
sergap.id, KISAH – Malam di penjara itu terasa lebih panjang dari biasanya. Udara dingin menyelinap lewat jeruji besi, menyentuh kulit seperti bisikan tak kasatmata tentang sesuatu yang tak terelakkan. Di balik tembok tebal itu, tiga lelaki duduk dalam diam—menunggu waktu yang tak pernah benar-benar bisa dipersiapkan.
Nama mereka pernah mengguncang negeri: Fabianus Tibo, Marinus Riwu, dan Dominggus da Silva.
Namun malam itu, mereka bukan sekadar nama dalam berkas perkara. Mereka adalah manusia—dengan napas yang masih hangat, doa yang terus terucap, dan harapan yang belum sepenuhnya padam.
“Kalau memang ini akhir,” suara Tibo pelan, hampir seperti doa, “biarlah Tuhan sendiri yang menjadi saksi.”
Ia menggenggam rosario yang pernah diberikan dari Roma—sebuah tanda iman dari Paus Benediktus XVI. Jari-jarinya bergerak perlahan, menghitung butir demi butir, seolah setiap doa adalah langkah kecil menuju keabadian.
Ia pernah berkata, dengan keyakinan yang tak tergoyahkan:
“Saya berani bersumpah di atas 100 Alkitab, saya tidak melakukan yang dituduhkan kepada saya.”
Kata-kata itu kini bergema kembali di dalam kepalanya. Bukan sebagai pembelaan, tapi sebagai penegasan terakhir dari hati nurani.
Di sudut lain, Marinus berdiri. Ia meminta sesuatu yang tak biasa bagi seorang terpidana mati: sisir dan parfum.
Petugas sempat heran. Tapi ia hanya tersenyum tipis.
“Ya, saya ini orang Katolik,” katanya tenang, “harus rapi dan harum. Sebentar lagi saya mau menghadap Tuhan.”
Tak ada getar dalam suaranya. Tak ada ketakutan yang tampak. Seolah ia sedang bersiap menghadiri sebuah pertemuan agung, bukan kematian.
Dominggus berbeda. Ia lebih banyak diam. Namun dalam diamnya, ada kedalaman yang tak terucapkan.
Ketika saat itu benar-benar tiba—ketika peluru menjadi bahasa terakhir dunia—ia hanya mengucapkan satu kalimat yang melintasi batas manusia:
“Ya Bapa, ampunilah mereka.”
Kalimat itu sederhana. Tapi mengandung sesuatu yang lebih besar dari rasa sakit—pengampunan.
Eksekusi mereka sempat tertunda. Sekali, dua kali. Negara seperti ragu, atau mungkin waktu sedang memberi ruang bagi kebenaran untuk muncul.
Pada 9 Maret 2006, pelaksanaan itu batal. Nama Oegroseno, mantan Waka Polri, disebut—ia masih membutuhkan keterangan.
Lalu 12 Agustus 2006, waktu sudah ditentukan hingga menit. Tapi lagi-lagi, ditunda. Bahkan diumumkan langsung oleh Sutanto setelah rapat bersama Susilo Bambang Yudhoyono.
Seolah takdir masih menahan napas.
Namun pada Jumat dini hari, 22 September 2006, pukul 01.35 WITA—segala penundaan berakhir.
Tak ada lagi waktu.
Di dalam sel, jauh sebelum hari itu, Tibo pernah menulis:
“Kalau akhirnya kami dieksekusi, itu bukan karena kami bersalah… tetapi karena itu sudah menjadi kehendak Tuhan.”
Ia tidak hanya berbicara tentang dirinya. Ia berbicara tentang banyak orang—yang, seperti katanya, “tertindas, teraniaya, dan tak bisa bicara.”
Bahkan hingga akhir, ia masih berharap:
“Biarlah kebenaran terungkap.”
Tibo bukan hanya seorang terpidana. Ia dikenal sebagai “opa” yang mengobati orang-orang tanpa meminta bayaran. Ratusan orang datang kepadanya—bukan hanya untuk sembuh, tapi untuk menemukan harapan.
Ia tidak meminta uang. Hanya satu hal:
“Berdoalah. Tinggalkan sifat yang tidak baik.”
Ia percaya penyakit bukan hanya soal tubuh, tapi juga jiwa.
Malam terakhir itu tidak mencatat apakah keajaiban benar-benar datang.
Namun ia mencatat sesuatu yang lain—yang mungkin lebih abadi:
keyakinan yang tak goyah,
pengampunan di tengah luka,
dan iman yang tetap berdiri bahkan ketika hidup hampir berakhir.
Di luar penjara, dunia terus berjalan. Sejarah mencatat mereka dengan berbagai versi.
Namun di dalam sunyi yang paling dalam, tiga suara itu tetap hidup—
bukan sebagai teriakan,
melainkan sebagai bisikan:
tentang kebenaran,
tentang keadilan,
dan tentang manusia yang bertahan hingga detik terakhirnya.
Dan mungkin, sampai hari ini, pertanyaan itu masih menggantung—
apakah semuanya sudah benar-benar terungkap? (cis/cis)






























