
sergap.id, KUPANG – Nama Yupiter Selan, SH, MHum, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Kupang, sempat melambung sebagai simbol harapan pada medio 2025. Di awal masa jabatannya, publik disuguhi deretan penindakan kasus korupsi yang menyasar berbagai lapisan—dari kepala desa, mantan kepala dinas, hingga pelaku proyek.
Penahanan demi penahanan menciptakan euforia. Yupiter dielu-elukan sebagai “pemburu koruptor” yang berani. Narasi kepahlawanan itu terbangun cepat—dan meluas. Namun, di balik gemuruh apresiasi, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana keberanian itu benar-benar menyentuh akar persoalan?
Yupiter pernah menegaskan bahwa dalam penegakan hukum, tidak ada perbedaan antara “ikan kecil” dan “ikan besar”. Pernyataan itu menjadi standar moral yang tinggi—sekaligus tolok ukur publik dalam menilai kinerjanya.
Di awal, komitmen itu tampak diuji. Penetapan tersangka terhadap sejumlah pejabat, termasuk mantan kepala dinas seperti Robert Amheka dan Johny Nomseo, memberi sinyal bahwa aparat tidak ragu menyasar aktor struktural. Namun seiring waktu, arah penegakan hukum justru memunculkan pola berbeda.
Penindakan terlihat berhenti di lapisan menengah. Sementara aktor-aktor yang diduga memiliki pengaruh lebih besar—termasuk kontraktor besar dan pemegang kendali proyek—justru tidak tersentuh.
Publik mulai membaca adanya “batas tak kasat mata”. Sejumlah proyek bermasalah menjadi sorotan, namun berakhir tanpa kejelasan hukum.
Kasus pembangunan Puskesmas Oesao, misalnya, disebut-sebut menimbulkan kerugian negara. Namun hingga kini, belum terlihat langkah tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab di level pengambil kebijakan.
Hal serupa terjadi pada proyek jalan Lapen Buraen–Erbaun. Dugaan penyimpangan mencuat, laporan telah masuk, tetapi proses hukum seakan berhenti di titik yang tidak transparan.
Fenomena ini memperkuat kesan bahwa penegakan hukum berjalan selektif—tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Aksi inspeksi mendadak (sidak) ke kawasan wisata Pantai Teres sempat menjadi panggung lain bagi Yupiter. Dengan gestur tegas, ia menyoroti berbagai kejanggalan pembangunan yang disebutnya “asal jadi”.
Namun setelah sorotan itu, publik tidak pernah mendapatkan kelanjutan yang konkret. Tidak ada tersangka, tidak ada proses hukum yang terbuka. Sidak itu kini lebih dikenang sebagai simbol—bukan solusi.
Sejumlah laporan dugaan korupsi yang telah disampaikan masyarakat hingga kini belum menunjukkan progres signifikan. Minimnya transparansi membuat publik sulit menilai apakah kasus-kasus tersebut benar-benar ditangani atau justru diendapkan.
Di tengah sorotan terhadap kinerjanya, Yupiter Selan juga diterpa isu serius di ranah personal. Ia dikabarkan menjalin hubungan dengan seorang perempuan berinisial M—isu yang kemudian viral di media sosial.
Merespons hal itu, Yupiter mengambil langkah hukum. Pada Minggu malam, 29 Maret 2026, ia resmi melaporkan akun TikTok “Lika Liku NTT” ke Polda NTT atas dugaan pencemaran nama baik.
Didampingi kuasa hukumnya, Fransisco Bernando Bessi, laporan tersebut menyoroti konten yang dinilai menyerang reputasi pribadi Yupiter dan mengganggu tugasnya sebagai aparat penegak hukum.
Pihak kuasa hukum dengan tegas membantah seluruh tuduhan tersebut dan menyebut isu perselingkuhan itu sebagai hoaks yang sengaja disebarkan untuk merusak kredibilitas kliennya.
“Ini bukan sekadar fitnah, tetapi upaya sistematis untuk membangun opini negatif di tengah proses hukum yang sedang berjalan,” ujar Fransisco.
Langkah hukum terhadap penyebar isu bisa dibaca sebagai upaya mempertahankan kehormatan pribadi. Namun di sisi lain, publik juga menanti hal yang lebih substansial: konsistensi dalam penegakan hukum.
Sebab pada akhirnya, integritas seorang aparat tidak hanya diuji oleh serangan dari luar, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga komitmen di dalam.
Apakah Yupiter Selan masih menjadi simbol keberanian melawan korupsi? Ataukah ia sedang menghadapi ujian terbesar dalam kariernya—ketika ekspektasi publik bertemu dengan realitas yang tak sepenuhnya sejalan?
Jawaban atas pertanyaan itu masih menggantung. Dan publik Kabupaten Kupang, hingga hari ini, masih menunggu—bukan sekadar aksi, tetapi ketegasan yang menyentuh semua lapisan, tanpa kecuali. (es/es)































