
sergap.id, ATAMBUA – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Belu mulai menguji coba mesin sumur bor hidrolik yang baru selesai diperbaiki. Uji coba dilakukan untuk memastikan mesin tersebut kembali berfungsi dengan baik sebelum digunakan dalam pekerjaan pengeboran sumber air bagi masyarakat.
Kepala Dinas PUPR Belu, Deddy H. Kin, mengatakan mesin tersebut sebelumnya mengalami kerusakan dan baru selesai diperbaiki oleh teknisi lepas (freelance) bernama Hence. Karena itu, pengujian perlu dilakukan untuk memastikan seluruh fungsi mesin berjalan normal sebelum digunakan di lapangan.
“Mesin itu baru kami perbaiki dan sudah baik. Kami sedang uji coba untuk memastikan mesinnya benar-benar berfungsi dengan baik,” tegas Deddy kepada SERGAP, Rabu (12/8/2026).
Deddy menjelaskan, berdasarkan identifikasi awal, salah satu lokasi yang direncanakan menjadi tempat uji coba adalah di kawasan Pasar Baru. Namun, rencana tersebut batal setelah pemilik lahan tidak memberikan izin.
PUPR kemudian mencari lokasi alternatif dan menemukan satu titik yang dinilai memiliki potensi air di wilayah Atambua Barat. Kebetulan, lahan tersebut merupakan milik Bupati Belu, Wily Lay, yang memberikan izin untuk digunakan sebagai lokasi uji coba.
Dalam proses uji coba, pengeboran telah mencapai kedalaman sekitar 30 meter. Sejauh ini, tanda-tanda keberadaan air mulai terlihat.
“Airnya belum dapat, tetapi potensinya sudah mulai kelihatan,” terangnya.
Deddy mengatakan, apabila mesin tersebut terbukti berfungsi dengan baik, PUPR Belu akan memanfaatkannya untuk mendukung kegiatan pengeboran sumber air bagi masyarakat.
Mesin tersebut nantinya dapat digunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan sumber air, tentunya berdasarkan hasil kajian teknis serta ketersediaan dan kelayakan lokasi.
Ia menambahkan, permintaan masyarakat terkait pembangunan sumur bor tetap terbuka untuk dipertimbangkan pemerintah daerah sesuai kebutuhan dan hasil kajian di lapangan.
-
Raimanuk Masih Jadi Wilayah Sulit Air
Deddy juga mengungkapkan, berdasarkan identifikasi PUPR Belu, terdapat sejumlah wilayah yang masih memiliki potensi sumber air cukup besar.
Salah satunya adalah kawasan Kabuna. Menurut dia, wilayah tersebut masih memiliki potensi air meskipun telah memasuki musim kemarau.
Sebaliknya, wilayah yang dinilai mengalami kesulitan air cukup parah berada di kawasan Raimanuk, terutama karena kondisi geografisnya yang berada di dataran tinggi.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, PUPR Belu telah menyiapkan rencana pembangunan sumur bor di sejumlah titik, salah satunya di Tasain.
-
Uji Coba Tidak Langsung di Lahan Masyarakat
Staf Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Belu, Yanto, menjelaskan pemilihan lokasi uji coba juga mempertimbangkan kemungkinan terjadinya kegagalan mesin.
Menurutnya, proses uji coba berbeda dengan pekerjaan pembangunan sumur bor sebagai proyek pemerintah.
Mesin yang baru selesai diperbaiki harus terlebih dahulu dipastikan kemampuan dan keandalannya sebelum digunakan untuk pekerjaan di lahan masyarakat.
“Dalam proses uji coba, kami mempertimbangkan kemungkinan terjadi kegagalan, termasuk kemungkinan mesin kembali mengalami masalah,” jelas Yanto.
Pertimbangan tersebut, kata Yanto, juga telah disampaikan kepada Bupati Belu. Sebagai instansi teknis, PUPR memahami bahwa jika uji coba langsung dilakukan di lahan masyarakat dan mengalami kegagalan, pemerintah maupun PUPR berpotensi dipersoalkan.
