Prosesi Logu Senhor diGereja Santo Ignati Loyola, di Kampung Sikka, Kabupaten Sikka, Jumat (14/4/17).

sergap.Id, MAUMERE – Logu Senhor  atau tradisi melewati salib dengan cara menunduk dan berjalan di bawah salib, telah ada di kampung Sikka, Kabupaten Sikka sejak abad ke 16.

Tradisi yang setiap tahun hanya bisa dilihat di Gereja Santo Ignati Loyola, kampung Sikka itu, dibuat untuk mengenang kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.

Setiap tahun, para peziarah datang dari berbagai pelosok Kabupaten Sikka dan dari luar Sikka untuk mengikuti prosesi Logu Senhor, tepat pada perayaan Jumat Agung. Tak terkecuali Jumat Agung (14/4/2017) kemarin.

Ketua Panitia Logu Senhor 2017, Firminus, mengatakan, Logu Senhor di perayaan Jumat Paskah kali ini dihadiri sekitar 966 orang dari luar wilayah Gereja Santo Ignati Loyola. Dan, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, maka semua peziarah diberi tanda pengenal khusus.

Pantauan SERGAP.ID, perayaan Logu Senhor pada Jumat malam dihadiri lebih dari 2000 orang. Jumlah ini melebihi kapasitas gereja tua di Sikka itu. Tampak manusia penuh sesak, dan sebagian umat meluber sampai ke halaman gereja.

Firminus, mengakui, jumlah peziarah tahun ini lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. “Tahun lalu hanya sekitar 500-an orang,” katanya.

Perayaan Jumat Agung di Gereja Santo Ignati Loyola, Jumat (14/4/17).

Menurut Firminus, Logu Senhor adalah sebuah ritus agama Katolik peninggalan bangsa Portugis. Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak beratus-ratus tahun yang lalu, dan hanya ada di Kampung Sikka.

Tradisi ini biasa hanya dijalankan warga kampung Sikka. Namun sejak 1997, warga dari luar kampung Sikka mulai berdatangan untuk mengikuti ritual Logu Senhor.

“Awalnya seluruh ibadat, termasuk nyanyian, masih menggunakan bahasa Portugis. Namun belakangan ini mulai menggunakan bahasa Indonesia, kecuali untuk beberapa bagian yang masih tetap dipertahankan pakai bahasa Portugis,” kata Fiminus.

Sejarawan Kampung Sikka, Orestis Parera, menjelaskan,  prosesi Logu Senhor mulai berlaku di kampung Sikka sejak tahun 1600, ketika Raja Sikka, Don Alesu Ximenes da Silva, ingin mencari tanah hidup kekal atau dalam Bahasa Sikka ”tana moret dading”.

Dalam pencarian itu, Don Alesu berangkat ke Malaka, Malaysia, melalui Portugal. Di sana, Don Alesu bertemu raja Portugal dan seorang imam dari Ordo Dominikan (OP). Imam itu menjelaskan kepada Don Alesu bahwa yang dimaksudkan dengan tanah hidup kekal adalah Surga, yang bisa dicapai melalui ajaran agama Katolik.

Itu sebabnya, selama empat tahun di Malaka, Don Alesu belajar agama Katolik, pemerintahan, budaya dan bahasa Portugis. Saat kembali ke Sikka, Don Alesu diberikan beberapa hadiah di antaranya patung Senhor dan patung Menino atau patung Yesus saat masih kanak-kanak.  Para misionaris memberi petuah kepada Don Alesu unagar menyimpan dan menjaga Senhor dan Menino dengan baik, serta menyembahnya sebagai sesuatu yang sakral.

Logu Senhor sendiri berarti berjalan menunduk di bawah salib. Salib diletakkan di atas sebuah tandu dan diusung oleh empat orang petugas. Salib itu berukuran mini, panjangnya sekitar 75 centi meter.

Selama ini, salib disimpan di Kapela Senhor yang terletak di sebelah kiri Gereja Sikka. Tidak sembarang orang dapat masuk ke sana, kecuali keturunan Darabogar atau pengawal raja. Kapela Senhor ini baru dibangun pada tahun 1997.

“Sebelum ada Kapela, salib Yesus disimpan di Sakaristi,” ujar Tamela Karwayu, salah seorang tokoh adat di Kampung Sikka,.

Tradisi Logu Senhor ini disatukan dengan drama penyaliban Yesus dari armida ke armida. Upacara sakral ini dimulai pukul 15.00 Wita di Gereja yang sudah berumur 117 tahun itu. Pastor Paroki  memimpin upacara ini  hingga prosesi berakhir pada Sabtu (15/4/2017) dini hari sekitar pukul 01.00 Wita.

Setelah ibadah sabda, sekitar pukul 18.00 Wita, salib Yesus dikeluarkan dari Kapela Senhor diiringi 10 perempuan yang menutup seluruh tubuh mereka  dengan baju berwarna hitam. Salib Yesus lantas diusung hingga ke altar gereja untuk selanjutnya di serahkan Darabogar kepada gereja sebagai tanda dimulainya tradisi Logu Senhor.

Beberapa kesaksian, mengatakan, peserta prosesi mengalami berbagai mujizat langsung saat mengikuti Logu Senhor, antara lain langsung sembuh dari sakit, dan diberi keturunan, walau telah lama menikah dan secara secara medis tidak mungkin lagi memiliki anak.

Logu senhor dilakukan sebanyak enam kali, yakni pada acara pembukaan dan penutupan di gereja, dan masing-masing di lima arimida, satu kali dilalui umat. Tampak umat kusuk saat berjalan menunduk di bawah salib Yesus. Sebagian dari mereka ada yang meneteskan air mata.

Setiap kali melakukan Logu Senhor, setiap orang boleh mendaraskan dalam hati ujud-ujud pribadinya. Menurut banyak kesaksian, jika tradisi ini dihayati dan dilaksanakan dengan penuh iman, maka ujud-ujud pribadi akan langsung terjawab.

Tahun 2017 ada 6 adegen kisah sengsara Yesus yang diperagakan dalam prosesi Logu Senhor, yakni:

  1. Yesus berdoa ditaman Getsemani dilakukan di halaman gereja
  2. Yesus dihadapan Pilatus dilakukan di halaman gereja
  3. Yesus berjumpa dengan ibunya dilakukan di  halaman Bogarpung Wali hadeng
  4. Veronika mengusap wajah Yesus di halaman Solapung – Wairsabung
  5. Yesus jatuh ketiga kalinya di halaman Darapung
  6. Yesus disalibkan di halaman Pendopo Pastoran. (JHON)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.