Pengurus Credit Union Kasih Sejahtera Atambua, RD. Syprianus S. Tes Mau, RD. Crisantus Lake, Gregorius Am’isa, S.Pd.
Pengurus Credit Union Kasih Sejahtera Atambua, RD. Syprianus S. Tes Mau, RD. Crisantus Lake, Gregorius Am’isa, S.Pd.

sergap.id, ATAMBUA – Senin (1/3/21), Dewan Pengurus Credit Union Kasih Sejahtera (CUKS) mengirim hak jawab terhadap pemberitaan SERGAP tentang kasus uang hilang sebesar Rp 20 juta di Kantor Cabang CUKS Betun, Kabupaten Malaka.

Berikut isi lengkapnya:

Kami, RD. Crisantus Lake, Gregorius Am’isa,S.Pd. dan RD. Syprianus S. Tes Mau; para pengurus bagian Organisasi yang tergabung dalam kesatuan Dewan Pengurus Credit Union Kasih Sejahtera-Atambua. Bersama ini kami ingin menyampaikan hak jawab kami sebagai berikut:

Bahwa sejak bulan Desember 2020 sampai dengan bulan Februari 2021, sergap.id telah beberapa kali memberitakan masalah kehilangan uang anggota (nasabah) UKS Atambua di Kantor Betun, Malaka.

Beberapa kali Pemberitaan sergap.id tersebut antara lain :

  1. Rabu, 23 Desember 2020; Teller CU Kasih Sejahtera Cairkan Rp 20 Juta Tanpa Seijin Pemilik Uang
  2. Selasa, 5 Januari 2021; DP CUKS Curigai Pemilik Uang, Beatriks : Untuk Apa Menipu Nai Lulik?
  3. Jumat, 22 Januari 2021, Hilangnya Rp 20 Juta, CUKS Harus Bertanggung Jawab, Bria: Ini Kejahatan Perkoperasian.
  4. Senin, 22 Februari 2021 : Uangnya Hilang Rp 20 Juta, Pasutri Ini Malah Dilaporkan Ke Polisi.

Di dalam pemberitaan pertama, ketiga dan keempat tersebut di atas, terdapat nada minor “tuduhan” yang mengarah pada kecenderungan mempersalahkan pihak CU Kasih Sejahtera secara sepihak.

Kami menilai bahwa berita yang dihasilkan ini adalah tidak akurat, tidak berimbang, dan beritikad buruk untuk menjatuhkan Lembaga CU Kasih Sejahtera.

Di dalam pemberitaan pertama, Rabu, 23 Desember 2020, teller dituding mencairkan Rp 20 juta tanpa seizin pemilik uang. Padahal CU KS memiliki Kebijakan dan aturan yang jelas dalam Standar Operasional Prosedural (SOP) dan kasir/teller telah melakukan transaksi tersebut sesuai dengan SOP yang ada.

Di dalam pemberitaan yang ketiga, Jumat, 22 Januari 2021, lagi-lagi CU KS dinilai melakukan kejahatan perkoperasian yang sengaja dilakukan sebagai kelalaian manajemen CUKS di Betun. Pemberitaan itu seolah memaksa CUKS harus mengembalikan kerugian yang terjadi sementara pembuktian akan kesalahan managemen tidak atau belum dapat dibuktikan dengan cara apa pun.

Dan lebih ironi lagi, melalui media seenaknya dikatakan “Kasus ini merupakan kejahatan perkoperasian yang sifatnya pidana. Peristiwa ini juga menjadi preseden yang sangat buruk bagi industri perkoperasian di Malaka dan Indonesia pada umumnya”. Benarkah demikian? Tidak ada pembuktiannya. Apa efek pemberitaan ini bagi CU KS? Di lain sisi, pihak yang merasa dikorbankan (suami Ibu Beatrix), dengan seenaknya mengatakan “CU Kasih Sejahtera masa bodoh dengan kasus uang hilang milik istrinya”.

Redaksi yang terhormat. Sebelum berita-berita ini ditulis dan disebarluaskan, pihak CU Kasih Sejahtera telah melakukan beberapa kali upaya pendekatan kekeluargaan bersama anggota atas nama Beatrix Bano Nahak untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya terkait kasus kehilangan uangnya tersebut. (Kronologi, tersedia). Bahkan dalam penanganan masalah ini tahap yang ke-10, pada hari Minggu, 18 Oktober 2020, oleh tim Kantor Pusat CU Kasih Sejahtera dalam hal ini Bendahara Pengurus CU-KS Rm. Syprianus Tes Mau, Pr., Manajemen KP. Betun serta Komite Keuangan KP. Tasimane, telah menjumpai anggota atas nama ibu Beatrix, suami dan keluarga besar di Desa Umatoos dan bersepakat secara lisan supaya urusan ini dilanjutkan kepada pihak berwajib.

Kedua pihak bersepakat agar anggota yang merasa dirugikan silahkan melapor kepada pihak yang berwajib (pihak kepolisian) dan CU-KS siap memberi keterangan dengan bukti-bukti administrasi yang ada untuk diproses selanjutnya secara hukum melalui pembuktian hukum.

Ternyata kesepakatan bersama ini dilanggar dan Beatrix bersama suaminya menghubungi wartawan Sergap Id dan mulai memberitakan secara sepihak (pemberitaan pertama, Rabu, 23 Desember 2020), tanpa memperoleh informasi lebih jelas dari pengurus di kantor pusat CU Kasih Sejahtera di Atambua yang telah menangani masalah ini sebelum pemberitaan itu muncul.

