksual sesama jenis dan identitas transjender itu adalah “penyakit kejiwaan”. Namun pernyataan tersebut bertentangan dengan prinsip hukum kodrat.

Itu sebabnya, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat (STFK) Ledalero, Dr. Pater Otto Gusti Ndegong Madung,  mendorong pastor-pastor Katolik agar diberikan kewenangan untuk memberkati pernikahan kaum LGBT.

Alasannya, ungkap Pater Otto, dalam sejarah gereja Katolik pernah keliru dengan kasus Galileo Galilei. Dimana dahulu Gereja Katolik menilai pusat alam semesta ada pada bumi. Namun dalam penelitian sains yang dilakukan oleh Galileo Galilei, ia mengatakan pusat alam semesta adalah matahari.

Hasil penelitian Galileo Galilei ini, ungkap Pater, bertentangan dengan gereja Katolik.

Galileo akhirnya dihukum karena gereja Katolik sama sekali tidak merasa senang dengan pandangan tersebut

“Baru di tahun 1992 ketika itu, Paus Yohanes Paulus II meminta maaf dan Gereja Katolik memberikan pengampunan dan menerima kembali Galileo Galilei menjadi anggota gereja,” ungkap Pater Otto seperti dikutip SERGAP dari mediaindonesia.com, Kamis (27/5/21) malam.

Selain itu, kata dia, Gereja Katolik juga pernah keliru soal kasus Dawkins.

Menurut Gereja Katolik bahwa manusia dan alam semesta diciptakan dalam enam hari seperti yang tertuang dalam Kitab Kejadian.

Namun Dawkins membantah pernyataan Gereja Katolik dengan menyatakan bahwa teori evolusi telah membuktikan tidak ada Tuhan. Dawkins akhirnya dihukum oleh Gereja Katolik ketika itu. Tetapi kemudian Gereja Katolik akhirnya mengakui bahwa teori evolusi Dawkins benar dan apa yang dikisahkan dalam kitab Kejadian itu hanya mitos.

Menurut Pater Otto, LGBT kerap mendapatkan kekerasan dan diskriminasi. Karena itu Pater otto berpikir, Gereja Katolik harus berpihak pada mereka. Namun secara Sakramen Pernikahan, Gereja Katolik di Roma belum berpihak kepada kaum LGBT. Meski Paus Fransiskus menegaskan agar kita menghargai LGBT dengan memperlakukan mereka sebagai saudara dan saudari kita.

“Dari penjelasan saya diatas tadi bahwa gereja Katolik juga pernah keliru. Jadi saat ini kita perlu dorong secara sakramen pernikahan di gereja Katolik sehingga mereka LGBT itu juga kedepannya bisa diberkati pernikahan oleh para Pastor Katolik,” ujarnya.

Basis argumentasi etis mengapa Gereja Katolik tidak mengakui pernikahan sejenis, kata Pater Otto, adalah konsep hukum kodrat (ius naturale).

Ius naturale adalah ungkapan dari hukum Ilahi atau ius divinum. Karena itu pernikahan sejenis adalah praktik yang melanggar hukum Ilahi. Dengan demikian ia disebut dosa.

Akan tetapi sesungguhnya premis hukum kodrat itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit, tapi hasil dari pembuktian ilmu pengetahuan.

Untuk mengetahui bahwa sesuatu itu sesuai dengan prinsip hukum kodrat, para ahli etika juga merujuk pada penemuan ilmu pengetahuan.

“Dari penemuan ilmu kedokteran kita tahu homoseksualitas itu bukan sesuatu yang abnormal tapi bersifat kodrati,” kata Pater Otto seperti dikutip SERGAP dari Grahabudaya, Kamis (27/5/21) malam.

Kata Pater Otto, dengan temuan ilmu kedokteran itulah, pernikahan sejenis seharusnya sudah bisa diterima dalam Gereja Katolik.

Apalagi WHO sudah mencabut status penyakit mental pada homoseksualitas sejak tahun 1990.

“Artinya LGBT adalah sesuatu yang kodrati, dan kalau kodrati, (maka) ia merupakan ungkapan dari ius divinum,” pungkas Pater Otto. (mi/gb)

2 Komentar

  1. Mungkin Romo, sesat pikir. Justru ketika gereja Katolik memberkati pasangan LGBT maka gereja membuat kesalahan yang sama seperti yang dilakukan gereja terhadap Darwin dan Galileo Galilei.

