Wakil Bupati Kabupaten Lembata, Thomas Ola Langoday sedang bermain Gambus (salah alat muski tradisional Kabupaten Sikka) di Toko Sarung Adat Ina Kotin Mapitara di Blok A Nomor 3 Pasar Alok, Maumere, Sikka, Sabtu, 6 Juli 2019.

sergap.id, MAUMERE – Nusa Tenggara Timur merupakan Provinsi di Indonesia yang sangat kaya, tidak hanya wisata, bahasa atau kuliner saja, tetapi juga kain tenun tradisional. Salah satunya berasal dari Kabupaten Sikka.

Meski dibuat di kampung-kampung, namun kain tenun Sikka beragam motif dan memiliki nilai seni yang sangat tinggi.

Setiap orang yang memakai busana dengan bahan dasar kain ini akan selalu tampak anggun dan mempesona.

Itu sebabnya kain jenis ini, sekarang ini, paling diburu para desainer nasional, internasional, dan wisatawan pencinta kain tenun dari berbagai belahan dunia .

Di Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, kain bercorak adat Sikka ini mudah ditemui, salah satunya di Toko Sarung Adat Ina Kotin Mapitara yang berlokasi di Blok A Nomor 3 Pasar Alok.

“Yang belanja disini bukan hanya orang kita yang tinggal di NTT sini, tapi juga dari Bali, Surabaya, Jakarta dan lain sebagainya. Ada juga turis dari luar negeri,” beber pemilik Toko Kotin Mapitara, Tadeus Tara (66) kepada SERGAP, Sabtu (6/7/19) lalu.

Menurut Tadeus, kain-kain yang dijualnya didatangkan dari kampung-kampung yang berada di wilayah Sikka, serta karya pengrajin binaannya yang berjumlah tiga kelompok.

“Saya sudah lima tahun jual kain ini. Penghasilannya… ya kecil saja, paling rata-rata Rp 30 juta per bulan,” ujar Tadeus, merendah.

Selain menjual kain sarung tidur dan kain tenun untuh yang biasa dimanfaatkan untuk baju atau celana, Tadeus juga menjual berbagai kebutuhan lain yang berbahan dasar kain tenun Sikka, yakni tas, topi, dompet, kalung, dan berbagai alat musik tradisional Sikka seperti gambus, gendang, seruling, serta berbagai kebutuhan pernikahan adat Sikka, diantaranya Gading Gajah.

Sambil menunjuk deretan barang-barang jualannya, Tadeus mengaku, “Sejak kecil,,, saya sudah jual kain-kain ini. Sejak kecil (pula) saya belajar dan memahami setiap goresan kain. Saya belajar dari para tetua adat. Makanya saya memahami betul arti kain-kain ini, termasuk kualitas dan harganya”.

Tadeus menjelaskan, kain adat Sikka memiliki sejarah yang patut diketahui orang Sikka, baik yang tinggal di Sikka maupun di luar Sikka, bahwa pada zaman dahulu di Kecamatan Mapitara (Sikka) terdapat 3 orang perempuan bernama Du’a Hale, Du’a Koting dan Du’a Mehan.

Ketiganya diketahui sebagai orang pertama yang menanam kapas dan memanennya.

Setelah itu ketiganya bersama suami masing-masing menciptakan sejumlah peralatan tradisional, yakni:

Pertama, Ngeung atau Keho. Alat ini terbuat dari kayu. Keho berfungsi untuk memisahkan biji dengan kapasnya.

Kedua, Rabe. Alat ini berfungsi untuk membersihkan kapas yang sudah dipisahkan dari biji.

Ketiga, Ogor. Alat ini bentuknya bulat dan berfungsi untuk memintal kapas yang sudah dibersihkan.

Keempat, Jata Kapa. Alat ini berfungsi untuk memintal kapas menjadi benang.

Kelima, Kleo. Alat ini untuk menggulung (wolot) benang dari kapas.

Keenam, Kapa. Alat ini untuk menggulung benang (polen).

Ketujuh, Plapa. Alat ini untuk membuat motif, yakni Kapas yang sudah digulung membentuk motif dengan ragam hias.

Kedelapan, Unu Tanah (periuk tanah). Alat ini berfungsi untuk mencelupkan benang untuk diberi warna sesuai dengam bahan yang sudah dipadukan.

Kesembilan, Teteng Kapa. Alat ini berfungsi untuk melembekkan benang. Sehingga pada saat menenun, benangnya tidak putus, kendur, atau rusak.

Kesepuluh, membuat alat tenun, terdiri dari Goan Lorun, alat untuk merapikan tenun. Pine, alat untuk menopang bagian belakang penenun. Ai Bakat, alat penahan bagian depan penenun. Tuan, alat penahan kaki penenun. Pati, alat merapikan benang, serta alat Luncing tenun yakni Ekur, Bolen, Hawen, Lalan, dan Sipe.

Setelah semua alat itu dibuat, barulah tiga perempuan Mapitara itu melakukan proses tenun dan menghasillan selembar kain.

“Mereka mewarnai benang dengan bahan-bahan alami seperti daun dan akar mengkudu (warna merah), daun tarum (warna biru), kunyit (warna kuning), dan kulit mangga (warna hijau),” ucapnya.

Tadeus Tara

Menurut Tadeus, menenun adalah identitas perempuan Sikka. Sebab kemampuan menenun merupakan tanda bahwa si perempuan telah dewasa dan siap berkeluarga.

Selain itu, menenun juga merupakan satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukan perempuan-perempuan Sikka yang tidak sekolah dan tinggal di kampung-kampung, sekaligus sebagai sarana bagi mereka untuk menuangkan kreativitas masing-masing.

“Kain Sikka ini merupakan warisan nenek moyang yang sampai sekarang ini kita (kami) masih jaga dengan baik. Ini warisan besar dan berharga. Kita harus lestarikan,” ucapnya.

Toko Sarung Adat Ina Kotin Mapitara saat dikunjungi Wakil Bupati Kabupaten Lembata, Thomas Ola Langoday, Sabtu 6 Juli 2019.

Dikunjungi Wakil Bupati Lembata

Sabtu (6/7/19) siang, Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, terlihat berkunjung ke Toko Sarung Adat Ina Kotin Mapitara di Blok A Nomor 3 Pasar Alok, Maumere, Sikka.

Dia tampak membeli beberapa lembar selendang tenun Sikka, dan mencoba bermain gambus, salah satu alat musik tradisional Sikka yang dijual oleh Tadeus si pemilik Toko Kotin Mapitara.

Kepada SERGAP, mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang itu, mengaku, corak dan kualitas kain tenun Sikka sangat bagus.

“Rugi kalau datang ke Maumere, tapi pulang tidak bawa oleh-oleh kain Maumere (Sikka),” celetuknya sambil melempar senyum.

Selain Langoday, tampak pula seorang penenun kain adat Sikka sedang bertransaksi dengan Tadeus.

“Kadang seperti ini, ada penenun yang datang menjual kainnya ke saya. Saya beli. Setelah itu saya jual kembali,” kata Tadeus.

Semoga kain tenun Sikka makin diminati! (don/don)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.