Jenis burung baru yang ditemukan LIPI di Pulau Rote, NTT, dan diberi nama ilmiah Myzomela Irianawidodoae, sebuah nama yang diambil dari nama ibu negara, Iriana Widodo.
Jenis burung baru yang ditemukan LIPI di Pulau Rote, NTT, dan diberi nama ilmiah Myzomela Irianawidodoae, sebuah nama yang diambil dari nama ibu negara, Iriana Widodo.

sergap.id, KUPANG – Perburuan liar makin marak terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya perburuan terhadap burung berkelas dunia yang dilindung pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 18 Tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Burung khas NTT yang diburu antara lain Punglor, Kenari, Love Bird,  Murai Batu, Kecer, dan Anis Timor atau Anis Merah yang telah berubah nama menjadi Iriana yang diambil dari nama ibu negara, Iriana Widodo.

Para pemburu burung berharga mahal ini umumnya datang dari wilayah Indonesia Barat yang memanfaatkan masyarakat lokal. Dari masyarakat, per ekor burung diharhai Rp 100 hibu hingga 500 ribu. Burung-burung tersebut kemudian dibawa dan dijual ke Pulau Jawa dengan harga kisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 10 juta lebih.

“Mereka beli Punglor disini per ekor rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu. Jual di sana (Jawa) 1 juta sampai 1,5 juta. Kalau burung Murai Batu, yang saya dengar harganya lebih mahal. Disini mereka berani beli per ekor 500 ribu, dan mereka jual di Jawa bisa mencapai Rp 10 juta atau lebih,” ujar sumber SERGAP di Kupang yang meminta namanya tidak ditulis, Sabtu (3/4/21) pagi.

Menurut dia, dalam bisnis burung ilegal ini ada keterlibatan oknum aparat TNI dan Polri. Peran mereka adalah meloloskan selundupan pada pintu-pintu yang dijaga pihak Karantina.

“Sekarang ini lagi ramai orang datang cari burung di NTT. Mereka tersebar hampir di seluruh wilayah NTT. Ada oknum aparat yang terlibat,” katanya.

Belum lama ini, aparat Polres Kota Bima, NTB,  menangkap enam kawanan penyelundup ratusan burung Punglor yang dibawa dari Alor, NTT.

“Kita mengamankan para terduga pelaku menyimpan, memiliki, memelihara, membawa, dan memperniagakan satwa yang dilindungi sebanyak 6 orang, semuanya warga Bima. Satu mobil angkut dan 535 burung Punglor yang dimasukkan ke dalam 24 kotak,” ujar Kapolres Kota Bima, AKBP. Haryo Tejo Wicaksono dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (1/4/2021).

Sementara Karantina Surabaya dan Direktorat Pol Airud Polda Jawa Timur menangkap pelaku penyelundupan ratusan burung berkicau asal Ende, NTT. Total burung yang diamankan sejumlah 380 ekor yang terdiri dari 300 ekor Branjangan, 10 Sikatan, 60 Punglor, dan 10 burung Decu.

“Total burung 380 ekor yang terbagi dalam 15 kardus dan keranjang putih. Burung-burung tersebut rencananya akan diserahkan pelaku kepada penjemput yang telah menunggu di luar area Pelabuhan Tanjung Perak,” kata Kepala Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffak Fauzi.

Bisnis tanpa dokumen resmi tersebut telah melanggar ketentuan pasal 35 ayat 1 dan 3 UU 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

Pasal 88 tertera bahwa setiap orang yang melanggar ketentuan pasal 35, dapat dipidana penjara paling lama 2 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 2 Miliar.

BACA JUGA: Polisi di Bima Tangkap Penyelundup Ratusan Burung dari Alor

Para aktivisi satwa yang dilindungi berharap masyarakat berperan aktif dalam mengawasi pergerakan para pebisnis burung ilegal.

“Jika mengetahui atau melihat para pemburu liar, segera lapor ke polisi terdekat atau kepada pihak-pihak yang berkompeten mengatasi masalah perburuan liar ini,” pinta Edgar, salah satu praktisi satwa yang dilindungi. (bul/set)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here