“Kalau uji coba langsung di masyarakat, kemudian gagal, pemerintah bisa disalahkan. Karena prinsipnya, ini memang uji coba dan bisa saja alat mengalami masalah,” ujarnya.
Karena itu, lokasi uji coba saat ini dipilih di lahan yang telah mendapatkan persetujuan pemilik untuk kepentingan pengujian.
Yanto memastikan proses uji coba sejauh ini berlangsung aman.
Dari sisi biaya, kebutuhan dana untuk uji coba pengeboran diperkirakan sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta, terutama untuk kebutuhan bahan bakar. Mesin tersebut dapat menghabiskan sekitar 40 liter bahan bakar per hari.
Uji coba tersebut menjadi langkah awal bagi PUPR Belu untuk memastikan mesin sumur bor yang telah diperbaiki benar-benar siap digunakan. Jika berhasil, mesin tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sarana pemerintah daerah dalam membuka akses sumber air bagi masyarakat, terutama di wilayah yang mengalami kesulitan air saat musim kemarau.
“Karena itu, uji coba sangat penting,” tegasnya.
Menurut Yanto, proses pengeboran sumur tidak selalu berhasil. Berdasarkan pengalaman di lapangan, terdapat pengeboran yang hasilnya bukan air bersih, melainkan gas atau air berlumpur.
-
Dua Titik Fulan Fehan Masih Menunggu Geolistrik
Sementara terkait sejumlah titik potensi air yang sebelumnya diidentifikasi tim Universitas Gadjah Mada (UGM), termasuk dua titik di kawasan Fulan Fehan, Yanto mengatakan pihaknya masih menunggu investigasi lanjutan menggunakan metode geolistrik.
Pemeriksaan geolistrik diperlukan untuk memastikan keberadaan lapisan bawah tanah yang berpotensi mengandung air sebelum pengeboran dilakukan.
“Kalau mempunyai potensi nyata, kita bisa menindaklanjutinya. Geolistrik itu untuk memastikan titik yang benar-benar mempunyai potensi air,” jelas Yanto.
Menurut Yanto, lama proses pengeboran sangat bergantung pada kondisi lapisan tanah yang ditemukan. Hasil pemeriksaan geolistrik juga tidak dapat menjamin secara mutlak kondisi lapisan bawah tanah.
“Semua tergantung lapisan yang ada. Hasil geolistrik tidak 100 persen. Keberhasilannya sekitar 90 persen saja. Jadi sebelum bor, kita harus benar-benar pastikan ketersediaan air bawah tanah,” katanya.
Ia mengatakan, proses pengeboran dapat berlangsung sekitar satu hingga dua minggu. Namun, durasinya sangat bergantung pada kondisi tanah serta kedalaman lapisan yang mengandung air.
-
Fulan Fehan Menanti Sumber Air
Sementara itu, Theo, salah seorang pemandu wisata Fulan Fehan, berharap dua titik yang telah diidentifikasi UGM bisa segera ditindaklanjuti dengan pengeboran.
Menurutnya, keberadaan sumber air akan memberikan manfaat bukan hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi aktivitas wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut.
“Kita harap bisa segera dibor,” ucap Theo singkat.
Fulan Fehan merupakan lembah di kaki Gunung Lakaan dengan hamparan sabana yang luas. Kawasan wisata tersebut berada di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, sekitar 26 kilometer dari Atambua, ibu kota Kabupaten Belu.
Kini, harapan terhadap dua titik air di Fulan Fehan masih menunggu hasil investigasi geolistrik. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan potensi air yang nyata, pengeboran diharapkan dapat segera dilakukan untuk mendukung kebutuhan masyarakat sekaligus menunjang aktivitas wisata di salah satu kawasan wisata andalan Kabupaten Belu. (re/re)































