Tugu Tsunami 1992. Tugu ini untuk mengenang para korban. Tugu ini dibangun di bekas pemukiman warga Lamatutu yang tersapu tsunami 12 Desember 2012.

sergap. Id,  LAMATUTU –  Bencana tsunami 12 Desember 1992 menyisahkan pilu.  500an orang meregang nyawa seketika.  Teriakan minta tolong masih menghantui mereka yang selamat hingga saat ini.

Siang itu aktivitas warga seperti biasa.  Tidak ada yang menyangka bahwa bencana akan datang.

Kaum pria terlihat menyulam pukat sobek akibat terperangkap karang.  Sebagiannya melaut, dan sebagiannya lagi menghindar terik di bawah pohon-pohon kelapa.

Sementara beberapa wanita ada yang menenun, dan ada pula yang merebahkan diri di bale-bale bambu di pojok rumah mereka. Hanya belasan orang saja yang pergi ke kebun siang itu.

Tepat pukul 12.00 wita, tiba tiba bumi mengguncang dan air laut surut hingga ratusan meter.  Setelah itu muncul gelombang setinggi 26 meter melululantakan pemukiman warga di sepanjang pantai Sirapaji, Desa Lamatutu.

Seketika warga histeris sambil berusaha menyelamatkan harta benda.  Namun langkah mereka terhenti beberapa meter Karena dihempas gelombang ganas, lalu ditarik arus tsunami berkekuatan 1000 tenaga gajah ke dasar laut.

“Sekitar 500 orang yang mati saat itu.  Hanya belasan saja yang hidup.  Itu pun beruntung saat tsunami terjadi, mereka sedang ke kebun di lereng bukit (Turubean, Lamatutu), ” ujar Anis Lurah Yohanes (43), warga Desa Nusa Nipa yang saat itu ditunjuk oleh TNI AL dan Brimob sebagai penunjuk jalan dalam operasi penyelamatan korban tsunami 1992.

Tak hanya manusia, rumah dan harta benda yang menjadi korban.  Pohon dan batu gunung sebesar rumah pun, juga ikut diseret tsunami ke dasar laut.

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Gelombang itu turun naik lalu maju mundur lalu turun naik membanting. Manusia seperti di ayak dan dibanting. Tidak ada yang selamat saat itu, kecuali seorang ibu yang tengah hamil besar dan dua anak kecil, yaitu satu anak perempuan umur 11 tahun, dan satunya lagi umur 4 tahun,” papar Lurah.

Tiga jam setelah tsunami, warga desa tetangga, yakni warga Nusa Nipa dan warga Desa Lamatutu yang tersisa datang ke lokasi kejadian.  Yang terlihat hanya kolam air laut yang dipenuhi batu, kayu dan ratusan jenasah.

“Yang mati terapung, semuanya muka (wajahnya) ke bawah (menghadap bumi). Sementara yang mati tertutup lumpur dan tertendes batu, mukanya menghadap ke langit, ” ucap Lurah.

“Ada satu cewek asal Bugis tertendes batu sebesar rumah.  Karena kami tidak bisa keluarkan dia dari jepitan batu, akhirnya kami biarkan saja begitu. Sampai sekarang dia terkubur di batu itu” kata Lurah.

Karena korban meninggal terlalu banyak, akhirnya para korban dikubur secara massal dan seadanya.  Yang ditemukan di pantai, langsung dikubur di pantai, tepat di sebelah di mana korban ditemukan.  Begitu juga yang terdampar di lereng bukit akibat hempasan tsunami.

Pencarian dan penguburan korban tsunami hingga malam hari menggunakan obor dan lampu gas seadanya.

Keesokan harinya pencarian kembali dilakukan.  Proses pemakaman dilakukan seperti di hari pertama. Namun di hari kedua ini bau busuk mulai menyengat. Sumbernya datang dari jasad manusia dan bangkai binatang serta ikan yang mati akibat tsunami.

Hari ketiga pun sama.  Bahkan bau makin menyengat.  “Hari ke empat saya tarik diri, saya tidak ikut lagi pencarian.  Karena selama tiga hari itu saya tidak bisa makan.  Wajah para korban dan bau bangkai membuat saya tidak bisa makan.  Seminggu lamanya saya merasa mual,” ucap Lurah.

Dari semua korban, hanya dua jasad yang ditemukan utuh, yakni seorang nenek bernama Maria dan seorang gadis asal Buton bernama Wailuh.

“Wailuh itu ditemukan bertelanjang dada.  Akhirnya saya buka baju saya untuk tutup jasadnya. Dia kami kubur di tempat dimana dia ditemukan, ” kata Lurah.

Selain warga Lamatutu, 6 warga Desa Nusa Nipa juga menjadi korban tsunami 92. Semuanya dikubur tanpa peti mati. “Tidak ada waktu lagi untuk buat peti. Semuanya dikubur apa adanya. Bahkan ada yang dikubur dalam keadaan telanjang,” ujar Lurah.

Pantai ini dahulunya dipenuhi rumah warga. Rata-rata rumah kolong. Namun kini tak ada satu pun bekas rumah yang tertinggal akibat diterjang tsunami 92.

KORBAN SELAMAT

Walau sempat dipukul gelombang dan diseret arus, namun seorang ibu yang tengah hamil tua berhasil selamat.

Saat terseret arus, Ibu yang akrab disapa mama Yopi itu tersangkut di rumpun bambu aur berduri.  Rambutnya terbelit di akar bambu. Namun seluruh badannya penuh luka akibat hantaman material batu pasir yang terseret tsunami.

“Keesokan harinya,  ibu itu melahirkan.  Dan,,, anaknya itu diberi nama Eman Gempa.  Sekarang dia sudah pemuda, ” papar Lurah.

Thomas Tobi Kelen (91).

DUA ANAK KECIL

Dua anak kecil yang selamat menurut cerita Lurah di atas ternyata bernama Paulus Sira Demon Kelen alias Osir yang saat itu berumur 4 tahun,  dan Yosefina Toti Kelen, saat itu berumur 11 tahun.

Keduanya ditemukan sedang duduk mengerang sakit di atas sebuah batu yang mencuat ke permukaan laut sekitar 150 meter dari bibir pantai.

“Saat ditemukan, Osir berlumuran darah. Kepala dan badannya luka-luka akibat benturan. Saat ditemukan dia tidak bisa bicara.  Bibirnya pucat pasi seperti mayat. Saya lalu gendong dia dan obat dia.  Akhirnya dia sehat.  Sekarang ini Osir sudah pemuda.  Dia bekerja sebagai KAUR Keuangan Desa Lamatutu, ” kata Thomas Tobi Kelen (91), ayah Osir, saat ditemui SERGAP. ID di Desa Lamatutu,  Kecamatan Tanjung Bunga,  Kabupaten Flores Timur, Minggu (29/7/17).

Material gunung yang diseret arus tsunami 92.

TOSIBA

Tragedi 92 merupakan bencana terbesar yang melanda Lamatutu dan sekitarnya.  Untuk mengenang itu, para pemuda desa membentuk klub sepak bola bernama TOSIBA, yang artinya Torang Sisa Bencana Alam.

Klub ini rutin mengikuti turnamen sepak bola antar desa di Kecamatan Tanjung Bunga, maupun antar klub se Kabupaten  Flores Timur. (Eman Koten)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.