Aiptu Fransisco de Araujo semasa hidup. "Semoga jiwanya dalam pelukan kasih Tuhan di surga".

sergap.id, KUPANG – Kanit Pam Obvit Polres Kupang Kota, Aiptu Fransisco de Araujo telah meninggal dunia pukul 15.22 Wita di RS Bhayangkara Kupang, Rabu (7/6/17). Kini jenasahnya disemayamkan di rumah duka di Jalan Pisang, Kelurahan Oebobo, Kota Kupang. Sesaat setelah dinyatakan meninggal, sesuai prosedur, jenazah Aiptu Fransisco dibawa ke Ruang Instalasi Pemulasaran Jenazah (IPJ). Petugas melakukan observasi dan pemandian jenazah sekitar dua jam. Sekitar pukul 17.35 Wita, jenazah Aiptu Fransisco didoakan secara Katolik lalu dibawa ke rumah duka menggunakan mobil jenazah. Ratusan keluarga dan kenalan ikut mengantar jenazah ke rumah duka. Istrinya Aiptu Fransisco, Martina tak henti menangisi kepergian sang suami yang memilih mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Ia bahkan pingsan beberapa kali karena kehabisan tenaga. Segenap kerabat dan sahabat pun tampak memenuhi tenda duka dan saling berbagi dengan keluarga besar Aiptu Fransisco yang telah pergi. Aiptu Fransisco dikenal  sebagai sosok yang terbuka dengan isteri dan keluarga dekatnya. Fransisco juga sangat religius dan penyayang, terutama kepada Faldi Imanuel De Araujo, anaknya. Sebelum menembak kepalanya sendiri pada Selasa (6/6/17), Aiptu Fransisco sempat mengantar Fadli ke sekolah. “Malamnya tidur dengan anaknya, dan paginya masih antar ke sekolah,” ujar Toto Sucipto, ayah angkat Fransisco kepada wartawan, Rabu (7/6/17). Tito menjelaskan, dirinya telah menjadikan Fransisco sebagai anak angkat sejak tahun 1999 pasca jajak pendapat dan terlepasnya Timor – Timur dari NKRI. Sejak itulah dia mengenal betul siapa Fransisco. “Dia orangnya sangat terbuka dan jujur. Saking jujurnya, dengan wanita lain saat ke Surabaya saja dia jujur ke isterinya,” turur Toto.

Saat masih bertugas di Timor – Timur (sekarang Negara Timor Leste), kata Toto, Fransisco bertugas di bagian intel. Orang tua Fransisco saat ini masih hidup dan menetap di Los Palos, Timor Leste.

“Sampai saat ini orangtuanya tidak pernah ke Indonesia. Hanya isterinya, Martina De Araujo yang sering kesana kunjungi keluarga,” papar Toto. Sejak 1999 juga, Fransisco tidak pernah mengunjungi orangtuanya, karena faktor keselamatan. Namun, saking rindunya, pada bulan April 2017 lalu, Fransisco meminta ijin ke isterinya untuk menjenguk orangtuanya. “Dia telepon saya katanya dia rindu dengan orangtuanya, sehingga dia minta ijin ke sana,” jelas Toto. Faldi mengaku, ayahnya adalah sosok yang penyayang. Malam sebelum tidur, kata Faldi, ayahnya lama sekali memeluknya dan mengajaknya untuk tidur berdua, dengan alasan besok tidak boleh terlambat ke sekolah.

“Ayah peluk saya sampai ke tempat tidur. Usap-usap kepala saya dan berpesan, Faldi sekolah yang pintar biar bisa gantikan bapak kelak,” tutur Faldi.

Pagi hari saat mengantarnya ke sekolah, ayahnya masih memeluk dan mencium kening Fadli. Saat turun dari sepeda motor pun, ayahnya masih mencium Fadli dan berpesan agar Fadli rajin belajar. “Saat pulang sekolah saya lihat banyak polisi di rumah, dan ada tetangga yang bilang kalau ayah di ada Rumah Sakit Bhayangkara karena bunuh diri. Saya menangis dan berlari menuju rumah sakit,” kata Faldi. “Semoga arwah Aiptu Fransisco diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan Penyayang. Semoga ia bahagia di Surga” Bunuh Diri Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda NTT, AKBP. Jules Abast, menjelaskan, Aiptu Fransisco diduga bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri dengan senjata api pada Selasa (6/6/17). Peristiwa ini, kata Jules, mulanya diketahui oleh saksi Saladin yang mendengar suara tembakan sekitar pukul 07.30 Wita di rumah Aiptu Fransisco. Saksi lalu bergegas memanggil tetangganya.

“Kemudian anggota Paminal Polres Kupang Kota bersama warga sekitar masuk ke dalam rumah dan mendobrak pintu kamar korban. Setelah berhasil membuka pintu, korban sudah tergeletak di atas tempat tidur dengan kondisi bersimbah darah di bagian kepala. Saat itu dia masih bernafas,” terangnya.

Senjata api yang digunakan untuk bunuh diri, ditemukan di lantai. Sementara saat itu, Aiptu Fransisco langsung dibawa ke RS Bhayangkara Kupang. Namun setelah sehari mendapat pertolongan medis, nyawa pria kelahiran Los Palos, Timor Leste itu tidak tertolong. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu (7/6/17) sore. (Dem/Ven/Aod)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.