Tanggul penahan abrasi Pantai Arubara. Gambar diambil Minggu (28/2/21). (Foto Sherif Goa)
Tanggul penahan abrasi Pantai Arubara. Gambar diambil Minggu (28/2/21). (Foto: Sherif Goa)

sergap.id, ENDE – Warga pesisir pantai Arubara, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, mengancam akan mengusir jaksa yang datang melakukan pemeriksaan terhadap fisik bangunan tanggul penahan abrasi di pantai Arubara.

Pasalnya, kata mereka, penyelidikan yang dilakukan Kejaksaan Negeri (Kejari) Ende terhadap proyek tahun 2019 senilai Rp 1.745.920.000 itu, diduga hanyalah upaya mencari-cari kesalahan kontraktor.

“Bapak (SERGAP) lihat sendiri bangunan ini. Bangunan ini dikerjakan sejak tahun 2019, tapi fisiknya tidak ada yang rusak sampai sekarang. Padahal bangunan ini menghadap langsung ke laut. Itu artinya bangunan ini kuat. Apalagi volume pekerjaan ini melebihi volume kontrak, dan kontraktor masih membantu kami memperbaiki bibir pantai di luar area proyek. Kami sangat bersyukur dengan adanya proyek ini, dan berterima kasih kepada kontraktor, sebab sekarang ini kami bisa tidur nyeyak pada malam hari,” ujar Usman, warga Arubara, kepada SERGAP, Minggu (28/2/21).

Menurut dia, sebelum adanya tanggul penahan abrasi, warga pesisir pantai Arubara hidup dalam ketakutan, apalagi pada malam hari. Sebab tebing pada lokasi tanggul rawan longsor, terutama pada musim hujan.

“Minta maaf pak (SERGAP), kami kira bapak Jaksa, kalau jaksa kami usir. Kami kasihan dengan kontraktor pak. Kontraktor itu orang kami disini. Dia sudah kerja baik, tapi dicari-cari kesalahannya,” kata Usman.

Manfaat tanggul abrasi yang dikerjakan oleh CV Dua Tujuh tersebut dirasakan juga oleh Hartati dan lima anaknya.

Janda yang ditinggal suami karena kawin lagi dengan perempuan lain itu, mengatakan, jauh sebelum tanggul dikerjakan, ia dan anak-anaknya tak bisa tidur tenang ketika air laut pasang, terutama  pada malam hari.

“Dulu kami tidur tidak nyenyak. Malam hari kami selalu terbangun untuk mengecek ombak. Karena tebing di depan rumah kami ini tidak ada penahan. Di bawah tebing hanya ada satu dua pohon dan batu besar yang sudah terancam runtuh. Tapi karena sekarang sudah ada tembok (tanggul abrasi) yang kokoh ini, kami sudah tidur nyenyak,” ujarnya.

Hartati mengaku sejauh ini belum ada elemen bangunan yang rusak.

“Masih baik semua Pak. Jaksa sudah ulang kali datang kesini, tapi tidak tahu apa yang mereka periksa,” katanya.

  • Dihadang

Saat keluar dari area pantai Arubara, Minggu (28/2/21) sore, SERGAP sempat dihadang oleh puluhan warga yang baru bubar dari acara sunatan di salah satu rumah warga Arubara.

Mereka mengira SERGAP adalah jaksa.

Beberapa warga dengan nada tinggi mengumpat, “kalau mau proyek baik semua, ya kamu kerja sendiri. Jangan kontraktor sudah kerja baik, tapi kamu bilang tidak baik”.

Emosi warga melunak setelah tahu kalau SERGAP bukanlah jaksa.

Warga mengaku, kehadiran tanggul abrasi sangat dinikmati oleh mereka. Namun mereka jengkel lantaran Imam Masjid mereka yang juga adalah pemilik material urukan tanggul abrasi ikut diperiksa Jaksa dan menimbulkan isu tak enak di lingkungan mereka, karena seolah-olah Imam mereka sedang terlibat kasus korupsi.

  • Belum Ada Kerugian Negara

Kuasa Direktur CV Dua Tujuh, Maria Imelda Seni, melalui staf teknik CV Dua Tujuh, Felix Albertus Dhini, menjelaskan, dirinya dan Maria telah diperiksa sebanyak 4 kali, terhitung sejak Juli 2020 hingga Februari 2021.

