ilustrasi

sergap.id, MANO – Kasus polisi bunuh diri kembali mengguncang. Kali ini datang dari sudut sunyi di Manggarai Timur, di sebuah pos polisi kecil di Mano, tempat yang biasanya menjadi simbol keamanan, justru berubah menjadi saksi kepergian seorang anggotanya sendiri.

Bripka Alexandrea Riberu, Kepala Pos Polisi (Kapospol) Mano, ditemukan telah mengakhiri hidupnya pada Selasa, 14 April 2026. Peristiwa itu terjadi di Pospol Mano, Kelurahan Mando Sawu, Kecamatan Lamba Leda Selatan, lokasi yang sehari-hari ia jaga dan layani.

Belum banyak yang bisa dijelaskan. Kapolres Manggarai Timur, AKBP Haryanto, hanya memberi keterangan singkat.

“Masih di cek oleh anggota,” katanya.

Di lapangan, tim kepolisian bergerak cepat. Kasat Reskrim Polres Manggarai Timur, Iptu Ahmad Zacky Shodri, memastikan bahwa proses olah tempat kejadian perkara (TKP) telah dilakukan. Namun, seperti banyak kasus serupa, jawaban yang ditunggu publik belum sepenuhnya terungkap.

“Kita baru selesai olah TKP. Sebentar saya akan share laporan dengan foto-foto,” ujarnya.

Sementara itu, jenazah almarhum akan dibawa ke Ruteng—tanah pulang, tempat keluarga menunggu dalam duka yang tak terucap.

Di luar garis polisi dan laporan resmi, kabar ini menyebar cepat di media sosial. Rasa kehilangan mengalir deras. Salah satu unggahan dari akun Facebook menuliskan pesan sederhana namun menyayat:

“Kasihan kauuu ew Andre… Selamat jalan adek ganteng. Tuhan mengampuni dosa-dosamu. Tinggallah bersama para orang kudus di surga.”

Lebih dari 500 komentar membanjiri unggahan tersebut. Tak ada perdebatan, tak ada spekulasi—hanya satu suara yang sama: duka.

Bripka Alexandrea Riberu bukan sekadar anggota polisi. Ia pernah menjadi bagian dari lingkar pengamanan pribadi Bupati Manggarai Timur—sebuah peran yang menuntut kedekatan, kepercayaan, dan loyalitas tinggi. Namun di balik seragam dan tugas, ia tetap manusia—dengan beban yang mungkin tak pernah benar-benar terlihat.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat keras: di balik institusi yang tampak kuat, ada individu-individu yang juga bisa rapuh.

Dan ketika mereka jatuh dalam sunyi, sering kali tak ada yang benar-benar tahu—sampai semuanya terlambat.

DISCLAIMER: Jangan Anggap Sepele. Di luar sana, banyak orang terlihat baik-baik saja. Tersenyum, bekerja, bercanda seperti biasa. Tapi di dalam dirinya, ada perang yang tak pernah benar-benar selesai. Depresi bukan sekadar rasa sedih yang datang lalu pergi. Ia bisa tumbuh diam-diam, menggerogoti harapan, mengaburkan makna hidup, bahkan menumbuhkan keinginan untuk mengakhiri segalanya.

Ini bukan hal sepele. Sama seperti tubuh yang bisa sakit, jiwa pun bisa terluka. Dan ketika luka itu semakin dalam—ketika hari-hari terasa gelap tanpa ujung—itu bukan saatnya untuk diam.

Bicaralah. Carilah bantuan. Karena ada orang-orang yang memang didedikasikan untuk mendengar, memahami, dan membantu: psikolog, psikiater, dan tenaga profesional di klinik kesehatan jiwa. Meminta bantuan bukan tanda lemah. Justru itu adalah langkah berani untuk bertahan. Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian. (sis/sis)