
sergap.id, ATAMBUA – Semangat perjuangan dan euforia kemerdekaan membara di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 629 peserta turun ke jalan menaklukkan rute gerak jalan 45 kilometer dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut dilepas dari Desa Bauho, Kecamatan Tasifeto Timur, dan finis di Kota Atambua. Sebanyak 629 peserta terbagi dalam 37 regu, terdiri atas 15 regu putra pelajar SMA dan SMK serta 22 regu dari kalangan pemuda.
Lomba gerak jalan ini dimulai pada Rabu (12/8/2026) pukul 22.00 WITA dan pelepasan peserta berlangsung hingga Kamis (13/8/2026) dini hari, sekitar pukul 01.30 WITA.
Dalam sambutannya, Bupati Belu, Wily Lay, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, masyarakat, dan berbagai pihak yang ikut menyukseskan kegiatan tersebut. Ia menegaskan, gerak jalan 45 kilometer bukan sekadar perlombaan, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali semangat juang, nasionalisme, persatuan, dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang mengambil titik pelepasan di kawasan batas kota Kecamatan Raihat, tahun ini pemerintah memilih Desa Bauho, Kecamatan Tasifeto Timur, sebagai titik start. Perubahan lokasi tersebut sekaligus memberikan nuansa baru dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kabupaten Belu.
Suasana hangat semakin terasa dengan dukungan masyarakat setempat yang menyiapkan panggung dan berbagai fasilitas pendukung. Kreativitas peserta yang membawa sound system dan lighting membuat gerak jalan berubah menjadi pesta rakyat yang penuh energi, musik, dan sorak-sorai kemerdekaan.
Pemerintah Kabupaten Belu juga mendorong keterlibatan lebih besar unsur TNI, Polri, dan institusi terkait pada pelaksanaan tahun mendatang. Kehadiran mereka dinilai penting untuk memperkuat pesan bahwa kemerdekaan bukan sekadar sejarah, tetapi tanggung jawab yang harus terus dijaga oleh generasi penerus.
Menurutnya, kehadiran aparat keamanan bukan hanya untuk mengawal kegiatan, tetapi juga menjadi simbol semangat perjuangan dan motivasi bagi generasi muda untuk menjaga keutuhan NKRI.
“Semoga tahun depan TNI dan Polri dapat kembali berpartisipasi untuk memberikan semangat kepada anak-anak muda kita,” katanya.
-
Bukan Sekadar Gerak Jalan, Tetapi Napas Perjuangan
Di balik langkah kaki ratusan peserta, gerak jalan ini membawa pesan tentang perjuangan. Setiap kilometer menjadi simbol keteguhan, disiplin, persatuan, dan semangat pantang menyerah yang diwariskan para pejuang kepada generasi hari ini. Keringat yang jatuh di sepanjang perjalanan menjadi gambaran bahwa kemerdekaan tidak diraih dengan mudah, melainkan melalui pengorbanan dan perjuangan.
Pelaksanaan tahun ini juga menjadi bahan evaluasi pemerintah, salah satunya terkait waktu pelepasan peserta.
Pemerintah berencana mengubah waktu start pada tahun depan menjadi sekitar pukul 16.00 atau 17.00 WITA. Dengan demikian, peserta diperkirakan tiba di Kota Atambua sekitar tengah malam hingga dini hari.
Perubahan waktu tersebut diharapkan membuat kemeriahan gerak jalan semakin terasa dan dapat dinikmati masyarakat ketika peserta memasuki pusat Kota Atambua. Sorak-sorai warga, iringan musik, dan semangat para peserta diharapkan menjadi gambaran bahwa kemerdekaan layak dirayakan dengan penuh sukacita.
Pemerintah juga mengapresiasi kreativitas peserta yang membawa perangkat sound system dan lighting untuk memeriahkan perjalanan.
Sebelumnya, terdapat informasi bahwa peserta tidak diperkenankan membawa sound system dan lighting. Pemerintah kemudian menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan informasi tersebut.
-
Dari Jalan Raya Menuju Masa Depan
Di tengah semarak perayaan kemerdekaan, pemerintah juga menyampaikan kabar mengenai peluang masa depan bagi generasi muda Belu melalui kesempatan bekerja di Jepang.
Pemerintah akan membuka pendaftaran gelombang kedua bagi masyarakat yang berminat bekerja di Jepang setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Kesempatan tersebut terbuka bagi lulusan minimal SMA atau SMK dengan berbagai bidang pekerjaan yang tersedia.
Para pemuda yang berminat diminta mulai mempersiapkan diri, terutama dengan mempelajari bahasa Jepang.
“Karena ketika bekerja di Jepang, kita harus mampu menggunakan bahasa Jepang,” ungkapnya.
Pemerintah berharap program tersebut menjadi salah satu jalan bagi generasi muda Belu untuk meningkatkan keterampilan, memperoleh pengalaman, dan membuka akses terhadap lapangan kerja internasional.
Di akhir sambutannya, pemerintah meminta masukan dari peserta mengenai rute gerak jalan 45 kilometer tersebut. Jika rute baru dinilai terlalu berat, pemerintah membuka kemungkinan untuk kembali menggunakan rute sebelumnya.
“Kita coba dulu. Siapa tahu dengan rute yang sedikit menantang, adrenalin kita bertambah,” ujarnya disambut antusias peserta. (cs/cs)































