
sergap.id, ATAMBUA – Di balik pidato kemerdekaan yang sarat jargon ketahanan pangan, Bupati Belu Willybrodus Lay, SH melempar target besar, mengubah pertanian, peternakan, dan perikanan masyarakat dari pola subsisten menjadi unit usaha produktif dan berkelanjutan.
Penegasan itu disampaikan Willy Lay dalam amanatnya pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Umum Atambua, Senin (17/8/2026) pagi.
Menurut dia, percepatan pembangunan akan ditopang APBD Kabupaten Belu, ditambah dukungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi NTT. Artinya, semakin besar program yang digelontorkan, semakin besar pula tuntutan publik terhadap ketepatan sasaran, pengawasan, keberlanjutan, dan hasil akhirnya.
Di sektor pertanian, pemerintah mendorong modernisasi melalui bantuan berbagai mesin pertanian, mulai dari traktor, pompa air, hand sprayer hingga cultivator.
Pembangunan jaringan irigasi dan jalan usaha tani juga terus didorong untuk memperluas lahan produktif sekaligus meningkatkan Indeks Pertanaman.
Pemerintah juga memastikan ketersediaan pupuk dan bibit serta mendorong penggunaan bibit lokal yang lebih adaptif terhadap iklim dan hama.
Sejumlah komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti porang, sengon, jambu mente, kelapa, kopi dan hortikultura terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi meningkatkan pendapatan petani.
Bukan hanya pertanian. Pemerintah Belu juga menggenjot sektor peternakan melalui bantuan berbasis kelompok berupa sapi, kambing, babi dan ayam, termasuk fasilitas kandang serta pakan.
Peningkatan mutu genetik dan produktivitas ternak dilakukan dengan memanfaatkan teknologi inseminasi buatan.
Sementara di sektor perikanan, dukungan diarahkan kepada nelayan dan pembudidaya melalui penyediaan sarana penangkapan ikan serta prasarana budidaya secara berkelanjutan.
-
Program Disinkronkan
Willy Lay secara khusus memberikan instruksi kepada para kepala desa agar dana ketahanan pangan desa tidak berjalan sendiri, tetapi disinergikan dengan program pertanian pemerintah kabupaten.
Ia meminta desa terus membuka lahan untuk pengembangan sengon dan porang, terutama pada lahan-lahan kritis yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Instruksi ini sekaligus menempatkan pengelolaan dana ketahanan pangan desa dalam sorotan. Ketika anggaran desa disinergikan dengan program kabupaten, transparansi perencanaan, penerima manfaat, pengadaan, distribusi, hingga hasil produksi menjadi bagian yang tidak boleh luput dari pengawasan publik.
“Dorong terus pembukaan lahan untuk penanaman sengon dan porang, agar lahan-lahan kritis desa dapat dimanfaatkan secara optimal sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat,” tegasnya.
Kepada dinas teknis dan para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Bupati meminta pendampingan teknologi ditingkatkan. Distribusi bibit dan pupuk juga harus diawasi agar tepat sasaran.
Tak hanya itu, distribusi pakan, bibit dan obat-obatan untuk ternak maupun ikan harus diatur dengan baik guna menekan angka kematian.
-
Dilarang Jual Bantuan Pemerintah
Willy Lay juga mengingatkan kelompok tani agar tidak menyalahgunakan bantuan pemerintah. Pesan ini menunjukkan satu persoalan penting, yakni aset program harus benar-benar bertahan sebagai modal produktif masyarakat, bukan berubah menjadi komoditas yang berpindah tangan.
Seluruh sarana bantuan harus dirawat dan dikelola sebagai aset bersama secara produktif, transparan, serta tidak diperjualbelikan.
Ia bahkan memberikan arahan teknis kepada petani porang dan sengon. Umbi porang berukuran 10 sentimeter ke atas dianjurkan untuk dijual karena lebih mudah diiris dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Sementara umbi berukuran di bawah 10 sentimeter dapat disimpan atau dimanfaatkan sebagai bibit.
Sengon, kata Willy, dapat berfungsi sebagai pohon peneduh bagi tanaman porang sekaligus memiliki nilai ekonomi ketika dipanen untuk bahan baku tripleks.
-
Tertib Ternak
Untuk sektor peternakan, Willy Lay meminta masyarakat menanam tanaman pakan berkualitas seperti odot, pakcong, king grass, lamtoro, Indigofera, turi dan sorgum.
Pakan yang melimpah pada musim hujan, katanya, jangan dibiarkan terbuang. Peternak didorong mengolahnya menjadi silase sebagai cadangan pakan fermentasi untuk menghadapi musim kering.
Willy juga menekankan pentingnya sistem penggembalaan yang tertib.
Seluruh ternak harus ditempatkan atau digembalakan di area yang dipagari dengan baik agar tidak merusak kebun maupun tanaman pangan milik warga. (re/re)
































