Donatus Jago
Donatus Jago bersama keluarganya di Desa Anakoli, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo.

sergap.id, ANAKOLI – Sebanyak tiga Kepala Keluarga (KK) dari Dusun Tana AU 4, Desa Ndiko Sapu, Kecamatan Lepembusu Kelisoke, Kabupaten Ende diusir oleh Mosalaki atau Ketua Lembaga Adat, dan Kepala Desa (Kades) setempat.

Donatus Jago, 50 tahun, bersama kakak dan adik kandungnya yang semuanya sudah berkeluarga, diusir karena mempertahankan tanah warisan mereka yang dicaplok secara sepihak oleh mosalaki dan kades yang kemudian dibagikan kepada keluarga mosalaki.

Selain diusir, rumah milik Tiga KK ini juga diobrak-abrik hingga rusak parah oleh Mosalaki bersama Kades, oknum anggota polisi, serta warga yang pro mosalaki.

Kini tiga KK itu telah mengungsi ke rumah Kristo Jape, salah satu saudara kandung mereka yang tinggal di Desa Anakoli, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo.

Donatus menjelaskan, pengusiran bermula ketika Mosalaki memberikan tanah miliknya kepada Yustina Nela dan Paulina Sida yang notabene adalah keluarga dekat Antonius Bewa yang menjabat sebagai Mosalaki Pu’u atau ketua lembaga adat tertua.

Tanah tersebut akan dibangun dua buah rumah untuk Yasinta dan Paulina.

“Tanggal 19 Desember 2019, saya bertemu mosalaki untuk menyampaikan keberatan. Karena tanah itu merupakan ahli waris dari orang tua saya. Mosalaki kemudian mengajak saya untuk bertemu dengan Yustina dan Paulina. Di pertemuan itu saya tetap pada pendirian bahwa di lokasi itu tidak boleh dibangun rumah. Saat saya sampaikan keberatan di depan Yustina dan Paulina, Mosalaki Pu’u diam saja. Anehnya, besok paginya tanggal 20 Desember 2019, mosalaki dan warga melakukan peletakan batu untuk bangun rumahnya Yasinta dan Paulina,” kata Donatus.

“Saat itu saya melakukan pencegahan. Tapi tidak di gubris oleh Mosalaki. Untuk menghindari konflik, akhirnya saat itu saya ke panggung tempat acara, karena hari itu ada 6 buah rumah yang proses letak batu secara bersamaan. Yang saya persoalkan hanya 2 lokasi karena itu adalah tanah ahli waris orang tua saya. Karena saya protes, Mosalaki Pu’u anggap saya ini pembangkang, makanya saya didenda kerbau 1 ekor. Kerbau itu untuk mosalaki. Tapi denda itu saya tidak penuhi, karena salah saya dimana? Kalau mosalaki yang didenda wajar, karena dia yang rampas saya punya tanah,” beber Donatus.

Rupanya masalah perampasan tanah dan denda tersebut menjadi pemicu hingga Donatus dan keluarganya diusir dari kampungnya.

“Saya kaget. Sepuluh bulan setelah masalah itu, tiba-tiba tanggal 13 Oktober 2020, mosalaki bersama anggota Polsek Detusoko, Pak Jonter dan Pak Kris, bersama Kepala Desa (Leonardus Lima) dan pegawai dari Kecamatan datang menyegel rumah kami. Saat itu kami tidak berada di rumah, kami lagi di kebun. Saat pulang kami kaget karena rumah sudah di segel. Saya tanya kepada tetangga, siapa yang segel ini? Lalu adik kandung saya yang bernama Viktorius Java bersama istrinya bilang, mosalaki bersama pegawai camat, kepala desa dan anggota polsek yang segel. Saya tahu nama-nama yang segel rumah saya itu dari adik kandung saya, karena dia yang lihat langsung. Karena rumah sudah disegel, saya terpaksa pulang dan tidur di kebun bersama anak dan istri saya,” papar Donatus.

Karena hak hidupnya dirampas, Donatus pun mengadukan persoalan tersebut ke Polres Ende dan tercatat dengan nomor laporan polisi: LP/07/Res 1.24/I/2021/ Polda NTT/Res.Ende, tanggal 6 Januari 2021.

“Yang melapor saya sendiri dan yang menerima laporan itu Pak Haruna Ismail. Tapi kasus yang kami lapor sampai hari ini belum diproses. Apakah karena kami ini orang kecil sehingga diperlakukan seperti ini,” tandas Donatus.

Pengakuan Donatus diamini oleh Apolonia Juni, 60 tahun, kakak kandung Donatus dan Yosep Jako, 48 tahun, adik kandung Donatus.

Menurut Apolonia, selain diusir, rumahnya juga diobrak-abrik oleh mosalaki bersama Kepala Desa dan oknum polisi.

“Pada saat itu mereka datang dalam jumlah massa yang cukup banyak. Mereka teriak, keluar kamu dari rumah. Saya kemudian diseret oleh Ketua BPD keluar dari rumah. Setelah saya diseret, mereka masuk dan melakukan pengerusakan. Pintu rumah saya dipukul pakai hamar, dinding dicungkil. Sebagai seorang perempuan, saya hanya bisa menangis. Saya tidak bisa buat banyak, karena mereka semua brutal,” ujar Apolinia.

“Setelah rumah kami dibongkar, pada malam harinya saya bersama Donatus dan anak istrinya pergi kampung Pisa, kebetulan di sana ada keluarga. Esok harinya, kami langsung ke sini ke Anakoli ini. Kami disini sudah 5 bulan. Saat kami datang kesini hanya pakaian di badan,” tambahnya.

Kini Tiga KK tersebut tinggal bersama Kristo Jape sekeluarga. Di rumah kecil itu Kristo Jape terpaksa harus berbagi tempat dengan 3 KK yang tak lain adalah saudara kandungnya.

“Kami susah pak. Kami 4 KK tinggal dalam rumah kecil ini, benar-benar sengsara,” ujar Apolonia.

Sementara itu, Yoseph Jako, mengatakan, sebelum terjadi kasus pengusiran dan pengrusakan rumah di kampungnya, ia bekerja sebagai buruh bangunan di Kalimantan Timur.

“Setelah mendapat kabar bahwa rumah kami dibongkar, saya langsung pulang kampung. Sampai di kampung, saya juga mereka perlakukan sama seperti kedua kakak saya. Saya bingung, kenapa tanah kami dirampas, kenapa rumah kami dibongkar, kenapa kami diusir keluar dari kampung. Apa salah kami,” ucapnya dengan suara lirih.

BACA JUGA: Diusir Gara-Gara Menghina Mosalaki, Polisi: Kita Proses, Tapi…

Kepala Desa Anakoli, Yoseoh Laka, mengaku, baru mengetahui ada warga Ende yang mengungsi ke desanya.

“Saya tidak keberatan mereka tinggal disini sampai masalah ini selesai. Saya akan bantu dengan cara saya untuk meringankan beban mereka. Mereka ini saudara kita yang wajib kita bantu,” katanya. (sg/sg)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here