Jembatan Alorongga. Tampak ada lubang di jembatan ini. Foto diambil dari kolong jembatan pada Sabtu (30/5/20).
Jembatan Alorongga. Tampak ada lubang di jembatan ini. Foto diambil dari kolong jembatan pada Sabtu (30/5/20).

sergap.id, MBAY – Perbaikan jembatan Alorongga atau jembatan yang menghubungkan Mbay, Kabupaten Nagekeo dengan Riung, Kabupaten Ngada, diduga dikerjakan asal jadi alias terlihat bagus tapi kualitas buruk.

Buktinya, proyek yang menelan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT Tahun Anggaran (TA) 2019, sebesar Rp 2.372.895.000 itu, kini sudah berlubang, persis di tengah jembatan, dan berpotensi membahayakan pelintas.

Padahal jembatan ini baru selesai dikerjakan pada Desember 2019, atau 6 bulan yang lalu.

Karena itu, jika ingin melintas di jembatan ini, pengendara harus ekstra hati-hati. Jika tidak, maka kecelakaan bisa saja terjadi.

Sejumlah warga yang melintas tampak mengomel, “Masa belum setahun dikerjakan, kondisi jembatan sudah mulai keropos, bahkan sudah ada yang jebol? Ini kerja tidak tanggung jawab, karena bagian bawah jembatan bagian barat, sudah jebol, dan beton bagian bawah terlihat sudah berkarat”.

Perbaikan jembatan ini dilakukan oleh CV. Fajar berdasarkan kontrak kerja, Nomor: PUPR.BM.05.01/602/56 IV/2018, tanggal 30 April 2019, dengan pagu dana Rp 2.372.895.000, dan Nomor SPMK: PUPR.BM.05.04/620/PKK/PJJ/42/SPMK V/2019, dengan jangka waktu pelaksanaan selama 180 hari kalender, dan target pekerjaan 115 meter.

“Ini mereka kerja bagaimana? Masa belum apa-apa sudah jebol. Dana begitu besar tapi mutu pekerjaan sangat buruk. Kalau kerja hanya cari untung ya begini jadinya,” ucap Antonius Wasa, warga Mbay II, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Sementara itu Kuasa Direktur CV. Fajar, Flavianus Gun, menjelaskan, sesuai kontrak, pihaknya hanya memperbaiki jembatan sepanjang 95 meter.

“Itu jelas dalam dokumen kontrak. Rencana awalnya 115 meter, akan tetapi karena dananya kurang, maka volume pekerjaan dikurangi. Pengurangan volume itu ada dalam berita acara. Jadi tidak benar saya kerja asal jadi,” kata Gun kepada SERGAP di Mbay, Sabtu (30/5/20).

“Coba pak lihat sendiri, dari arah timur jembatan bagian bawahnya, itu kita pakai baja ringan, sedangkan di bagian barat tidak masuk dalam kontrak. Kalau dananya sesuai pasti saya kerjakan semua sampai ke ujung barat. Konstruksinya seperti itu, jadi kita ikut sesuai yang sudah ada dalam kontrak. Saya perlu klirkan ini biar tidak terjadi polemik yang berkepanjangan,” ucapnya. (sg/sg)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.