(Konfirmasi wartawan hanya sampai di kantor Betun pada tanggal 21 Desember 2020. Managemen KP Betun mengarahkan mereka untuk pergi ke kantor pusat di Atambua tetapi tidak dilakukan sampai muncul berita pertama yang mengejutkan).

Bahwa pemberitaan kedua, Selasa, 5 Januari 2021; muncul setelah adanya upaya pengurusCU Kasih sejahtera mengklarifikasi berita pertama lewat pertemuan intern antara Pengurus CUKS di Atambua dengan saudara wartawan pada tanggal 4 Januari 2021.

Dalam klarifikasi ini terungkap adanya kecurigaan terhadap pemilik rekening Beatrix Bano Nahak, anggota CUKS KP Tasimane-Weoe, telah melakukan penarikan uang di KP Betun.

Kecurigaan ini makin kuat karena adanya kesesuaian data, nama, kesamaan tanda tangan, huruf yang terlihat dalam 3 dokumen pembuktian.

Bahwa sejak pemberitaan pertama sampai pemberitaan ketiga, pihak Beatrix Bano Nahak tidak beritikad baik untuk menyampaikan kasus ini kepada pihak kepolisian agar segera ditangani. CUKS menduga, masih ada kemungkinan mereka terus menggunakan media Sergap Id, maka pihak CU KS melaporkan ibu Beatrix sebagai penyebar berita sepihak dan tidak benar tentang penarikan uang yang sengaja dilakukan oleh teller CU KS. Karena merasa dikorbankan ini, CU KS membuat laporan Polisi ke Polres Malaka dengan nomor laporan polisi: LP/08/II/2021/NTT/SPKT/Polres Malaka, tanggal 10 Februari 2021.

Di balik laporan Polisi tersebut ada itikad baik dari CUKS agar masalah ini segera terselesaikan dengan mediasi yang lebih baik dan kompeten.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan klarifikasi dengan ibu Beatrix Bano Nahak, di hadapan pihak kepolisian, kami menilai berita-berita tersebut melanggar pasar 1 dan 3 Kode Etik Jurnalistik karena tidak berimbang, tidak uji informasi dan memuat opini yang menghakimi”.

Penilaian tersebut didasarkan pada fakta bahwa pemberitaan itu disusun tidak berdasarkan data yang dapat diuji dan dibuktikan validitasnya. Kami sebagai Pengurus CU Kasih Sejahtera juga sama sekali tidak pernah dimintakan keterangan ataupun klarifikasi mengenai masalah itu sebelum pemberitaan tersebut ditulis dan disebarkan.

Berhadapan dengan kenyataan ini, maka pada kesempatan mediasi antara pihak Beatrix Bano Nahak dengan Pihak CU Kasih Sejahtera di ruang reskrim kepolisian kabupaten Malaka pada Rabu tanggal 24 Februari 2021, bersama-sama mengakui beberapa hal sebagai berikut;

Pertama, benar bahwa uang anggota yang ditarik berdasarkan prosedur yang benar di CU KS KP Betun, tetapi tidak benar bahwa Kasir melakukannya dengan sengaja untuk dirinya.

Kedua, benar bahwa kasir/teller telah melakukan transaksi berdasarkan kebijakan keuangan lembaga CU KS dan SOP yang berlaku, tetapi tidak benar jika pihak lain mengatakan CU KS melakukan pelanggaran dalam kasus ini.

Ketiga, benar bahwa anggota atas nama Beatrix Bano Nahak menyebut dirinya kehilangan uang, tetapi tidak benar mereka menuduh pihak CU yang melakukannya dengan tujuan merugikan anggota.

Keempat, benar bahwa CU Kasih Sejahtera siap melakukan uji Forensik atas dokumendokumen anggota termasuk slip penarikan uang Rp. 20.000.000,- tetapi anggota bersangkutan tidak bersedia untuk melanjutkan proses ini dan memohon maaf atas pemberitaan melalui media sergap.id dan memohon agar pihak CU KS menarik kembali masalah ini dari kepolisian.

Kondisi ini membuka ruang penyelesaian secara kekeluargaan dengan jalan damai. Kedua pihak sepakat untuk berdamai dan tidak saling menuntut satu sama lain. Maka dibuatnyalah Surat pernyataan damai antara pihak CUKS dengan anggotanya Beatrix Bano Nahak tertanggal 24 Februari 2021.

Dengan demikian tidak akan ada lagi pihak-pihak lain di luar CU Kasih Sejahtera dan anggotanya atas nama Beatrix Bano Nahak mengangkat masalah ini di kemudian hari.

Hormat Kami Pengurus Credit Union Kasih Sejahtera Atambua, RD. Crisantus Lake, Gregorius Am’isa, S.Pd, RD. Syprianus S. Tes Mau. (red/red)

1 COMMENT

  1. Dari topik diatas,cukup menarik karena berdasarkan pengalaman kami dalam mengelola keuangan anggota khusus koperasi Kredit untuk saat pandemi agar lebih berhati-hati dalam transaksi keuangan. Kekeliruan itu wajar tetapi jangan sampai ketika ada persoalan langsung mengundang peliput media sebagai jalan keluarnya. Masih ada ruang untuk mencari solusi dimaksud. Berjayalah Koperasi di tanah NTT tercinta ini……
    Salam kami dari KSP/Kopdit Sinar Harapan…..

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here