RSUD Aeramo
RSD Aeramo

sergap.id, MBAY – Kuasa Direktur CV. Alliance Jaya, Arifin B. Sir, mengaku bukan dirinya telah meniru tanda tangan Sambu Ignatius Aurelius alais Lius Sambu dalam dokumen surat dukungan peralatan.

Pria asal kabupaten Alor yang ditemui SERGAP di Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Kamis (12/8/21), menegaskan, dirinya sama sekali tidak mengenal bahkan tidak pernah bertemu dengan Lius Sambu.

Ditanya soal informasi bahwa dirinya ‘main mata’ dengan panitia proyek, untuk memenangkan paket pekerjaan pagar di RSD Aeramo, dengan tegas Arifin mengatakan, “Itu tidak benar. Dan, untuk ikut tender, kita hanya kasi keluar biaya untuk urus dokumen di Kupang, dan itu dimana-mana, dan di semua tempat sama, yang kita keluarkan hanya untuk biaya dokumen”.

Kepada SERGAP, Arifin membeberkan kronologi hingga dirinya memenangkan proyek pagar RSD Aeramo:

Kemarin itu ada kawan yang siap perusahaan dan sekaligus dengan perlengkapan lainnya. Menurut saya, masalah dokumen itu sebenarnya tidak ada masalah, yang jadi permasalahan sekarang itu di tandatangannya.

Pertanyaan, siapa yang kirim dokumen ke Kupang? Karena yang saya terima STNK itu dari teman yang kerja dokumen namanya Agus Langoday yang dikirim oleh Lorens Dhangang.

Yang tiru tanda tangan itu ya di antara dua orang ini, yakni Lorens atau Agus, itu yang kita harus tanya ke mereka dua. Karena pada waktu saya mau tanda tangan dokumen, itu tanda tangan surat dukungan peralatan sudah ada.

Tadi saya punya pengacara telpon saya, waktu saya ke kantornya pak Hasan untuk tanda tangan dokumen, itu berkas itu sudah lengkap semua, yang masih kosong nama saya selaku Kuasa Direktur yang belum tanda tangan ujar.

Sebelum ada ini proyek, saya tidak tahu ini Nagekeo, kita ikut tender via LPSE saja to, setelah pembuktian dokumen baru saya kenal dua panitia.

Saat jadwal pembuktian baru saya datang dan tiba disini (Mbay). Tiba sudah malam. Kalau tidak salah itu tanggal 22 Juli 2021.

Saat saya dalam perjalanan mau ketemu panitia, Pak Lorens WA saya dan WAnya masih ada di saya. Bunyi smsnya begini, dia suruh saya ketemu dia dulu, saya juga belum kenal dia.

Waktu itu saya dalam perjalanan mau ketemu panitia, WAnya masuk, isinya, pagi pak, saya Lorens yang di Nagekeo, urus pagar RSD Aeramo, kalau sudah di Nagekeo tolong ketemu saya dan pak Agus, terima kasih. Saya bingung, saya bilang, ini apalagi ni? Karena saya di jalan, saya hanya baca habis saya balas, ok kaka, siap”.

Saya WA dia, saya bilang saya ke panitia tender dan PPK dulu, baru saya ke rumah dia, tapi Lorens bilang tidak usah, karena saya sudah ketemu panitia dan PPK.

Tender itu saya ikut sendiri, Lorens itu, setelah saya menang tender, baru saya tahu Lorens. Agus juga ada bantu Lorens untuk ikut tender di Ende, paket dari Kementrian Agama.

Jadi mereka dua ini ada baku bantu. Jadi waktu itu setelah saya ketemu Lorens, dia cerita dia punya kerugian, saya bilang kaka, setelah saya datang ini baru saya tahu. Menurut lorens bahwa tender ini atas nama si Agus. Jadi antara Lorens dan Agus sudah bangun kesepakatan bahwa pekerjaan ini kasi si Lorens yang kerja, tapi saya tidak tahu. Setelah ada masalah baru ketahuan. Jadi waktu itu, saya minta Lorens panggil si Agus kesini, lusanya baru Agus datang.

Hari Jumat si Agus sampai dihotel dia SMS saya bilang, sudah kamu tiga datang. Saya bilang Agus, ingat saya sampai disini ni dan Agus tolong jujur dengan saya, bagaimana sampai Lorens omong dengan saya bahwa ini proyek, si Agus yang kerja. Untuk dokumen memang Agus yang kerja. Saya tanya Agus, Bela (sapaan Alor) ada janji apa dengan Lorens? Karena Lorens bilang ini paket dia yang ikut tender dan menang dan kasih Lorens yang kerja? Memang saya ketemu Lorens tapi bukan berarti pekerjaan kasih dia yang kerja. Terus saya tanya si Agus lagi, katanya Lorens sudah habiskan uang ratusan juta rupiah, untuk ikut ini paket. Agus bilang, ah tidak sampe ko.

Jadi waktu itu kita kerja dokumen dan saya rasa tidak mungkin habis sampai ratusan juta jawab Agus. Dugaan saya, STNK ini Lorens yang kirim ke Agus, tapi Agus sendiri tidak kenal ini pemilik kendaraan. Saya juga tidak kenal ini pemilik kendaraan.

