Decker di Dusun B Nuamuri,Desa Kotodirumali, yang sudah selesai dikerjakan, namun diminta untuk dibongkar kembali oleh Kepala Desa.

sergap.id, MBAY – Dugaan korupsi kembali terjadi di Desa Kotodirumali, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo.

Kali ini nyasar pada proyek pembuatan dua buah Decker di Dusun B Nuamuri.

Proyek ini bersumber dari Dana Desa (DD) tahun 2019 senilai Rp 36 909.000 dan dikerjakan oleh warga setempat.

Namun dalam perjalanan, Kepala Desa Kotodirumali Maternus Ma’u bersama Tenaga Pembuat Kebijakan (TPK) Yoakim Nuwa, menyuruh para pekerja untuk membongkar salah satu decker yang sudah jadi.

Alasannya, kualitas pekerjaan itu tidak sesuai spesifikasi sebagaimana yang tertuang dalam Rancangan Anggaran Biaya (RAB).

Seharusnya material campuran yang digunakan menggunakan kelikir dengan ukuran 3/5 centi meter sebanyak 4 meter kubik. Tapi dalam pelaksananya kerikil tidak dipakai.

Perintah pembongkaran tersebut langsung menuai protes dari pekerja. Mereka ogah mengikuti perintah Kades. Sebab menurut mereka, ini bukan kesalahan mereka, karena mereka sudah bekerja sesuai arahan TPK.

‘Ini bukan salah kami, kemarin yang suruh kerja mereka (TPK dan Kades), terus sekarang suruh bongkar lagi dengan alasan tidak sesuai RAB, kami tidak tahu kalau ternyata pakai kelikir, kami baru tau kalau pengerjanya sudah selasai 100 persen,” ungkap Gaspar Waja, salah satu pekerja, kepada SERGAP Selasa (22/10/2019).

Gaspar mengatakan, selama ini dia bersama pekerja lainya sudah mengikuti arahan TPK, dari awal kerja sampai deckernya selesai.

Kata dia, Kades Maternus sebenarnya tahu soal perihal tidak digunakannya kelikir dalam pekerjaan itu. Sebab saat pengerjaan terakhir Maternus juga ikut mengawasi.

“Waktu itu dia (Kades) juga ikut ngawas kami sampai malam pas plester itu deker, sampai jam 8 malam, saya masih ingat waktu itu dia bilang kalau kamu bisa selesaikan ini malam saya beli kamu rokok satu bungkus,” beber Gaspar meniru ucapan Maternus yang diamini Aris Goo perkerja lainya.

Sementara itu, salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengaku, semua pekerjaan fisik di Desa Kotadirumali sengaja dimainkan oleh TPK dan Kades untuk meraup untung dan masuk ke kantong pribadi.

“Aneh dengan pekerjaan di Desa Kotodirumali ini, kerja sudah selesai baru dikasi RAB, decker sudah jadi baru kasi turun material, padahal di dalam RAB harus ada kelikir, ini beruntung ada pemberitaan SERGAP sehingga tim turun periksa, kalau tidak, kelikir yang 4 kubik itu lenyap begitu saja,” paparnya.

Kepala Desa Kotodirumali  Maternus Mau saat dihubungi SERGAP per telepon membenarkan adanya rencana pembongkaran tersebut.

Maternus berdalih selama ini dia tidak mengetahui jika pekerjaan tersebut seharusnya menggunakan kelikir. Karena, kata dia, semua urusan pekerjaan decker sudah dipercayakan kepada Yoakim selaku TPK.

“Begini pak! ini saya mau cerita ini  e, saya ini kalau soal baca gambar, RAB itu saya agak kurang paham, saya sudah percaya semua ke TPK si Yoakim itu, saya kaget waktu ditelpon sama pendamping pak Erwin kalau itu tidak sesuai RAB. Kemarin saya sempat marah Yoakim di depan dia punya isteri, saya bilang kau ini, kau sudah tau ada kelikir kenapa kau suruh orang kerja,” katanya.

Maternus mengatakan, jika para pekerja tidak membongkar deker itu, maka pihaknya akan mengambil resiko, mulai dari biaya pengerjaan deker hingga upah tenaga kerja.

Sebab, untuk membangun kembali decker itu, Pemerintahan Desa Kotadirumali harus mengeluarkan lagi biaya sekitar 18 juta rupiah.

“Kalau memang mereka tidak bersedia bongkar ini resiko dan tanggung jawab kami bersama perangkat desa, ini prinsip, saya sudah bicara dengan perangkat desa,” pungkasnya. (sev/sev)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.