“Kasus ini sudah 7 bulan ditangani kejaksaan, tapi sampai sekarang belum ditemukan kerugian negara. Dan, saya yakin tidak ada kerugian negara, karena kami buat yang terbaik utuk masyarakat. Di proyek ini kami tidak pikir untung, karena yang kami utamakan adalah kualitas kerja yang bagus. Apalagi proyek ini di kampung kami sendiri. Malah yang kami kerja melampaui volume. Karena di kontrak hanya 150 meter (tanggul abrasi), tapi yang kami kerjakan 157 meter. Kami juga memenuhi permintaan masyarakat untuk membantu mereka membuat timbunan batu penahan gelombang di luar area proyek. Yah… kami lakukan itu semua. Karena yang tinggal di pesisir pantai ini adalah saudara kita semua,” ucap Felix.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Ende, Romlan Robin, SH melalui Kepala Seksi (Kasi) Tindak Pidana Khusus (Tipidsus), Muhamad Fakry, SH, membenarkan, jika sampai sekarang belum ada nilai kerugian negara pada proyek tanggul Abrasi Arubara.

“Untuk sementara belum ada hasil audit dari Inspektorat dan BPK,” ujar Fakry kepada SERGAP di Kantor Kejari Ende, Senin (1/3/21) pagi.

Namun Fikri mengatakan, kasus tersebut masih dalam proses.

“Untuk saat ini kita sedang memeriksa beberapa saksi. Selanjutnya kita hitung besarnya kerugian negara, bisa saja hasil perhitungan kerugian negara antara ahli terjadi perbedaan pendapat, maka untuk mengantisipasi hal tersebut, setelah kita merasa alat bukti  yang kita peroleh sudah maksimal, barulah kita melakukan proses penentuan (berapa kerugian negara). Kira-kira hal apa saja yang menjadi penentu atau menentukan jumlah kerugian uang negaranya. Hal lain sudah rampung, hanya menunggu hasil perhitungan kerugian negara,” tegasnya.

“Untuk fisik di lapangan kita gunakan ahli untuk menghitung pekerjaan yang ada di lapangan. Tim fisik itu untuk keseluruhan. Sementara fakta sebenarnya, ada beberapa pekerjaan yang baru ada, setelah pekerjaan dilaksanakan. Itukan jadi perdebatan juga apakah itu masuk dalam kerugian atau tidak, itukan masih kita tentukan lagi. PHO belum tentu menjamin proyek itu tidak bermasalah, sebab jika hasil pemeriksaan ditemukan permasalahan, kan banyak juga sebenarnya pak, hasil pemeriksaan BPK banyak proyek bermasalah, sekalipun pekerjaan fisiknya sudah selesai dan sudah di PHO,” tambah Fakry.

Sementara itu, Kuasa Direktur CV Dua Tujuh, Maria Imelda Seni, menjelaskan, bangunan baru yang sedang dikerjakan di lapangan sekarang ini, bukanlah bagian dari item proyek tanggul abrasi Arubara.

“Pengerjaan tembok itu adalah kompensasi untuk warga yang saat kita kerja proyek kemarin menggunakan lahannya sebagai jalan masuk keluar kendaraan ke lokasi proyek. Item pekerjaan ini pakai uang pribadi saya, bukan uang proyek, karena dari proyek ini saya tidak ada untung,” ucapnya.

  • Obyektif

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ende, Erik Rede, memastikan, tanggul abrasi yang dikerjakan CV Dua Tujuh itu, kini telah dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Kita menghargai proses hukum. Tapi kita harap penegak hukum melihat kasus ini secara obyektif. Tentu didahului dengan proses audit, baik secara internal (Inspektorat), maupun BPK, apakah ada kerugian negara atau tidak? Jika ada kerugian negara, maka kontraktor harus mengembalikan kerugian negara tersebut. Tapi kalau tidak ada kerugian negara, maka kita harus berjiwa besar mengakuinya,” kata Erik kepada SERGAP di Kantor DPRD Ende, Senin (1/3/21) siang. (sg/sg)

1 COMMENT

  1. Trima kasih sergap… Atas beritanya… Setelah saya baca berita di atas menurut saya ini adalah permainan dari kejaksaan, dan hanya untuk mencari cari kesalahan dengan tujuan tertentu..
    Jika memang ada merugikan negara, uang yg di anggap merugikan negara harus di kembalikan ke negara bukan ke rekening kejaksaan.

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here