Bupati Kabupaten Sikka, Fransiskus Roberto Diogo alias Roby Idong
Bupati Kabupaten Sikka, Fransiskus Roberto Diogo (Roby Idong).

sergap.id, MAUMERE – Bupati Kabupaten Sikka, Fransiskus Roberto Diogo alias Roby Idong diduga memukul dan menendang Kasat Pol PP Sikka, Adeodatus Buang Da Cunha bersama tiga anggota Satpol PP di rumah pribadinya di Desa Lepolima, Kecamatan Alok, Sikka, pada Rabu (24/3/21).

Kasus penganiayaan ini terungkap dalam rapat Pansus I DPRD Sikka yang berlangsung, Selasa (30/3/21) di Gedung DPRD Sikka.

Dalam rapat itu, Adeodatus menceritakan, tindak kekerasan yang ia alami bersama tiga anggotanya tersebut berawal ketika mereka dipanggil oleh Roby Idong ke rumah pribadinya yang terletak di lingkar luar Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka.

Ia bersama tiga anggotanya kemudian dimarahi Roby Idong karena menutup usaha warga yang tidak memiliki izin dan melakukan razia masker yang tidak humanis.

Dalam posisi berdiri, Adeodatus dan tiga anak buahnya dimarahi, dipukul dan ditendang.

Sayangnya, kasus ini tidak dilaporkan ke polisi. Karena Adeodatus menganggap penganiayaan yang ia alami tersebut sebagai tindakan pembinaan dari bupati kepada bawahannya.

Namun pimpinan rapat pansus, yakni Florensia Klowe, menyesalkan tindakan Roby Idong.

  • Diduga Gara-Gara Anak Bupati Kena Razia

Sebelumnya, Senin (22/3/21), Satpol PP bersama petugas gabungan menggelar razia masker di Jalan Ahmad Yani, Maumere, guna menjegah penyebaran Covid-19. Salah satu warga yang terkena razia adalah anak kandung Roby Idong

Saat melintas di lokasi razia, mobil yang dikemudi anaknya Roby Idong dihentikan petugas. Dia kemudian disuruh turun dari mobil untuk diberikan teguran.

Saat itu sempat terjadi ketegangan antara anak Roby Idong dengan petugas. Namun anak bupati itu tetap diharuskan mencuci tangan, dicek suhu tubuhnya, dan didata untuk diberi surat teguran.

Diduga karena masalah ini, Roby Idong lantas memanggil dan menganiaya Kasat Pol PP bersama tiga anggotanya.

  • Tindak Tegas

Koordinator TPDI & Advokat Peradi, Petrus Selestinus, meminta DPRD Sikka dan Kapolres Sikka proaktif mencermati dugaan penganiayaan tersebut.

“Ini sebuah kejadian yang sangat memalukan, merusak citra kepemimpinan di Sikka, sekarang dan di masa yang akan datang. Sikka sedang berduka, karena setelah mengalami buruknya managemen kelola anggaran hingga mengalami peristiwa defisit anggaran yang belum jelas pertanggungjawabannya, kini muncul peristiwa defisit kapasitas dan defisit modung yang mengancam terjadinya krisis kepemimpinan Sikka,” ujar Petrus kepada SERGAP, Rabu (31/3/21).

Kapolres Sikka, lanjut Petrus, harus bertindak tegas dan bersikap adil terhadap semua orang, apalagi perisitiwa penganiayaan itu sudah diketahui publik sebagai peristiwa yang melibatkan Robi Idong sebagai sebagai “pelaku tunggal” penganiayaan. Karena itu Polres Sikka harus proaktif, jangan tunggu Laporan Polisi (LP) dari pihak korban. Ini akan muncul gelombang protes dari masyarakat.

Karena peristiwa penganiayaan ini bukan persoalan sepele, tetapi ini sudah merusak citra kepemimpinan Institusi Pemda Sikka, karena Roby Idong telah mempertontonkan gaya kepemimpinan yang arogan dan congkak, yang dalam kasus ini demi membela keangkuhan putranya, konon tidak menerima ditindak akibat melanggar protokol covid-19, yakni abai menggunakan masker.