    Kalau yang menjadi dasar pembolehan LGBT adalah karena hukum kodrat. Maka saya berani mengatakan Romo sesat pikir jika membolehkan pasangan LGBT ini menikah dan diberkati di gereja Katolik. Ius naturale dalam sebuah perkawinan adalah prokreasi atau usaha untuk berkembang biak atau melanjutkan keturunan. Bahwa benar tdk semua perkawinan heteroseksual menghasilkan keturunan. Namun tujuan dari perkawinan yang utama adalah menghasilkan keturunan. Bagaimana mungkin menikahkan pasangan yang jelas-jelas tidak mendukung tujuan tersebut? Berarti LGBT tidak secara kodrat ditujukan untuk itu. Dan menikahkan mereka adalah suatu penyimpangan dan penentangan pada Ius divinum. Merujuk pada kitab kejadian dimana Allah mengatakan ketika penciptaan berkembang biak dan beranak cucilah penuhilah muka bumi. Artinya baik secara normatif, nilai etika maupun moralitas hidup. Tujuan makhluk hidup adalah berkembang biak. Jika kitab suci dianggap sebagai kesalahan maka berhentilah jadi imam. Kebenaran kitab suci tidak pada faktanya tapi pada nilai dan moral yang dianutnya adalah kesepakatan seluruh umat. Jika Kitab suci tidak dianggap lagi sebagai rujukan, lalu atas dasar apa agama ini berjalan?

    Prokreasi adalah hal suci yang diatur oleh gereja Katolik selama ribuan tahun dan diamienkan sebagai perintah Allah. Bahwa jika akhirnya seseorang tidak menikah maka itu pilihan yang diambil bukan hukum kodrat. Sama dengan hal tersebut maka LGBT adalah sebuah pilihan orientasi sexual. Justru ketika LGBT dianggap sebagai bagian hukum kodrat maka mereka adalah produk yang cacat karena tdk memenuhi tujuan umum hukum kodrat. Kalau kita mau menganggap mereka sebagai produk yg tidak cacat maka kita harus menganggap bahwa LGBT adalah pilihan orientasi sexual . Dan itu kita hormati sebagai pilihan hidup. Tapi bukan berarti secara mekanis mereka juga bisa menggunakan dalil-dalil hukum kodrat seperti menikah dan punya anak.

    Dalam masyarakat pun, pilihan ini juga hal yang mudah diterima. Secara sosial kaum ini juga merupakan suatu penyimpangan norma, apapun hasil penelitian yang dilakukan para ahli. Dari penyebutan saja mereka sulit diidentifikasi. Contoh dimasyarakat kita mengenal anggota keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak. Definisi ayah adalah pria dan ibu adalah wanita. Suami adalah pria dan istri adalah wanita. Dalam undangan pernikahan ada yg disebut mempelai pria dan mempelai wanita. Lalu dengan apa kaum ini akan disebut ? Jadi mohon hentikan kesesatan pikir ini. Kembali ke jalan yang benar dan diberkati. Berdoalah yang banyak agar terang Roh Kudus menyertai anda. Berkah Dalem.

  2. Ada dua tulisan menarik untuk disimak tentang topik ini. Satu di Media Indonesia, dan satu lagi di koran Sergap. Isinya sama, tapi sedikit beda judul dan urutan paragraf. Diksi ‘harap’ (pasif) dipakai di Media Indonesia, sementara diksi ‘dorong’ (menyiratkan upaya aktif) dipakai di koran Sergap. Entahlah, jika dua diksi itu sudah tepat menerjemahkan maksud dan pikiran P. Otto Gusti SVD.

    Hemat saya, kemungkinan pernikahan sesama segender dalam Gereja Katolik belum tentu merupakan solusi atas persoalan kekerasan yang dialami oleh mereka.

    Mungkin perlu lebih banyak data ttg penyebab kekerasan terhadap kaum LGBT. Ini penting agar Gereja mampu hadir sbg pembawa solusi, bukan pembawa atau penambah masalah bagi kaum LGBT dan umat.***

KOMENTAR ANDA?

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini