
sergap.id, KEFAMENANU – Tangis dan luka kehilangan belum juga mengering. Namun, bagi keluarga dr. Icha, ada satu hal yang hingga kini terasa semakin menyakitkan, yakni empat orang yang mereka anggap bertanggung jawab atas kematian anak mereka masih belum ditahan.
Dengan suara bergetar menahan kesedihan, Agnes Nur Aziza, ibu dr. Icha, menyampaikan permohonan kepada Kejaksaan Tinggi NTT agar tidak membiarkan proses hukum berjalan lambat. Ia meminta tiga tersangka dan satu terduga yang belum ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda NTT segera ditahan.
Bagi keluarga, persoalan ini bukan sekadar perkara hukum. Ini tentang seorang anak yang telah kehilangan nyawa, tentang keluarga yang setiap hari harus hidup dengan duka, dan tentang keadilan yang mereka perjuangkan agar pengorbanan dr. Icha tidak berakhir sia-sia.
“Nyawa anak saya tidak bisa dihidupkan kembali. Sementara mereka berempat masih menikmati enaknya dunia ini. Kami keluarga menangis setiap saat, menangisi anak kami,” ungkap sang ibu dengan nada pilu.
Dia mengaku kecewa karena para tersangka belum juga ditahan. Kekecewaan itu semakin dalam karena ia dan keluarga merasa dr. Icha telah menjalankan tugas dan profesinya dengan baik. Bahkan, menurut sang ibu, anaknya rela mempertaruhkan diri demi kepentingan tenaga kesehatan, bukan hanya di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), tetapi juga bagi tenaga kesehatan di seluruh Indonesia.
Ia menilai, apa yang dialami dr. Icha bukan hanya menyangkut kehormatan seorang dokter, melainkan juga martabat profesi tenaga medis yang seharusnya dihormati dan dilindungi.
“Anak saya sudah bekerja dengan baik, menjalankan SOP dengan baik, tetapi diserang secara brutal di depan publik. Harga dirinya dijatuhkan, terutama profesinya sebagai tenaga kesehatan. Siapa yang tidak kecewa mengalami hal seperti itu?” tuturnya.
Menurut dia, kepada keluarga, dr. Icha telah berulang kali menyampaikan harapan agar orang-orang yang diduga terlibat dalam peristiwa yang menimpanya benar-benar mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.
Bahkan, sang ibu mengungkapkan bahwa salah satu harapan terakhir yang pernah disampaikan dr. Icha adalah melihat para tersangka mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye.
“Dia akan merasa bahagia jika pengorbanannya itu berbuah keadilan, ketika mereka berempat bisa dimasukkan ke dalam sel tahanan dan menggunakan baju oranye. Itu berulang kali dia sampaikan kepada kami,” kata ibunya.
Bagi keluarga, permintaan penahanan bukanlah upaya membalas dendam. Mereka menginginkan proses hukum berjalan tegas, transparan, dan tidak memberikan perlakuan istimewa kepada siapa pun karena jabatan atau kedudukan.
Sang ibu secara khusus meminta para jaksa dan hakim yang nantinya menangani perkara tersebut agar menjadikan kebenaran dan keadilan sebagai pijakan utama dalam mengambil keputusan.
“Jangan pandang bulu. Hukum tidak boleh tebang pilih. Ketika yang menjadi korban adalah orang kecil, hukum tetap harus ditegakkan. Jangan sampai orang yang memiliki kedudukan dan jabatan justru mendapatkan prioritas,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jabatan tidak boleh menjadi tameng bagi siapa pun yang berhadapan dengan hukum. Jika seseorang terbukti bersalah, maka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai ketentuan hukum.
Di balik permintaan itu, ada seorang ibu yang kehilangan anak, keluarga yang kehilangan harapan hidup, serta adik-adik yang harus menerima kenyataan pahit bahwa orang yang mereka kasihi tidak akan pernah kembali.
“Dia adalah harapan kami, tumpuan hidup kami. Dia tidak melakukan kesalahan, tetapi harus mengalami sesuatu yang sangat menyakitkan dan menyedihkan,” ungkapnya.
Ia pun berharap pengorbanan dr. Icha tidak berhenti sebagai kisah pilu yang perlahan dilupakan. Peristiwa ini harus menjadi peringatan bahwa tenaga kesehatan berhak mendapatkan perlindungan, penghormatan, dan rasa aman ketika menjalankan tugas kemanusiaan.
“Kami sebagai orang tua, adik-adiknya, dan seluruh keluarga besar hanya memohon: tolong tegakkan kebenaran dan keadilan. Jangan biarkan pengorbanan anak kami menjadi sia-sia,” pintanya.
Di akhir pernyataannya, sang ibu yang berasal dari Jawa Tengah itu mengaku tetap menggantungkan harapan kepada Tuhan agar kebenaran menemukan jalannya dan keadilan tidak dikalahkan oleh kekuasaan.
“Kami percaya Tuhan berada di pihak orang-orang lemah, orang-orang yang teraniaya, dan mereka yang sungguh-sungguh memperjuangkan kebaikan serta kebenaran bagi sesama,” tutupnya. (cp/cp)






