Publik Sikka mulai menghubungkan peristiwa saling menyandera untuk salng melindungi antara pimpinan Forkopimda Sikka, karena konon sebelumnya Satpol PP sempat merazia seorang pejabat Polres Sikka dalam operasi yustisi karena sedang dugem di Caffe dan sebagai balasannya Bupati menindak Satpol PP, sehingga kondisi ini akan merusak kohesivitas kerja Forkopimda Sikka.

Kapolres Sikka harus mengambil tindakan kepolisian terhadap Robi Idong, Bupati Sikka, beri dia status tersangka melalui suatu proses penyelidikan dan penyidikan untuk memastikan apakah peristiwa ini merupakan kejahatan atau masuk kategori pembinaan aparat sebagaimana didalilkan oleh Robi Idong. Apa kata dunia kalau masih ada metode pembinaan dengan tangan besi.

DPRD Sikka tidak boleh meremehkan kasus ini, tidak boleh hanya sekedar menyelipkan kasus penganiayaan aparat Satpol PP dan Damkar, sekedar ditanyakan dalam Rapat Pansus 1 LPKJ Akhir Tahun Anggaran 2021, tetapi seluruh Fraksi DPRD harus memiliki kesadaran bersama, mengagendakan Penggunaan Hak Angket, karena menyangkut perilaku buruk, tabiat (modung hemu) dalam kelanjutan kepemimpinan di Sikka.

Jika Kapolres Sikka dan unsur Forkopimda lainnya tidak mengambil sikap untuk mendorong ke arah proses hukum dengan mekanisme keadilan restoratif (restoratif justice), membiarkan Roby Idong dan Keluarganya dihakimi oleh jagad medsos, maka Pemda Sikka akan menghadapi gelombang aksi unjuk rasa menuntut Roby Idong diadili secara hukum dan diimpeach atau dimakzulkan.

Kepemimpinan Sikka era Roby Idong, susul menyusul dirundung musibah, bermula dari peristiwa “defisit mutu bangunan” Puskesmas Waigete” akibat ijonisasi proyek untuk dikorupsi, kemudian kasus aliran dana pembangunan Puskesmas Bola dalam penyidikan Kejaksaan Negeri Sikka, aksi tebar pesona ketika distribusi Dana BLT covid-19, pengadaan travo IGD RS. Hillers dengan mark-up harga Rp. 1,8 miliar dan sekarang aksi aniaya aparat Satpol PP dan Damkar Sikka.

Penganiayaan yang dialami oleh beberapa anggota Satpol PP dan Damkar Sikka, menggambarkan kualitas kepemimpinan Roby Idong sebenarnya sudah mentok sebatas Kepala Satpol PP, buktinya sudah menjadi Bupati-pun karakter Komandan Satpol PP masih melekat yaitu menganiaya aparat Satpol PP atas alasan pembinaan.

Praktek memukul aparat bawahan oleh seorang Bupati dilakukan di rumah pribadi Roby Idong, juga menggambarkan perilaku serakah, karena urusan Kantor, urusan Dinas, bahkan uruusan Negara ditarik masuk ke wilayah privat sebagaimana Roby Idong menelantarkan Rumah Jabatan Bupati menjadi penghuni maling dan lebih memilih tinggal di rumah pribadi.

Kondisi Sikka saat ini dirundung musibah dari Defisit Kapasitas ke Desifisit Anggaran dan sekarang Devisit Perilaku atau “Devisit Modung”, karena Bupati berani menganiaya Kepala Satpol PP dan anak buahnya sebagai balas dendam atas tindakan tegas Satpol PP menindak putranya karena melanggar protokol covid-19 yaitu lalai menggunakan masker.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan Roby Idong belum memberikan keterangan. Dihubungi SERGAP per telepon pada Rabu (31/3/21) siang, Roby tak menjawab. (sgo/red)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here