
sergap.id, LANGGUR – Kekosongan kekuasaan di tubuh Partai Golkar (PG) Maluku Tenggara (Malra) belum membeku, tetapi manuver perebutan kursi sudah bergerak cepat, bahkan agresif.
Nama Mossad Kennedy Refra (MKR), putra John Kei, tiba-tiba muncul di permukaan sebagai kandidat kuat Ketua DPD II PG Malra. Kemunculan ini bukan sekadar spekulasi liar. Di lapangan, sinyal konsolidasi sudah terlihat.
MKR disebut telah mengunci dukungan awal dari sejumlah pemilik suara. Klaim ini memang belum terkonfirmasi secara resmi, namun cukup untuk memantik satu pertanyaan besar: apakah ini sekadar penjajakan, atau operasi politik yang sudah disusun jauh hari?
Momentum kemunculannya pun tak bisa diabaikan.
Dua hari sebelum penikaman yang menewaskan Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, MKR sudah lebih dulu mendarat di Langgur. Ia tidak datang diam-diam. Ratusan orang menjemputnya di Bandara Karel Sadsuitubun, sebuah demonstrasi kekuatan yang sulit dibaca sebagai kebetulan.
Video penyambutan yang beredar luas memperlihatkan euforia massa yang terorganisir. Ini bukan sekadar dukungan spontan, melainkan indikasi adanya basis yang telah dipanaskan sebelumnya.
Di balik itu, bayang-bayang rivalitas lama kembali menguat.
Pertarungan antara kubu John Kei dengan Nus Kei disebut-sebut bukan hanya berhenti di ranah sosial, tetapi merembes ke arena politik, dan kini menemukan momentumnya.
Namun secara formal, semua masih abu-abu.
Sekretaris DPD Golkar Maluku, Anos Jermias, memilih menahan diri. Ia mengakui adanya informasi terkait rencana pencalonan MKR, tetapi menegaskan belum ada proses resmi yang berjalan.
“Iya, ada informasi begitu. Tapi kan dia belum daftar, jadi kita belum bisa berkomentar. Nanti kalau pendaftaran sudah dibuka baru bisa dipastikan siapa yang maju,” ujar Anos seperti dikutip SERGAP dari situs RRI, Senin (20/4/2026).
Pernyataan ini justru menegaskan satu hal: pertarungan sesungguhnya sedang berlangsung di bawah permukaan, fase pra Musda yang kerap menjadi penentu arah kekuasaan melalui lobi dan konsolidasi senyap.
Situasi makin kompleks setelah Musda dipastikan tertunda.
Penundaan ini menyusul tewasnya Nus Kei, Ketua DPD II PG Marla, dalam insiden penikaman di Bandara Karel Sadsuitubun, Minggu (19/4/2026). Dua terduga pelaku, masing-masing HR (28) dan FU (36), telah diamankan. Polisi menyebut motifnya adalah dendam lama yang berakar dari konflik saat di Jakarta. HR merupakan ponakannya John Kei.
Tumbangnya Nus Kei bukan hanya tragedi kriminal, tapi menciptakan ruang kosong di pucuk kekuasaan Golkar Malra, arena yang kini mulai diperebutkan secara terbuka maupun diam-diam.
Menurut Anos Jermias, sebelum insiden terjadi, pendaftaran calon ketua belum dibuka. Artinya, seluruh figur yang kini bermunculan masih berada pada tahap awal: membaca peta, mengunci dukungan, dan menunggu momentum.
BACA JUGA: Benang Kusut Relasi Keluarga di Balik Tewasnya Nus Kei
Musda memang belum dimulai. Tapi pertarungan itu sudah berjalan. Dan jejaknya, bukan dimulai di Langgur, melainkan dari Jakarta. (le/cis)





























