Bupati Kabupaten Nagekeo, Johanes Don Bosco Do.

sergap.id, MBAY – Terus terang saya baru memahami apa itu literasi. Literasi mengajak kita untuk sejenak bertanya pada diri kita, kita sedang ada dimana dan mau kemana dalam persaingan global saat ini?

Demikian sambutan pembuka Bupati Kabupaten Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, saat membuka Festival Literasi di Lapangan Berdikari Mbay, Nagekeo, Jumat (27/9/19) malam.

Menurut Bupati, Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Nagekeo menempatkan pariwisata sebagai prime icon penggerak pembangunan.

“Pada saat yang sama kita diajak untuk melihat apa yang kita tawarkan kepada masyarakat dunia tentang NTT, tentang Nagekeo, tentang flores. Kita merenung dan melihat potensi yang kita miliki, mulai dari budaya dan hasil budaya itu sendiri,” katanya.

Salah satu peran  besar yang sedang kita lakukan saat ini, lanjut dia, adalah penggunaan produk kapitalis, yang sudah masuk ke ruang pribadi rumah tangga kita, yakni produk plastik.

Kita terpesona dengan produk ini dan sekarang kita sadar bahwa teknologi tidak cukup menyiapkan sarana untuk mengolah kembali ketika itu menjadi limbah, sementara pariwisata menghendaki lingkungan yang harus terawat.

NTT selain memiliki panorama dan sabana yang indah, kita juga menawarkan keindahan laut dan kekeyaannya.

Tapi ketika laut kita tercemar, ini ancaman terhadap industri pariwisata dan ancaman bagi terhadap kesejahteraan kita.

Karena itu, melalui ferstival yang kita selenggarakan selama tiga hari ini, kita diajak untuk mengikuti berbagai acara guna mengantar kita pada permenungan untuk mengenal diri kita dan daerah kita.

Saatnya kita mengambil kembali proses-proses produksi dari tangan-tangan kapitalis, mulai dari kantong plastik yang mengantikan bere (bakul), yang  mengantikan gombe (wadah penampung kepiting, udang, dll), yang mengantikan bola oka (tempat sirih pinang), dan yang mengantikan tikar pandan.

Kita mengembalikan proses produksi itu ke tangan-tangan orang kita.

Kita ingat kembali nenek kita, mama, dan saudari kita yang menanti sajian makan malam dengan tangan mereka terus sibuk menganyam.  Tapi pandangan itu saat ini tidak ada lagi. Kita patut mengembalikan pemandangan itu.

Kita ingin kembalikan juga produk tenun melalui kebijakan, sejak Bapak Musakabe (mantan Gubernur NTT) dulu kita sudah diingatkan kembali menggunakan tenun daerah. Dengan demikian kita memberi kembali rejeki kepada nenek, mama, saudari kita.

Industri pariwisata ini menuntut kita untuk menjadi pemain utama, pemasok utama dari kebutuhan kuliner.

Kita ingin agar semua fasilitas hotel, restoran mendapat pasokan dari produk-produk kita sendiri di NTT.

Kita akan bersama-sama menciptakan masyarakat ekonomi, kita bersama-sama mensuplai kebutuhan-kebutuhan yang kurang dari saudara-saudara kita di kabupaten lain, demikan sebaliknya saudara-saudara kita dari kabupaten lain menyediakan kebutuhan-kebutuhan kita.

Melalui tekad bela-beli Nagekeo, kita sukseskan Ferstival Literasi ini sehingga dari Nagekeo, NTT bercerita.

Arena Festival Literasi Nagekeo di Lapangan Berdikari Mbay, Nagekeo.

Sekali lagi mengapa kita mengunakan momentum ini untuk merenung? Momentum kita untuk menggali potensi kita. Momentum untuk mempertahankan harkat kita, dalam bahasa lokal disebut jaga waka.

Saatnya kita mendidik generasi-genarasi baru kita untuk belajar dan terus belajar. Melalui ferstival literasi ini kita mengajak, mendidik anak-anak kita untuk bisa menepis derasnya godaan melalui teknologi informasi yang kita miliki saat ini.

Sebab membangun ketahanan generassi kita adalah tanggung jawab kita. (bel/bel)

KOMENTAR SESUAI TOPIK DI ATAS

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.