Remigius Jago
Remigius Jago dengan latar belakang kawasan rawan longsor di Nagekeo

sergap.id, MBAY – Gempa bumi yang mengguncang Nagekeo pada 15 Agustus 2026 lalu hingga kini masih menyisakan luka. Sementara musim hujan yang akan datang sebentar lagi bisa saja membawa ancaman baru, yakni banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang hingga angin kencang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo pun memasang peringatan dini. Masyarakat diminta tidak lengah, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai, wilayah pesisir, lereng dan kawasan yang selama ini memiliki riwayat bencana.

Kepala BPBD Kabupaten Nagekeo, Remigius Jago, melalui rilis yang diterima SERGAP, Kamis (24/9/2026), mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim hujan yang akan tiba dalam beberapa bulan ke depan.

“Daerah bantaran sungai dan pesisir sering terjadi banjir. Ini yang harus kita waspadai secara serius,” ujar Jago.

Peringatan ini bukan tanpa alasan. Rekam jejak bencana Nagekeo menunjukkan ancaman hidrometeorologi bukan cerita di atas kertas.

Pada awal 2026 saja, BPBD Nagekeo mencatat 26 titik kejadian bencana hidrometeorologi sejak Januari hingga awal Februari. Bencana tersebut berupa banjir, tanah longsor dan angin kencang yang tersebar di enam kecamatan. Kejadian itu dipicu hujan berintensitas sedang hingga tinggi yang disertai angin kencang.

Mauponggo juga memiliki catatan pahit. Wilayah tersebut pernah diterjang banjir bandang. Di wilayah lain, pemerintah daerah juga mencatat kejadian longsor pada ruas jalan Maunori-Nangaroro.

Kini, ancaman tersebut datang ketika sebagian masyarakat Nagekeo masih berada dalam fase pemulihan pascagempa 15 Agustus 2026. Gempa itu berdampak besar terhadap Nagekeo dan sejumlah wilayah di Flores. Pemerintah mencatat kerusakan pada rumah serta fasilitas pelayanan publik, sementara ribuan warga harus menghadapi dampak bencana dan gempa susulan.

Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan menghadapi musim hujan menjadi semakin penting. Rumah yang berada di dekat aliran sungai, lereng rawan longsor maupun kawasan pesisir diminta menjadi perhatian khusus.

Jago menegaskan, ancaman bencana tidak hanya berada di bantaran sungai dan pesisir. Sejumlah kawasan lain di Nagekeo juga memiliki potensi terdampak bencana hidrometeorologi.

Karena itu, ia meminta seluruh elemen masyarakat ikut mengambil bagian dalam mitigasi. Tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh muda diminta aktif membantu menyampaikan informasi kebencanaan kepada warga.

“Mari kita secara bersama-sama saling bahu-membahu melakukan sosialisasi kepada seluruh warga,” ajaknya.

BPBD Nagekeo mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu bencana datang baru bertindak. Warga diminta mengenali lingkungan tempat tinggal, memperhatikan kondisi cuaca, menghindari lokasi yang berpotensi membahayakan serta segera mengambil langkah penyelamatan apabila situasi mulai mengancam.

Sebab, pengalaman Nagekeo sudah memberikan cukup banyak peringatan, yakni banjir, banjir bandang, longsor dan angin kencang pernah datang ketika masyarakat tidak siap menghadapi dampaknya.

Dan kini, setelah gempa besar mengguncang Nagekeo, musim hujan akan segera datang. Kewaspadaan menjadi pertahanan pertama.

“Lebih baik mencegah daripada mengobati,” pungkas Jago. (sp/sp)