Saya sama sekali tidak tiru tanda tangan, maka kemarin waktu di polisi saat dipanggil untuk klarifikasi, saya bilang saya tidak tiru tanda tangan, istri saya punya tanda tangan saja saya tidak tiru, apalagi orang lain punya.

Jadi waktu klarifikasi di kantor polisi, saya bilang begini, menurut laporan pemilik kendaraan bahwa dalam laporannya dia tidak kenal sama saya. Begitupun saya juga tidak kenal dia. Aih memang saya juga tidak kenal. Pertanyaannya, saya tidak kenal beliau dan beliau tidak kenal saya, kok tiba-tiba saya tahu dia punya tanda tangan?

Mudah-mudahan ini bukan untuk jebak saya. Jika dikemudian hari ketahuan siapa dalang dibalik ini semua, maka akan saya proses hukum.

Hari Minggu sempat ribut disini (rumah ipar saya), Lorens duduk disitu, si Agus duduk disitu, om Lorens tanya saya, adik sekarang kaka mau tanya adik, tender ini adik yang ikut, saya bilang iya saya yang ikut. Terus dokumen siapa yang kerja? Saya bilang si Agus yang kerja. Terus kuasa direktur, siapa punya nama, saya jawab saya punya nama. Semua dokumen asli ada di saya. Langsung Lorens balik begini, Agus ternyata saya ini kamu tipu.

Terus ada pernyataan Lorens, bilang agar pekerjaan itu dialihkan, saya jawab, tidak bisa. Bukan masalah proyeknya, bukan soal nilai keuntungannya, tapi dampak hukumnya. Jadi kalau bicara diluar dari pengalihan, itu mungkin kita bisa bicarakan. Mungkin kemarin juga saya tidak tahu antara Agus dan Lorens ada sama-sama bantu saya urus dokumen atau bagaimana. Bagi saya yang penting jujur dan saling terbuka.

Tapi untuk pengalihan proyek itu tidak bisa, bahkan om Lorens sampai punya sikap bahwa masalah hukum itu saya akan jamin 100 persen bila ada masalah. Kita buat surat kesepakatan sampai ke PPK, saya jawab, kita bikin kuasa dibawah tangan, bagaimanapun ketika ada dampak hukum tetap saya yang diseret. Tapi kalau kita bicara untuk kita sama-sama nyaman, ya hari ini kita bisa bicara. Sampai om Lorens bilang ya kalau sampai tidak bisa sama sekali, saya akan ambil langkah lain, dan saya tidak akan ambil langkah yang gelap- gelap. Setelah itu baru laporan pemalsuan tanda tangan muncul.

Saat tender saya tidak ada bayar atau sogok, saya mau bayar, bayar di siapa? Panitia, PPK, orang Nagekeo pun satu orang tidak ada yang saya kenal. Yang saya kenal disini hanya saya punya ipar sendiri, selain itu saya tidak kenal semua. Saya pada prinsip kalau saya ikut tender, kalau yang namanya rejeki pasti kita dapat, kalau tidak rejeki mau bagaimana. Kok saya ikut tender berkali-kali dan gagal saya biasa saja, karena itu belum rejekinya kita.

Sebelum muncul masalah tanda tangan ini, ada masalah lain diluar, baru muncul ini masalah tanda tangan. Dan itu pernyataan om Lorens didepan kakak saya dan kami semua, saya jawab, saya siap kaka, mau ke ranah hukum ya terserah dan saya siap terima semua konsekwensinya. Saya masuk penjara terkecuali perbuatan saya sendiri yang salah. Kita di dunia kontraktor ni, banyak juga kontraktor senior yang masuk penjara, itu karena saling percaya, untuk pake perusahaan, tapi kerja sonde jelas terakhir pemilik perusahaan yang masuk penjara. Itu menjadi pelajaran kita untuk tidak boleh melangkah seperti itu.

BACA JUGA: Lius Sambu Lapor Polisi

Sementara itu, Kapolres Nagekeo melalui Kasat Reskrim Polres Nagekeo, Iptu. Rifai, SH, kepada SERGAP Sabtu (14/8/21), membenarkan, jika Lius Sambu telah membuat Laporan Polisi (LP) dengan LP Nomor: STPL/63/VIII/2021/SPKT B/ Res Nagekeo/Polda NTT tanggal 4 Agustus 2021.

“Laporannya telah kita terima dan saat ini para pihak sudah kita undang untuk melakukan klarifikasi, termasuk Pokja. Kemarin tanggal 13 Agustus 2021, penyidik telah memeriksa 5 orang terkait kasus dugaan KKN tender Pagar RSD Aeramo. Kita sedang mendalami kasus ini, karena pada tahun 2020,  pemenang tendernya adalah CV Nirwana, namun kontraknya dibatalkan oleh Pokja tanpa alasan yang jelas, ini yang sedang kita cari tahu, kenapa sampai dibatalkan? Ditahun 2021 yang sedang kita lidik saat ini adalah dugaan penyimpangan proses Pemilihan Penyedia Barang dan Jasa. Ini yang harus kita usut sampai tuntas,” ujar Rifai. (sg/sg)

KOMENTAR ANDA?

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini